Utang Luar Negeri RI Capai Rp 7.488 T, Pinjaman dari Cina Naik Paling Tinggi

Image title
16 April 2026, 14:01
utang luar negeri, ULN, pinjaman cina
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/foc.
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia mencatat, utang luar negeri atau ULN Indonesia hingga Februari 2026 mencapai US$ 437,9 miliar atau setara Rp 7.488 triliun dengan asumsi kurs 17.100 per dolar AS. Jumlahnya meningkat dibandingkan bulan lalu maupun periode yang sama tahun lalu. 

“Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7% (yoy),” kata BI dalam rilis resminya.

Berdasarkan kreditor menurut negara, utang dari Cina tercatat naik paling tinggi mencapai 8,4% secara tahunan menjadi US$ 25,57 miliar. Di sisi lain, pinjaan dari Singapura yang masih tercatat paling besar, turun tipis dari US$ 56,06 miliar menjadi US$ 53,96 miliar. 

Adapun kanaikan ULN secara keseluruhan terutama didorong oleh pinjaman sektor publik khususnya, bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Kenaikan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Ini sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.

Kenaikan juga terjadi pada ULN pemerintah yang naik secara tahunan mencapai 5,5% menjadi US$ 215,9 miliar. Namun, pertumbuhan ULN pemerintah pada bulan lalu lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,6% (yoy). 

“Perkembangan posisi ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang,” demikian penjelasan BI.

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 22,0% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,6%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%). 

“Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah,” katanya.

Di sisi lain, posisi ULN swasta turun 0,7% secara tahunan menjadi US$ 193,7 miliar. Perkembangan ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations)  yang masing-masing turun 2,8% (yoy) dan 0,2% (yoy).  

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3% terhadap total ULN swasta. 

ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0% terhadap total ULN swasta. 

Menurut BI struktur ULN Indonesia sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,8%, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,9% dari total ULN. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...