IMF Identifikasi Calon Pasien Baru Dampak Perang Iran-AS

Andi M. Arief
26 Maret 2026, 12:54
imf, pasien imf, iran
ANTARA FOTO/Media Center G20 Indonesia/Zabur Karuru/nym.
Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyampaikan pandangannya saat Working Session 3 KTT G20 Indonesia 2022 di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/11/2022).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dana Moneter Internasional atau IMF sedang mengidentifikasi negara mana yang akan menjadi pasien barunya. Hal tersebut dilakukan mengantisipasi dampak perang di Asia Barat.

Departemen Kajian, Kebijakan, dan Strategi IMF telah menanyakan perwakilan di setiap negara terkait kemungkinan pasien baru. Penilaian potensi pasien baru akan berfokus pada program pembiayaan aktif di setiap negara potensial.

"Managing Director IMF Kristalina Georgieva mengatakan dalam dunia yang tidak pasti, banyak negara yang meminta bantuan pendanaan dan sisi penyedia dana siap membantu sepanjang dibutuhkan," kata seorang analis di IMF seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (26/3).

Berdasarkan laman resmi IMF, ada 85 negara yang menjadi debitur dengan total nilai US$ 121,21 miliar. Sedangkan Indonesia telah melunasi pinjaman dari IMF senilai US$ 11,11 miliar pada 2006.

Dari 85 negara yang menjadi pasien IMF, baru 19 negara yang melakukan pembayaran utang hingga Rabu (25/3). Sementara itu, hanya ada satu negara yang melunasi utangnya kepada IMF hingga kemarin, yakni Mozambik dengan utang senilai US$ 514,04 juta.

Adapun negara dengan nilai utang paling tinggi ke IMF adalah Argentina senilai US$ 41,78 miliar, sedangkan paling rendah adalah Kepulauan Solomon senilai US$ 6,22 juta.IMF memiliki kemampuan untuk menyalurkan dana hingga US$ 1 triliun.

Georgieva mengatakan IMF telah menyalurkan dana sekitar US$ 166 miliar sejak didirikan. Seperti diketahui, IMF akan mengeluarkan prediksi pertumbuhan ekonomi global terbaru pada bulan depan, Senin (13/4).

Sebelum konflik di Asia Barat, ramalan pertumbuhan ekonomi global IMF pada tahun ini naik dari 3,1% pada Oktober 2025 menjadi 3,3% pada Februari 2026. Namun Georgieva mewaspadai melesetnya prediksi tersebut akibat tensi geopolitik.

Georgieva menilai beberapa negara yang berpotensi menjadi pasien baru kantornya merupakan negara kepulauan di Samudera Pasifik. Sebab, negara-negara tersebut umumnya berpendapatan rendah dengan level utang tinggi dan berada di ujung rantai pasok minyak mentah global.

"Saran kami ke semua anggota IMF adalah bertindak tegas untuk mengatur pemerintahan sebaik mungkin di tengah tingginya ketidakpastian global," katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...