Riset Databoks: Kelas Menengah Motor Pertumbuhan tapi Rentan Tertekan Ekonomi
Analisis media online yang dilakukan oleh Databoks pada 1 Januari 2025-20 Februari 2026 menunjukkan enam temuan utama dalam narasi media tentang kelas menengah. Salah satunya, kelas menengah diposisikan sebagai motor konsumsi namun rentan terhadap tekanan ekonomi.
Menurut tim Databoks, pemberitaan media sering mengaitkan kondisi kelas menengah dengan dinamika konsumsi rumah tangga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
"Perlambatan konsumsi kelompok ini dipandang sebagai indicator penting bagi stabilitas ekonomi nasional," kata tim Databoks dalam laporan bertajuk "Kelas Menengah di Ambang Kerentanan" yang merupakan hasil analisis sentimen di media sosial.
Kelas menengah didefinisikan sebagai rumah tangga yang memiliki pengeluaran Rp 8,5 juta-Rp 41,4 juta per bulan. Pada periode 2019 hingga 2025, jumlah kelas menengah menurun dari 57,3 juta jiwa menjadi sekitar 46,7 juta jiwa. Sebagian kelompok ini bergeser ke kelompok aspiring middle class.
Pada temuan kedua, analisis tim Databoks menunjukkan kenaikan biaya hidup menjadi isu utama yang menggerus stabilitas ekonomi rumah tangga. Inflasi pada Januari 2026 mencapai 3,55% secara tahunan (yoy). Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam delapan kuartal terakhir berada di bawah 5%. Hal ini mencerminkan pemulihan yang berlangsung bertahap di tengah tekanan Harga dan dinamika pasar tenaga kerja.
"Media menyoroti meningkatnya biaya pangan, pendidikan, kesehatan, dan perumahan yang semakin menekan daya beli kelas menengah dalam memenuhi kebutuhan jangka panjang," kata tim Databoks dalam riset tersebut.
Temuan ketiga, kelas menengah menghadapi tantangan utama dalam mobilitas ekonomi karena terbatasnya akses kepemilikan rumah. tim Databoks menyebut kenaikan harga properti dan keterbatasan akses pembiayaan perumahan membuat kelas menengah berada di posisi antara tidak memenuhi syarat subsidi dan kesulitan mengakses pasar properti komersial.
Pada temuan keempat, kebijakan jaminan kesehatan dipersepsikan berdampak langsung pada keuangan rumah tangga. Isu BPJS Kesehatan dan keberlanjutan pembiayaan system Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sering dikaitkan dengan kontribusi kelas menengah sebagai pembayar iuran yang menanggung Sebagian besar pembiayaan system Kesehatan nasional.
Temuan kelima, stabilitas pekerjaan diposisikan sebagai faktor penentu ketahanan kelas menengah. "Isu pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakpastian pasar kerja, dan perubahan struktur ketenagakerjaan sering dikaitkan dengan risiko penurunan status ekonomi rumah tangga kelas menengah," ujar tim Databoks.
Pada poin keenam, kelas menengah juga dipandang sebagai kelompok yang strategis dalam diskursus kebijakan ekonomi. Analisis tim Databoks menunjukkan media sering menempatkan kelas menengah dalam pembahasan kebijakan pajak, perlindungan sosial, serta strategi pertumbuhan ekonomi. Hal ini terkait dengan peran kelas menengah dalam kontribusi fiskal dan konsumsi domestik.
Pembicaraan di Medsos Didominasi Sentimen Negatif
Selama periode 1 Januari 2025-20 Februari 2026, analisis Databoks menunjukkan total percakapan di media sosial tentang kelas menengah didominasi sentimen negatif sebesar 51%.
"Pemberitaan media didominasi laporan tentang tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat, terutama terkait pelemahan daya beli akibat kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan dan ancaman PHK, serta stagnasi pendapatan," kata tim Databoks.
Hal lain yang menambah sentimen negatif adalah beban kebijakan pajak, persoalan pembiayaan layanan kesehatan (BPJS Kesehatan), dan kesulitan akses perumahan.
Sementara itu, sentimen positif ditunjukkan 28,9% pengguna media sosial.
"Pemberitaan media (yang mengundang sentimen positif) menunjukkan narasi mengenai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang terlihat dari pembahasan tentang penurunan kemiskinan dan ketimpangan, program bantuan pemerintah dan bantuan sosial, akses layanan kesehatan lewat BPJS, serta perlindungan pasien dan perlindungan konsumen dalam layanan publik," kata tim Databoks.
Adapun pengguna media sosial yang menunjukkan sentimen netral sebesar 20,2%.
Analisis ini dilakukan terhadap 6.928 artikel media pada periode Januari 2025-Februari 2026. Analisis menggunakan metode digital data collection di media online, Instagram, TikTok, dan X (Twitter) dengan total data mencapai 54.434.
