Rupiah Diramal Masih Tertekan Hari Ini, Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS
Mata uang rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dikutip dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.984 per dolar AS melemah 0,16% atau 29 poin. Hingga pukul 09.17 rupiah kian melemah di level Rp 17.986 per dolar AS turun 0,19% atau 34 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di Rp 17.952 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (1/7/), melemah 0,25% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.907 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini.
Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang akan diumumkan malam nanti.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan pergerakan rupiah masih dibayangi sentimen eksternal yang cenderung negatif. Meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menjadi indikator bahwa pelaku pasar semakin memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya.
"Sentimen domestik juga masih belum pulih dari tekanan jual investor asing," ujar Lukman. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS.
Menurut Lukman, perhatian pasar global saat ini tertuju pada data Non-Farm Payrolls (NFP) yang menjadi salah satu indikator utama kondisi pasar tenaga kerja AS.
Jika data tersebut menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang tetap kuat, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed berpotensi semakin menguat.
Kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan yield obligasi AS sekaligus memperkuat indeks dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dinilai belum sepenuhnya mereda. Arus keluar dana asing (foreign outflow) dari pasar keuangan Indonesia masih menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan mata uang Garuda.
