Impor Melonjak pada April, RI Makin Kebanjiran Barang dari Cina
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 sebesar US$ 86,51 miliar, naik 13,40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor paling banyak masih berasal dari Cina.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menuturkan, penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas senilai US$ 73,58 miliar, naik 12,70% secara tahunan. Sedangkan impor migas tercatat US$ 12,93 miliar atau naik 17,58%.
“Sepanjang Januari hingga April 2026, tiga besar negara asal impor adalah Tiongkok, Jepang, dan Australia,” kata Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6).
Ia menjelaskan, kontribusi impor dari ketiga negara tersebut mencapai lebih dari setengah total impor nonmigas Indonesia atau mencapai 53,12%. Cina menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$ 30,79 miliar atau sekitar 41,84%, kemudian diikuti Jepang dengan nilai US$ 4,15 miliar atau 5,64%, dan Australia US$ 4,15 miliar atau 5,64%.
Impor nonmigas dari Cina terutama berupa mesin/peralatan mekanis dan bagiannya mencapai US$ 6,925 juta, mesin/perlengkapan elektronik dan bagiannya sebesar US$ 6,748 juta, dan plastik dan barang dari plastik sebesar US$ 1,697 juta.
BPS mencatat, secara keseluruhan, kenaikan impor pada Januari-April 2026 terjadi pada kelomp barang modal, bahan baku/penolong, maupun barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong masih mendominasi mencapai US$ 61,82 miliar atau naik 11,67%. Sedangkan, nilai impor barang modal mencapai US$ 17,11 miliar atau naik 19,02%. Adapun impor barang konsumsi tercatat US$ 7,58 miliar, atau naik 15,68%.
Defisit Perdagangan Terbesar dengan Cina
Cina juga menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Pada Januari-April 2026, total ekspor nonmigas Indonesia ke Cina mencapai US$ 22,76 miliar atau 22,59% dari total ekspor nonmigas Indonesia.
Adapun secara keseluruhan, Indonesia mencatatkan defisit perdagangan dengan Cina mencapai US$ 6,28 miliar pada Januari-April 2026. Sedangkan untuk komoditas nonmigas, defisit perdagangan mencapai US$ 6,9 miliar.
Belakangan, nilai tukar rupiah tak hanya melemah terhadap dolar AS, tetapi sejumlah mata uang regional lainnya. Salah satu pelemahan terdalam terjadi pada kurs rupiah terhadap yuan Cina yang hampir mencapai 11% sepanjang 2026.
Sebelumnya, pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah terhadap yuan perlu diwaspadai mengingat hubungan dagang Indonesia dengan Cina sangat besar, khususnya di sektor ekspor dan impor.
“Rupiah bukan saja melemah terhadap mata uang lain seperti dolar Singapura, ringgit, euro, maupun poundsterling. Terhadap yuan juga mengalami pelemahan,” ujar Ibrahim kepada Katadata, Selasa (26/5).
Menurut dia, kondisi ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah ikut tertekan. Namun dampak pelemahan rupiah terhadap yuan berpotensi lebih berat karena tingginya ketergantungan impor Indonesia dari Cina.
Ia memperkirakan dampak pelemahan rupiah terhadap yuan mulai terasa pada semester II tahun ini, terutama terhadap kenaikan harga barang impor asal Cina. “Di semester ke-2 kemungkinan besar bahwa akan terjadi ya dampaknya. Bisa saja ini akan berpengaruh terhadap kenaikan harga-harga barang dari Tiongkok,” katanya.
Senada, Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan depresiasi rupiah terhadap yuan berpotensi memicu imported inflation atau inflasi dari harga barang impor.
“Banyak barang konsumsi, bahan baku, mesin hingga komponen industri Indonesia masih bergantung pada impor dari China,” kata Lukman.
Ia menilai, ada sejumlah barang yang berpotensi mengalami kenaikan harga, seperti elektronik dan gadge, barang rumah tangga impor, tekstil dan produk pakaian, bahan kimia industri, sparepart otomotif, serta komponen kendaraan listrik (EV).
Lukman menambahkan, dampak inflasi kemungkinan terjadi secara bertahap karena persaingan pasar domestik masih cukup ketat. Selain itu, pemerintah juga dinilai masih menjaga stabilitas harga pangan dan energi agar inflasi tetap terkendali.
