Fitch Ratings Beri Alarm soal Rupiah, Cadangan Devisa, hingga Kebijakan DSI

Agustiyanti
3 Juli 2026, 14:12
Fitch Ratings, neraca perdagangan
Katadata/Hari Widowati/AI
Fitch Ratings
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Fitch Ratings memperingatkan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia berpotensi menghadapi tekanan jika cadangan devisa Indonesia terus menurun dan kepercayaan investor tidak kunjung pulih. Lembaga pemeringkat global itu menilai ketidakpastian kebijakan, termasuk rencana sentralisasi ekspor komoditas, berisiko memperburuk sentimen investor sehingga menekan rupiah, menggerus cadangan devisa, dan meningkatkan biaya pendanaan pemerintah.

Dalam laporan terbaru yang dirilis Fitch pada Rabu (1/7), lembaga ini menilai, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) hingga 100 bps menunjukan tekad untuk melawan tekanan depresiasi rupiah menyusul pengumuman pemerintah tentang rencana sentralisasi ekspor komoditas. Kurs rupiah dinilai lembaga ini tertekan oleh sejumlah yang  tantangan eksternal dan kekhawatiran investor atas kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal, dan tata kelola pasar modal.

Adapun tekanan eksternal, menurut Fitch, menjadi lebih terlihat dalam surplus perdagangan barang yang lebih sempit dan pelemahan rupiah. Data neraca perdagangan yang baru dirilis BPS pada hari yang sama laporan ini diterbitkan bahkan menunjukkan posisi defisit sebesar US$ 1,6 miliar. 

Fitch mencatat, kinerja rupiah lebih rendah dibandingkan sebagian besar mata uang lainnya sepanjang tahun ini. Sedangkan cadangan devisa bruto Indonesia turun sebesar 4,6% antara Maret dan Mei.

"Penurunan cadangan devisa yang berkelanjutan dan tajam, terutama jika didorong oleh arus keluar modal yang terus-menerus terkait dengan kepercayaan investor yang lebih lemah atau pelemahan lebih lanjut dalam indikator tata kelola, dapat menambah tekanan pada peringkat rating Indonesia," kata Fitch. 

Rupiah kembali menguat setelah kenaikan suku bunga dan langkah-langkah stabilisasi lainnya. Fitch memproyeksikan cadangan devisa akan mencukupi untuk menutupi 4,9 bulan pembayaran eksternal saat ini sepanjang tahun 2026, sedikit di bawah negara-negara di median peringkat 'BBB' yang memilik cadangan  sebesar 5,0 bulan.

"Penurunan tersebut terutama mencerminkan melemahnya neraca perdagangan akibat kenaikan harga energi global, intervensi BI untuk mendukung rupiah, dan pembayaran utang luar negeri," demikian penjelasan Fitch. 

Fitch telah menyoroti risiko tekanan eksternal yang berasal dari sentimen investor yang rapuh saat merevisi prospek peringkat kedaulatan Indonesia menjadi Negatif dari Stabil pada awal Maret 2026. Sentimen investor ini dapat meningkatkan biaya pinjaman pemerintah dan mengikis cadangan devisa.

Adapun intervensi valuta asing Bank Indonesia (BI) mengurangi cadangan devisa dan menyerap likuiditas rupiah, memperketat kondisi pendanaan domestik dan memperkuat dampak kredit dari sentimen investor yang lebih lemah. Hal ini juga dapat berkontribusi pada peningkatan bertahap posisi short net valuta asing, yang mencapai hampir US$ 27 miliar pada akhir Mei dan dapat meningkatkan kebutuhan likuiditas valuta asing di masa mendatang seiring jatuh temponya. 

Namun, menurut Fitch, harga minyak global yang lebih rendah seharusnya membantu mengurangi tekanan pada keuangan publik dan posisi eksternal Indonesia. Namun, masih belum pasti apakah perpanjangan gencatan senjata 60 hari dalam perang Iran akan bertahan, sementara protes yang dipimpin kaum muda baru-baru ini di Indonesia dapat meningkatkan tekanan pengeluaran. Sentimen investor yang rapuh juga dapat semakin membebani cadangan eksternal, menggarisbawahi pentingnya pelaksanaan langkah-langkah yang berkelanjutan dan efektif untuk mengatasi kekhawatiran investor atas transparansi pasar modal.

Fitch juga menilai ketidakpastian kebijakan tetap menjadi hambatan utama bagi kepercayaan investor. Menurunnya kepercayaan investor juga didorong oleh persepsi bahwa peningkatan sentralisasi kewenangan pembuatan kebijakan dapat mengikis konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia, faktor-faktor yang menjadi pendorong utama di balik revisi Prospek Fitch.

"Risiko tersebut dapat meningkat di bawah rencana pemerintah untuk secara bertahap memusatkan ekspor sumber daya alam strategis melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), entitas milik negara baru di bawah dana kekayaan negara Danantara," kata Fitch.

Fitch menilai risiko pelaksanaan sentralisasi ekspor DSA di bawah DSI tinggi karena detail operasional rencana tersebut masih terbatas. Selama periode transisi hingga akhir tahun 2026, DSI akan bertindak sebagai perantara pengawas antara eksportir domestik dan pembeli luar negeri untuk komoditas tertentu, termasuk batubara, minyak sawit mentah, dan ferroalloy, sementara kontrak ekspor yang ada tetap berlaku, asalkan tidak ada bukti kesalahan penagihan.

DSI dijadwalkan menjadi perusahaan perdagangan komoditas, membeli komoditas dari produsen sumber daya alam domestik, menjualnya ke luar negeri, dan memulangkan penerimaan ekspor mata uang asing ke Indonesia.

"Intervensi negara yang lebih besar dalam ekspor komoditas dapat melemahkan sentimen investor dan membebani prospek pertumbuhan jangka menengah Indonesia jika secara signifikan menghambat masuknya investasi asing langsung (FDI), sedangkan pengawasan yang lebih ketat terhadap sektor sumber daya alam negara juga dapat mengganggu arus ekspor komoditas," kata Fitch. 

Namun jika rencana tersebut diimplementasikan secara efektif, Fitch menilai, kebijakan  itu secara bertahap dapat memperkuat penerimaan pendapatan pemerintah dari sektor komoditas strategis dan mendukung akumulasi cadangan devisa.

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...