Rupiah Diperkirakan Kembali Tembus Rp 18 Ribu per Dolar AS Hari Ini

Image title
25 Juni 2026, 09:39
rupiah, dolar, nilai tukar
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pelem,ahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dikutip dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.967 per dolar AS melemah 0,08% atau 15 poin. Hingga pukul 09.20 WIB, rupiah sempat menguat di level Rp 17.958 per dolar AS naik 0,03% atau 6 poin.

Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup Rp 17.952 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,52% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 17.854 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah diperkirakan melanjutkan pelemahan terhadap dolar pada perdagangan hari ini, seiring menguatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

 Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. 

Menurutnya, meningkatnya keyakinan pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed telah mendorong indeks dolar AS naik ke level tertinggi dalam 13 bulan terakhir.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah semakin meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed, membawa indeks dolar AS naik mencapai level tertinggi baru 13 bulan,” ujar Lukman kepada Katadata, Kamis (25/6).

Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.900-Rp 18.000 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

 Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana menilai tekanan terhadap rupiah masih berlanjut dan berpotensi membawa mata uang Garuda terdepresiasi hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Menurut Fikri, pasar saat ini semakin memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve September mendatang.

“Faktor utamanya adalah makin besarnya ekspektasi kenaikan 25 bps Fed Rate pada September mendatang,” kata Fikri.

Selain itu, investor juga menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price IndexAmerika Serikat yang akan diumumkan malam ini. Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

 “Ekspektasi kenaikan PCE Price di AS yang akan dirilis nanti malam juga menjadi sentimen yang mendorong penguatan dolar AS,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...