Surplus Neraca Perdagangan 72 Bulan Berakhir, Ini Penjelasan Purbaya

Ade Rosman
2 Juli 2026, 14:59
purbaya, yudhi sadewa,
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rekor surplus neraca perdagangan Indonesia yang sebelumnya bertahan selama 72 bulan berturut-turut berakhir pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan mencatatkan defisit sebesar US$ 1,6 miliar pada bulan lalu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai, penyebab utama defisit disebabkan oleh membengkaknya defisit sektor minyak dan gas atau migas akibat tingginya harga minyak dunia.

“Dugaan saya karena itu, kan kami impor migas, harganya lagi bisa naik kan, minyak bumi. Saya pikir di situ yang membuat dia naik,” kata Purbaya, di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (2/7). 

Purbaya mengaku belum menelaah secara rinci data perdagangan nonmigas yang baru dirilis BPS. Namun, ia berpandangan pelemahan pada Mei belum mencerminkan kondisi perdagangan secara keseluruhan sepanjang tahun.

Menurutnya, neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Mei 2026 masih mencatat surplus sekitar US$ 4 miliar. Surplus ini ditopang oleh perdagangan nonmigas yang masih kuat meski tertahan oleh defisit migas.

“Kalau kami lihat year-to-date Januari-Mei itu migasnya memang negatif US$ 12 miliar, nonmigasnya positif US$16 miliar, totalnya masih positif US$ 4 miliar,” kata dia. 

Menurut Purbaya, membesarnya defisit migas merupakan konsekuensi dari kenaikan harga minyak dunia yang mendorong nilai impor energi Indonesia. Karena itu, pemerintah memperkirakan tekanan tersebut akan mereda apabila harga minyak global kembali menurun.

“Jadi kenaikannya betul saya duga tadi, karena migas yang defisitnya membesar karena harga minyak dunia yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan,” kata dia.

BPS mencatat defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas) sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$ 12,28 miliar. Defisit tersebut menjadi beban pada neraca perdagangan Indonesia meski sektor nonmigas masih membukukan surplus.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menuturkan, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus secara kumulatif pada tahun ini sebesar US$ 4,03 miliar. Surplus tersebut sepenuhnya ditopang oleh perdagangan nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar.

“Surplus sepanjang periode Januari-Mei 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$ 16,31 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$ 12,28 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (1/7).

BPS mencatat nilai ekspor kumulatif Januari-Mei 2026 mencapai US$ 115,36 miliar atau meningkat 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 3,89% menjadi US$ 110,19 miliar.

Sementara itu, nilai impor selama lima bulan pertama tahun ini mencapai US$ 111,33 miliar atau melonjak 15,24% secara tahunan. Kenaikan impor terjadi baik pada komoditas nonmigas maupun migas.

Impor migas tercatat mencapai US$ 17,45 miliar atau meningkat 27,89% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun impor nonmigas naik 13,16% menjadi US$ 93,88 miliar.

BPS mencatat, peningkatan impor nonmigas dari sisi penggunaan terjadi pada seluruh kelompok barang. Impor bahan baku dan penolong menjadi yang terbesar dengan nilai US$ 79,40 miliar atau naik 14,41%. 

Di sisi lain, impor barang modal meningkat 17,53% menjadi US$ 22,12 miliar dan impor barang konsumsi naik 17,05% menjadi US$ 9,81 miliar.

Di sisi ekspor, surplus nonmigas masih ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan. Lima komoditas penyumbang surplus terbesar sepanjang Januari-Mei 2026 yakni lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar US$ 13,92 miliar, bahan bakar mineral US$ 10,88 miliar, besi dan baja US$ 7,09 miliar, nikel dan barang daripadanya US$ 5,36 miliar, serta alas kaki sebesar US$ 2,72 miliar.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...