BI Ramal Ekonomi Global Memburuk, RI Masih Mampu Tumbuh 4,9%-5,7%
Bank Indonesia memperkirakan, prospek perekonomian global memburuk pada tahun ini seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam rentang 4,9% hingga 5,7%.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kondisi di Timur Tengah berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dunia, mendorong harga minyak dan komoditas serta menganggu rantai pasok.
“Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 makin melambat menjadi 3% dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,1%,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI 21-22 April, Rabu (22/4).
BI juga memperkirakan, inflasi global meningkat dari 4,1% menjadi 4,2%. Hal ini, menurut Perry, mempersempit ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk di negara maju.
Penurunan suku bunga acuan The Fed atau Fed Fund Rate diperkirakan tertunda atau bertahan hingga akhir 2026. Sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury terus meningkat, dipicu oleh pelebaran defisit fiskal termasuk pembiayaan sektor militer.
Di pasar keuangan global, aliran modal cenderung beralih ke aset aman (safe haven), terutama ke pasar keuangan Amerika Serikat. Penguatan indeks dolar AS (DXY) menekan mata uang negara berkembang, seiring meningkatnya preferensi investor terhadap aset berisiko rendah dalam fenomena flight to safety.
Di tengah tekanan global tersebut, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7%.
Kinerja neraca pembayaran Indonesia juga dinilai perlu terus diperkuat guna memitigasi dampak berlanjutnya konflik global.
Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi tetap didorong oleh permintaan dalam negeri. Konsumsi rumah tangga menunjukkan peningkatan, didukung oleh kepercayaan pelaku ekonomi, pendapatan yang relatif stabil, serta lonjakan permintaan selama perayaan Idul Fitri 1447 H.
Belanja pemerintah turut meningkat seiring penyaluran berbagai program sosial, insentif ekonomi, serta transfer ke daerah. Sementara itu, investasi khususnya di sektor bangunan tetap tumbuh positif, didorong oleh percepatan proyek-proyek prioritas pemerintah.
