Dunia Kehilangan Produksi Minyak Rp 860 T Akibat Perang, Efeknya Bertahun-tahun
Menurut data Kpler, sejak perang pecah pada akhir Februari, lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat telah hilang dari pasar global. Ini adalah gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Analis utama di Wood Mackenzie, Iain Mowat menjelaskan, 500 juta barel minyak yang hilang dari pasar ini setara dengan kebutuhan bahan bakar untuk penerbangan global selama 10 pekan, tidak adanya perjalanan darat oleh kendaraan apa pun di seluruh dunia selama 11 hari, atau tidak ada minyak untuk ekonomi global selama lima hari
Sedangkan menurut perkiraan Reuters, jumlah ini setara dengan hampir satu bulan kebutuhan minyak di Amerika Serikat, atau lebih dari satu bulan minyak untuk seluruh Eropa. Jumlah ini juga dapat disetarakan dengan konsumsi bahan bakar untuk militer AS selama enam tahun dan cukup untuk menjalankan industri pelayaran internasional dunia selama sekitar empat bulan.
Apa yang terjadi?
Negara-negara Teluk Arab kehilangan produksi minyak mentah sekitar 8 juta barel per hari pada Maret, hampir setara dengan gabungan produksi Exxon Mobil (XOM.N) dan Chevron (CVX.N), dua perusahaan minyak terbesar di dunia.
Ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman turun dari sekitar 19,6 juta barel pada bulan Februari, menjadi hanya 4,1 juta barel untuk bulan Maret dan April sejauh ini berdasarkan data Kpler. Kerugian ekspor tersebut cukup untuk sekitar 20.000 penerbangan pulang pergi antara bandara JFK New York dan London Heathrow.
Analis minyak mentah senior di Kpler Johannes Rauball menyebut, volume yang hilang tersebut mewakili kerugian pendapatan sekitar US$ 50 miliar dengan rata-rata harga minyak mentah rata-rata sekitar US$ 100 per barel sejak perang terjadi. Itu setara dengan pengurangan 1% dalam produk domestik bruto tahunan Jerman, atau kira-kira seluruh PDB negara-negara kecil seperti Latvia atau Estonia.
Pemulihan Butuh Bertahun-tahun
Meskipun Menteri Luar Negeri Iran Araqchi mengatakan Selat Hormuz telah terbuka, pemulihan produksi dan aliran diperkirakan akan lambat. Persediaan minyak mentah darat global telah turun sekitar 45 juta barel sejauh ini pada April. Sejak akhir Maret, gangguan produksi telah mencapai sekitar 12 juta barel per hari.
Ladang minyak mentah di Kuwait dan Irak mungkin membutuhkan waktu empat hingga lima bulan untuk kembali ke tingkat operasi normal. Hal ini, menurut Reuall akan memperpanjang kondisi kekurangan stok hingga musim panas.
Kerusakan pada kapasitas penyulingan dan kompleks LNG Ras Laffan Qatar juga menambah kompleksitas produksi minyak di regonal. Perbaikannya diperkirakan akan membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.
