BI Dorong Pengelolaan Rupiah yang Makin Ramah Lingkungan
Setiap hari, rupiah berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Digunakan untuk membeli makanan, membayar ongkos perjalanan, berbelanja di pasar, hingga memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.
Namun perjalanan selembar uang tidak berhenti ketika sudah sampai di tangan masyarakat. Terdapat proses panjang yang memastikan rupiah tetap tersedia, layak digunakan, sampai akhirnya dikelola ketika sudah tidak dapat lagi beredar.
Di balik proses panjang itu, Bank Indonesia memiliki tanggung jawab mengelola rupiah dari hulu hingga hilir. Mulai dari perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan, hingga pemusnahan.
Rangkaian tersebut juga mulai diarahkan agar semakin memperhatikan dampak lingkungan. Melalui Blueprint Pengelolaan Uang Rupiah (BPPUR) 2024-2030, Bank Indonesia mendorong transformasi pengelolaan rupiah yang lebih berkelanjutan.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang (DPU) Bank Indonesia, Muhammad Anwar Bashori mengatakan, BPPUR 2024-2030 memiliki tiga strategi utama. Yakni memastikan ketersediaan rupiah, memperkuat pengedaran rupiah, serta penguatan infrastruktur pengelolaan rupiah.
Salah satu tujuan dari cetak biru tersebut adalah mewujudkan pengelolaan uang rupiah yang ramah lingkungan. Menurut Anwar, upaya tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari aspek material dan bahan uang, proses pencetakan, sampai pengedaran.
Sebagai bentuk dukungan terhadap agenda sustainable development goals (SDGs) dan Paris Agreement, BI turut serta mengambil bagian melalui kerangka kebijakan hijau Bank Indonesia. Program tersebut ditargetkan dapat diterapkan di seluruh satuan kerja kas Bank Indonesia pada 2030.
“Dalam proses yang lebih ramah lingkungan, DPU telah menyusun BPPUR 2024-2030 atau peta jalan strategis BI yang mengintegrasikan prinsip ramah lingkungan dan rendah karbon ke dalam pengembangan pasar keuangan nasional. Salah satu program utama berupa PUR Berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah racik uang kertas (LRUK) yang ramah lingkungan,” ujar Anwar dalam keterangannya, Senin (10/8).
Di sisi lain, pengembangan praktik ramah lingkungan terus dilakukan pada berbagai tahapan pengelolaan rupiah, termasuk penggunaan material uang, pencetakan, hingga penggunaan kendaraan yang lebih ramah lingkungan untuk distribusi uang.
Dari Limbah Uang Menjadi Energi
Salah satu perubahan penting terjadi pada tahap akhir siklus hidup uang kertas. Limbah racik uang kertas yang sebelumnya sebagian besar dikelola melalui pembuangan ke landfill (tempat pembuangan akhir/TPA) saat ini mulai dimanfaatkan melalui skema waste to energy (WtE) dan waste to product (WtP).
Hingga 2026, program WtE dan WtP telah diterapkan di Kantor Pusat dan 32 dari 46 Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Dengan demikian, sekitar 72% kantor yang menjadi cakupan program telah mengimplementasikan PUR Berkelanjutan.
Anwar menjelaskan, perubahan pola pengelolaan tersebut memberikan manfaat dari sisi lingkungan sekaligus efisiensi. Pengalihan pengolahan LRUK dari landfill menjadi WtE dapat menciptakan cost avoidance, sementara kolaborasi dalam pengolahan limbah juga berpotensi menekan biaya.
“Selain itu, dengan implementasi WtE secara kolaboratif, biaya pengolahan LRUK dapat diturunkan,” imbuh Anwar.
Menurut dia, manfaat program tidak hanya dapat dihitung dari penghematan biaya. Perubahan pengelolaan limbah juga membantu mengurangi dampak lingkungan yang dapat muncul dari landfill, seperti cairan lindi, bau, gas metana, dan karbon dioksida.
Proses pemanfaatan limbah racik uang kertas (LRUK) sebagai co-firing di PLTU Bengkayang. (Dok. PLN Indonesia Power)
Lebih jauh, program PUR Berkelanjutan diharapkan menjadi bagian dari komitmen Bank Indonesia terhadap prinsip keberlanjutan sekaligus mendorong Institutional Leadership (kepemimpinan kelembagaan) dan menjadi contoh bagi industri serta pemangku kepentingan lainnya.
Komitmen tersebut pun mendapatkan pengakuan internasional. Pada 2026, Bank Indonesia melalui Departemen Pengelolaan Uang meraih penghargaan The Winner dari International Association of Currency Affairs (IACA) dalam kategori best new environmental sustainability project.
Penghargaan diberikan atas program Rupiah Waste to Worth Collaboration, yang dinilai memiliki tiga keunggulan utama. Yaitu kolaborasi lintas pemangku kepentingan, kepemimpinan kelembagaan, serta penerapan WtE dan WtP.
Memperpanjang Usia Rupiah
Di sisi lain, upaya membuat pengelolaan rupiah lebih ramah lingkungan juga dilakukan sebelum uang menjadi limbah.
Bank Indonesia telah menerapkan coating pada hasil cetak uang kertas tahun emisi 2022. Langkah tersebut diharapkan membuat uang lebih tahan lama sehingga dapat memperpanjang masa edar uang yang beredar di masyarakat.
Sementara pada tahap pengedaran, penggunaan kendaraan pengiriman uang berstandar Euro 4 juga mulai diterapkan secara bertahap. Penggunaan kendaraan ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas pengedaran rupiah.
BI menilai, pengelolaan rupiah berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat. Edukasi menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman mengenai nilai strategis rupiah, termasuk bagaimana uang yang sudah tidak layak edar dapat dikelola kembali secara bertanggung jawab.
“Edukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) karena membangun pemahaman masyarakat mengenai nilai strategis rupiah, termasuk pentingnya pengelolaan uang rupiah yang berkelanjutan,” tandas Anwar.
Edukasi mengenai rupiah juga memiliki arti penting lantaran penggunaan uang kartal (uang kertas dan logam) masih dibutuhkan di berbagai wilayah Indonesia. Karakter geografis Indonesia yang luas dan berbentuk kepulauan membuat adopsi pembayaran digital masih terus diupayakan untuk merata.
Dengan demikian, kondisi tersebut membuat uang tunai tetap memiliki peran strategis dalam menjaga inklusivitas sekaligus kedaulatan negara.
Ragam pesan mengenai rupiah tersebut akan menjadi salah satu bagian yang dibawa Bank Indonesia melalui Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 yang akan diselenggarakan pada 14-16 Agustus 2026 di Istora Senayan. Festival ini menjadi sarana edukasi untuk memperkenalkan berbagai inovasi dalam pengelolaan rupiah, termasuk program PUR Berkelanjutan.
Melalui FERBI 2026, Bank Indonesia membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat lebih dekat bagaimana rupiah dikelola, sekaligus memahami nilai strategisnya bagi perekonomian dan kedaulatan tanah air.
Selain FERBI, edukasi dilakukan melalui gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah, kunjungan edukatif, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas dan media. BI juga memanfaatkan berbagai kanal digital untuk memperluas jangkauan edukasi.

