Rupiah Dibayangi Konflik AS-Iran, Pasar Nantikan Rilis Cadangan Devisa RI
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan melemah terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Sentimen pasar dipengaruhi rebound dolar AS menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipicu insiden saling baku tembak antara kapal AS dan Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran pasar global.
“Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi melemah terhadap dolar AS yang rebound menyusul insiden saling baku tembak antara kapal AS dan Iran,” ujar Lukman kepada Katadata, Jumat (8/5).
Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.339 per dolar AS menguat 0,07% atau 12 poin. Hingga pukul 09.07 WIB Rupiah kian melemah di Rp 17.361 per dolar AS turun 0,16% atau 28 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup menguat 54 point sebelumnya sempat menguat 60 point dilevel Rp 17.333 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.387.
Meski demikian, ia menilai tekanan terhadap rupiah masih akan terbatas. Pasalnya, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa gencatan senjata antara kedua pihak masih berlaku.
Selain itu, investor juga masih bersikap wait and see sambil menantikan respons Iran terhadap proposal kesepakatan damai yang diajukan pemerintah AS.
Menurut Lukman, fokus pasar hari ini juga tertuju pada sejumlah data ekonomi penting. Dari dalam negeri, pelaku pasar menanti rilis data cadangan devisa Indonesia yang dinilai akan menjadi indikator ketahanan eksternal ekonomi nasional.
Sementara dari Amerika Serikat, investor menunggu data ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) yang kerap menjadi acuan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve System. Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS.
