Destry Nilai Rupiah Masih Undervalued, Ada Ruang untuk Menguat

Image title
26 Agustus 2026, 16:50
Dolar AS, rupiah, rupiah undervalue
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada dalam kondisi undervalued atau lebih rendah dari nilai fundamentalnya. Ia menyebut rupiah masih memiliki ruang untuk menguat terhadap dolar AS.

“Sebenarnya kalau melihat dari faktor fundamental, kemudian termasuk juga apa yang terjadi di Amerika, di global, dengan ketidakpastian yang tinggi, itu nilai rupiah sebenarnya lebih rendah (undervalued) dari seharusnya,” kata Destry dalam fit and proper test calon Gubernur BI di Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (26/8/2026). 

Destry mengatakan, pemerintah telah mempertimbangkan berbagai kondisi yang memengaruhi nilai tukar dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Asumsi nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp 17.500 per dolar AS.

Menurut Destry, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor fundamental yang berdampak jangka panjang dan sentimen pasar yang berdampak pada jangka pendek. Untuk jangka panjang, nilai tukar sangat dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi, termasuk perkembangan sektor eksternal.

Sedangkan dalam jangka pendek, pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar, baik yang berasal dari dalam negeri maupun kondisi global.

Ia menilai, berbagai sentimen yang muncul di pasar dapat terkumpul dan memicu volatilitas nilai tukar. Namun ketika sentimen pasar berubah menjadi positif, rupiah juga dapat bergerak menguat dengan cepat. 

 

Dalam kondisi tersebut, BI akan tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas dan mengendalikan volatilitas nilai tukar. Destry menegaskan, BI akan memanfaatkan momentum ketika sentimen pasar sedang positif untuk mendukung penguatan rupiah. 

“Pada saat sentimen lagi positif, tentunya Bank Indonesia akan terus juga jaga, kami tetap ada di pasar, karena itu sudah menjadi kewajiban kami menjaga volatilitas rupiah,” ujarnya. 

Meski demikian, Destry mengatakan Indonesia masih menghadapi tantangan dari sektor eksternal, terutama terkait keseimbangan transaksi berjalan atau current account.

Menurutnya, salah satu pekerjaan rumah yang perlu dilakukan bersama adalah meningkatkan ekspor, baik ekspor barang maupun jasa. Hal ini penting karena transaksi berjalan Indonesia masih menghadapi tekanan dari sisi jasa dan pembayaran pendapatan.

“Transaksi berjalan kita selalu defisit, karena jasa, kemudian pembayaran pendapatan, khususnya mereka yang kerja di sini dibandingkan kita yang kerja di luar, ini selalu negatif,” kata Destry.

BI sebelumnya mencatat, defisit transaksi berjalan (current account deficit) Indonesia mencapai US$12,5 miliar atau setara 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2026. Defisit ini merupakan yang terbesar dalam sejarah pencatatan.

 

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...