Rupiah Loyo Lagi, Dolar AS Dekati Rp 18.100

Agustiyanti
9 Juli 2026, 10:44
rupiah, dolar AS, rupiah melemah
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah melemah mendekati level 18.100 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Kamis (9/7). Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di antara mata uang Asia lainnya. 

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 43 poin dilevel 18.057 per dolar AS. Kurs rupiah semakin tertekan ke level 18.096 per dolar AS hingga pukul 10.23 WIB.

Mayoritas mata uang Asia pun melemah terhadap dolar AS. Rupee India terpantau melemah paling dalam mencapai 0,63%, disusul rupiah 0,46%, dolar Taiwan 0,38%, peso Filipina 0,12%, dan baht Thailand 0,16%. Di sisi lain yen Jepang menguat 0,07% dan dolar Singapura 0,02%.

Rupiah masih loyo meski dolar AS tengah melemah  setelah mencapai level tertinggi dalam sekitar seminggu. Dolar melemah usai Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa nota kesepahaman sementara yang ditandatangani dengan Iran untuk mengakhiri konflik mereka telah "berakhir". Di sisi lain, para pelaku pasar juga tengah  mencerna risalah dari pertemuan Federal Reserve yang dirilis baru-baru ini.

Trump mengatakan bahwa perjanjian sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah "berakhir" dan bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan melancarkan serangan baru pada Rabu malam menyusul serangan Iran terhadap pangkalan AS di Teluk.

Adapun Bank Indonesia (BI) sebelumnya menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang (emerging market) lainnya.

“Kami melihat bagaimana perkembangan Rupiah relatif termasuk baik dibandingkan negara emerging market yang lain,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso saat ditemui di gedung DPR pekan ini. 

Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan global setelah sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish) dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Ramdan menjelaskan tekanan terhadap mata uang berbagai negara mulai meningkat setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 17 Juni 2026.

Meskipun The Fed mempertahankan suku bunga acuan Fed Funds Rate di kisaran 3,5-3,75%, pelaku pasar lebih mencermati sinyal hawkish dari sejumlah pejabat The Fed yang mengindikasikan peluang penurunan suku bunga pada tahun ini semakin kecil, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga ke depan.

"Yang dicermati oleh pelaku pasar adalah sinyal hawkish dari pernyataan sejumlah pejabat The Fed. Perkembangan inilah yang kemudian memberikan tekanan terhadap mata uang berbagai negara," ujar Ramdan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...