Kredit Seret, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Diramal Loyo ke 5,1%
Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua diramal hanya akan mencapai 5,1% secara tahunan, melambat dibandingkan ramalan kinerja ekonomi tiga bulan pertama tahun ini yang mencapai 5,4%. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Eko Listiyanto melihat perlambatan pertumbuhan ini seiring penyaluran kredit yang seret dan momentum Ramadan dan Idul Fitri yang telah berakhir.
“Dengan situasi kredit yang masih di bawah dua digit, angka paling fair untuk triwulan kedua itu mungkin 5,1%,” ujar Eko di Jakarta, Kamis (30/4).
Eko menjelaskan, kinerja ekonomi kuartal I 2026 terdongkrak oleh konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri sehingga mampu mengangkat ekonomi tumbuh 5,4%, Namun memasuki kuartal II, dorongan tersebut tak ada lagi.
Pada kuartal kedua ini, menurut dia, hanya ada momentum Iduladha yang secara historis berdampak lebih kecil terhadap konsumsi masyarakat. Akibatnya, ruang untuk mempertahankan pertumbuhan di level yang sama terbatas.
Di luar faktor musiman, Eko menegaskan bahwa perlambatan justru bisa dilihat dari sektor perbankan, Pertumbuhan kredit yang belum menunjukkan akselerasi yang berarti.
Hingga Februari 2026, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,3% secara tahunan, melambat dibandingkan Januari yang mencapai 9,6% . Kinerja ini juga masih berada di bawah target industri perbankan di kisaran 10–12%.
Menurut dia, terdapat hubungan yang kuat antara laju pertumbuhan kredit dan produk domestik bruto (PDB). Ketika kredit tumbuh tinggi, ekonomi cenderung ikut menguat karena adanya ekspansi usaha dan peningkatan konsumsi. Sebaliknya, ketika kredit melambat, aktivitas ekonomi juga cenderung tertahan.
“Rasionalitasnya ada di kredit. Kalau kreditnya masih rendah, maka pertumbuhan ekonomi juga akan mengikuti,” kata Eko.
Ia menilai, pertumbuhan kredit yang masih berada di bawah level dua digit mencerminkan kehati-hatian perbankan sekaligus lemahnya permintaan pembiayaan dari sektor riil. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pemulihan dan ekspansi ekonomi belum cukup solid.
Eko juga menyoroti kondisi kredit yang moderat bahkan cenderung melemah di awal tahun, akan sulit bagi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi seperti yang diharapkan pemerintah.
“Agak sulit membayangkan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,4% sepanjang tahun, apalagi 6%, kalau laju kreditnya masih di kisaran seperti sekarang,” ujarnya.
Indef memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 mencapai 5,4% dan masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini sebesar 5%. Proyeksi tersebut dinilai lebih realistis dengan mempertimbangkan kondisi fundamental, terutama dari sisi sektor keuangan.
