Rupiah Ditutup Menguat, Sentimen Inflasi AS Reda Diimbangi Ketegangan Timur Teng
Nilai tukar rupiah menguat 0,45% ke level 17.986 pada penutupan perdagangan hari ini. Rupiah menguat meski dibayangi tekanan dari kondisi geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak dunia.
"Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp 17.986 hingga Rp 18.030 per dolar AS," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi pada Kamis (16/7).
Ibrahim menjelaskan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, antara lain data inflasi produsen Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan tekanan harga. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS secara tak terduga turun 0,3% pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan tidak ada perubahan secara bulanan.
Kondisi itu memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa tekanan inflasi di AS mulai mereda sehingga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Meski demikian, optimisme tersebut tertahan oleh kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah naik untuk sesi keempat berturut-turut. Kekhawatiran muncul karena lonjakan harga energi berpotensi kembali memicu inflasi global dan mempersempit ruang bagi Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bank sentral AS tetap berkomitmen membawa inflasi kembali ke target 2% dan siap menyesuaikan suku bunga apabila tekanan harga kembali meningkat. Ia juga menilai investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan tidak serta-merta memicu inflasi yang lebih luas.
Sementara itu, Gubernur The Fed Lisa Cook menyatakan akan mendukung langkah kebijakan lanjutan apabila inflasi tetap tinggi. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams juga menilai level suku bunga saat ini sudah berada pada posisi yang tepat untuk mengembalikan inflasi ke target, meskipun data harga belakangan menunjukkan tren perlambatan.
Dari dalam negeri, pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah fiskal dan kebijakan pasar guna mengendalikan inflasi, khususnya dari komponen pangan bergejolak (volatile food) serta meningkatnya biaya produksi industri.
Upaya tersebut difokuskan untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mengantisipasi dampak kenaikan harga kemasan yang turut memengaruhi harga produk makanan.
Selain itu, sentimen positif juga datang dari Bank Indonesia (BI) yang menyatakan independensinya tetap mendapat pengakuan dari lembaga pemeringkat internasional. Hal tersebut tercermin dalam laporan terbaru S&P Global Ratings yang masih memberikan kepercayaan terhadap independensi bank sentral Indonesia.
“Alhasil, otoritas moneter bisa mengambil kebijakan yang positif bagi ekonomi Indonesia. Bank Indonesia terus berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” katanya.
