Rupiah Diprediksi Tertekan, Bergerak di Kisaran 16.950–17.050 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, seiring sentimen pasar global yang cenderung negatif.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko global dan mendorong penguatan dolar AS.
“Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh sentimen pasar yang umumnya masih negatif dan harga minyak yang terus naik akibat eskalasi di Timur Tengah,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Selasa (31/3).
Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka ke level Rp 16.995 per dolar AS menguat 0,04% atau 7 poin. Hingga pukul 09.20 WIB Rupiah pun perlahan bergerak naik ke level 16.994 per dolar AS menguat 0,05% atau 8 poin.
Pada penutupan perdagangan Senin (30/3), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup di level di level Rp 17.002 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,13% dibanding penutupan Jumat (27/3/2026) di Rp 16.980 per dolar AS.
Mdemikian, Lukman menilai pelemahan rupiah berpotensi terbatas. Hal ini didukung oleh pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, serta sejumlah pejabat bank sentral AS, termasuk Christopher Waller.
Sikap tersebut memberikan sedikit ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menahan tekanan lebih dalam.
Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang terbatas di kisaran 16.950 hingga 17.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
