Rupiah Berpeluang Menguat Tipis, Pasar Tunggu Data Cadangan Devisa Indonesia
Mata uang rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dikutip dari Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.990 per dolar AS menguat 0,03% atau 5 poin. Hingga pukul 09.15 rupiah kian menguat berada di level Rp 17.986 per dolar AS menguat tipis 0,05% atau 5 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.995 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,18% dibandingkan dengan penutupan pada Jumat (3/7/2026) yang berada di level Rp 17.963 per dolar AS. Bahkan, rupiah sempat anjlok dan tembus ke level Rp 18.000 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini.
Pelemahan dolar AS setelah rilis data aktivitas bisnis AS yang lebih rendah dari ekspektasi menjadi sentimen positif bagi mata uang Garuda, meski pelaku pasar masih menunggu rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan rupiah diperkirakan dibuka cenderung datar, namun berpotensi menguat seiring koreksi dolar AS setelah data ISM Amerika Serikat tidak sekuat harapan pasar.
"Rupiah diperkirakan akan dibuka datar walau berpotensi menguat terhadap dolar AS yang terkoreksi oleh data ISM yang tidak sekuat harapan. Namun investor juga menantikan data cadangan devisa Indonesia siang ini," kata Lukman. Ia memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.950-Rp 18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Senada, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana memproyeksikan rupiah berpotensi mencatat apresiasi tipis hingga berada di sekitar Rp 17.990 per dolar AS.
Menurut Fikri, terdapat sejumlah faktor yang menopang potensi penguatan rupiah. Dari eksternal, data S&P Global Composite PMI AS pada Juni 2026lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar. Kondisi tersebut turut menurunkan ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang menyatakan masih akan menunggu perkembangan data ekonomi berikutnya sebelum mengambil keputusan kebijakan moneter juga dinilai meredakan ekspektasi pengetatan suku bunga dalam waktu dekat.
Dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada rilis cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan diumumkan hari ini.
