Rupiah Menguat Sepekan ke 17.642 per US$ Meski Ada Bayang-Bayang Konflik AS-Iran

Image title
4 September 2026, 15:32
rupiah, dolar, rupiah menguat
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Bank Indonesia tetap memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen agar tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah menguat 51 poin sepekan ini, ditutup di level 17.642 pada perdagangan Jumat (4/9). Rupiah perkasa meski disuguhi bayang-bayang meningkatnya eskalasi konflik antara militer AS dan Iran. 

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah menguat 37 poin atau 0,21% pada perdagangan hari ini. 

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, faktor kondisi di Timur Tengah masih memberikan sentimen terhadap rupiah. Ketegangan kembali memanas setelah AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target Iran pada awal pekan, termasuk aset militer di sekitar Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak atau drone terhadap posisi AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

Selat Hormuz menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar karena Iran memperluas pembatasan pelayaran internasional di jalur tersebut. Kondisi ini memicu kekhawatiran gangguan terhadap jalur perdagangan minyak global akan berlangsung lebih lama dan memperketat pasokan energi.

Eskalasi konflik juga meningkatkan kekhawatiran terhadap korban sipil. Ibrahim menyebut adanya laporan serangan AS yang menghantam lokasi pesta pernikahan di Iran bagian selatan dan menewaskan warga sipil. Peristiwa tersebut kemudian memicu kecaman dari Teheran.

Di tengah tekanan geopolitik, rupiah mendapatkan sentimen positif dari pernyataan dovish Gubernur The Fed Christopher Waller.

Waller mengatakan, mulai melihat tanda-tanda disinflasi dalam data terbaru. Dia juga menyatakan keputusan suku bunga pada September akan bergantung pada perkembangan inflasi AS pada Agustus.

Ia bahkan menyatakan akan mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah apabila data inflasi Agustus mengonfirmasi kemajuan yang terlihat dalam beberapa waktu terakhir.

Selanjutnya, pelaku pasar masih menunggu rilis data ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls (NFP) untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Data NFP Agustus diperkirakan menunjukkan penambahan 56.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran AS diproyeksikan tetap berada di level 4,1%.

Sedangkan dari dalam negeri, menurut Ibrahim, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi untuk memperkuat kembali kondisi kelas menengah. Selama ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata masih berada di kisaran 5% dinilai belum cukup kuat untuk mendorong industrialisasi dan menciptakan lapangan kerja formal dalam jumlah besar. 

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi perlu didorong hingga di atas 6%-6,5% agar penciptaan lapangan kerja formal semakin kuat. Pertumbuhan yang lebih tinggi diharapkan dapat menarik kembali investasi asing untuk membangun infrastruktur dan membuka lapangan kerja baru.

“Hasilnya akan tercipta masyarakat kelas menengah baru dengan pendapatan yang lebih baik,” kata Ibrahim.

Namun, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% pada 2027 menghadapi sejumlah tantangan. Tren suku bunga yang kembali meningkat berpotensi menekan investasi, sementara tensi geopolitik global juga masih belum sepenuhnya mereda.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...