Rupiah Terancam Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS, Ini Pemicu Utamanya
Nilai tukar rupiah semakin mendekati level 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah di level 17.885 pada perdagangan hari ini, Kamis (28/5). Pengamat menilai rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan ke level 17.900 hingga sore ini.
Pada perdagangan pukul 14.14 WIB, rupiah melemah 0,25% atau turun 44,50 poin ke level 17.845 per dolar AS. Pengamat mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu sentimen eksternal sehingga mendorong investor berinvestasi di aset safe haven seperti dolar AS.
“Pembukaan pasar besok di hari Jumat, rupiah akan mendekati level 18.000 (per dolar AS). Kemungkinan besar,” kata Ibrahim dalam keterangannya dikutip Kamis (28/5).
Menurut Ibrahim, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Eskalasi setelah AS melakukan serangan terhadap instalasi di Iran selatan yang berpotensi memicu balasan dari Teheran.
Ibrahim turut menyoroti meningkatnya risiko konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, termasuk ancaman terhadap jalur perdagangan energi global di Selat Hormuz. Kondisi itu menyebabkan kenaikan harga minyak dunia. Hari ini minya mentah naik ke level US$ 91,16 per barel.
“Masalah yang pertama adalah harga minyak yang naik cukup tinggi kemudian kebutuhan dolar yang tinggi akibat impor minyak yang cukup besar,” kata dia.
Dari sisi global, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve. Ibrahim mengatakan sebagian ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun, bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga. Sentimen itu memperkuat indeks dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen lainnya berasal dari dalam negeri. Pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen hingga pembayaran utang jatuh tempo.
Selain itu, arus keluar modal asing juga dipicu kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan tata kelola sejumlah program pemerintah.
Meski Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas, Ibrahim menilai tekanan eksternal dan internal yang besar membuat rupiah masih rentan melemah dalam jangka pendek.
Sedangkan Bank Indonesia menyebut faktor musiman seperti pembayaran dividen perusahaan, repatriasi dana, serta tingginya kebutuhan valuta asing selama musim haji menjadi salah satu faktor yang melemahkan rupiah.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan sentimen global memang menjadi faktor dominan yang menekan rupiah. Menurutnya, ketidakpastian global yang belum mereda membuat banyak mata uang dunia ikut mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga diperkuat faktor musiman di pertengahan tahun yang meningkatkan kebutuhan dolar AS di dalam negeri. “Memang ada kebutuhan dolar yang sangat tinggi,” kata Destry pada Selasa (26/5).
Namun, Destry menyebut secara fundamental kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat. Ia mencontohkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 yang mencapai sekitar 5,6% dan menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan.
Selain itu, indeks keyakinan konsumen atau Consumer Confidence Index juga disebut mengalami peningkatan yang menunjukkan daya beli dan optimisme masyarakat masih terjaga. BI juga melihat perbaikan pada penjualan sejumlah korporasi berdasarkan analisis yang lebih rinci.
