RI Belanja Minyak Mentah US$ 16,16 M, Sebagian Besar dari Nigeria dan Angola
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mengimpor minyak mentah senilai US$ 16,16 miliar sepanjang Januari-Juni 2026, melonjak 39,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar impor minyak mentah berasal dari Nigeria dan Angola.
"Nigeria menjadi negara teratas asal impor ke Indonesia dengan sekitar 24,91%. Kemudian, disusul oleh Angola dengan 15,41%, lalu Arab Saudi 13,62%," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).
Selain minyak mentah, menurut dia, impor migas juga terdiri atas hasil minyak senilai US$ 5,85 miliar, yang juga melonjak 38,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ateng menjelaskan, lonjakan impor minyak mentah dan hasil minyak, terutama dipengaruhi oleh faktor harga.
Sedangkan untuk keseluruhan produk minyak dan gas, Singapura masih menjadi importir terbesar dengan kontribusi mencapai 28,36%. Posisi berikutnya ditempati Malaysia sebesar 19,77%, disusul Amerika Serikat 8,55%.
Selain mengimpor, Indonesia juga mengekspor minyak mentah. Namun, ekspor ini hanya berlangsung pada Februari hingga April. Adapun negara tujuan utamanya adalah Thailand dengan pangsa 88,81%, diikuti Malaysia 4,89%, dan Tiongkok 4,34%.
Lonjakan impor migas menjadi pendorong kembali terjadinya defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 sebesar US$ 450 juta. Meski demikan, defisit ini melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 1,6 miliar.
“Defisit pada Juni, terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas sebesar US$ 3,49 miliar, dengan komoditas utama penyumbang defisit yaitu hasil minyak dan minyak mentah,” kata Ateng.
Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus sebesar US$ 3,04 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).
Defisit neraca perdagangan pada Juni disumbangkan oleh kenaikan impor yang lebih tinggi dibandigkan ekspor. Nilai impor Indonesia tercatat mencapai US$ 25,91 miliar, meningkat 34,27% dibandingkan Juni 2025. Adapun ekspor mencapai US$ 25,46 miliar, atau tumbuh 8,84% secara tahunan.
