Rupiah Melemah Lagi ke Level Rp 18.100 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp 18.106 per dolar AS pada Senin pagi (8/6), berdasarkan data Bloomberg. Mata uang Garuda diproyeksikan masih berada dalam tekanan, karena dolar AS menguat dan ketidakpastian global meningkat.
Pada pukul 09.10 WIB, rupiah bahkan melorot ke level Rp 18.111 per dolar AS atau melemah 0,42%. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 18.036 per dolar AS.
“Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan,” ujar Analis Doo Financial Lukman Leong, Senin (8/6).
Selain faktor ekonomi AS, Lukman menilai eskalasi baru konflik di Timur Tengah memperkuat permintaan aset safe haven seperti dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Menurut dia, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS.
Sementara itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana memperkirakan rupiah masih berpotensi terdepresiasi tipis hingga ke level Rp 18.040 per dolar AS.
Ia mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi naik turunnya sentimen global yang membuat investor cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko. “Kemungkinan terdepresiasi tipis ke 18.040 per USD,” ujar Fikri.
Selain itu, tekanan terhadap rupiah datang dari masih berlanjutnya aksi jual bersih (net sell) dan arus keluar modal asing (capital outflow) di pasar keuangan domestik.
Meski demikian, Fikri menilai kondisi fiskal Indonesia sejauh ini masih relatif terjaga. Namun pasar mulai mencermati adanya ekspektasi dari OECD terkait potensi kenaikan defisit fiskal Indonesia menjadi 3,0% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sentimen tersebut dinilai dapat memengaruhi persepsi investor terhadap aset domestik, terutama di tengah tingginya volatilitas pasar global dan pelemahan rupiah yang sudah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir.
