BI Catat Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 7.300 T pada Awal 2026

Agustiyanti
16 Maret 2026, 16:31
utang luar negeri, utang, ULN, BI
Unsplash
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia mencatat, utang luar negeri Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$ 434,7 miliar atau setara Rp 7.301 triliun (asumsi kurs Jisdor akhir Januari Rp 16.796 per dolar AS). Posisi ULN ini naik 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tetapi turun dibandingkan Desember 2025. 

Berdasarkan data BI, kenaikan ULN Indonesia pada awal tahun ini terutama didorong oleh penarikan utang pemerintah. ULN pemerintah pada Januari 2026 tercatat mencapai  US$216,3 miliar dolar AS, naik 5,6% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 5,5% (yoy). 

"Perkembangan ULN pada Januari 2026 dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah serta aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN)," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI ​Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Senin (16/3). 

Ia memastikan ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel. Utang pemerintah juga terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal serta memperkuat perekonomian nasional.

Berdasarkan sektor ekonominya, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa esehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah); administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,3%); jasa pendidikan (16,2%); konstruksi (11,6%); serta transportasi dan pergudangan (8,5%). Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah.

Di sisi lain, BI mencatat, ULN swasta menurun. Posisi ULN swasta mencapai sebesar US$ 193,0 miliar pada Januari 2026, menurun dibandingkan akhir tahun lalu sebesar US$ 194 miliar . Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,7% (yoy) pada Januari 2026, lebih dalam dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0,2% (yoy).

Penurunan posisi ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations). Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,1% terhadap total ULN swasta. ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,2% terhadap total ULN swasta.

BI juga memastikan struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun dari 29,9% pada akhir tahun lalu menjadi 29,6% pada Januari 2026.

Selaun itu, ULN juga didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,6% dari total ULN.  Bank Indonesia juga memastikan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam pemantauan perkembangan ULN.

"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," ujar Denny.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...