Defisit Perdagangan AS Bengkak Jadi US$ 88,6 M, Tarif Trump Gagal?

Agustiyanti
4 September 2026, 16:55
defisit perdagangan, amerika, trump
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Amerika Serikat mencatat, defisit perdagangan barang dan jasa pada Juli 2026 mencapai US$ 88,6 miliar, terbesar dalam 16 bulan terakhir. Defisit perdagangan terbesar dicatatkan Amerika Serikat dengan Meksiko dan Vietnam. 

Mengutip The Wall Street Journal, defisit ini melonjak 24% dibandingkan bulan sebelumnya. Beberapa ekonom berpendapat bahwa data tersebut sebagian besar mencerminkan kekuatan ekonomi AS dan pengembangan infrastruktur AI. Namun, data itu tetap berpotensi menjadi kemunduran bagi pemerintahan Trump.

Trump telah menerapkan tarif global yang tinggi dengan asumsi bahwa kebijakan tersebut akan mengurangi defisit perdagangan dan memperkuat sektor manufaktur dalam negeri. Namun, ketegangan dengan Iran, serta penerapan gelombang tarif baru dan berbagai sengketa hukum yang membatalkan sebagian kebijakan tarif tersebut, telah mengganggu rantai pasokan dan menimbulkan ketidakpastian bagi perusahaan.

 Di sisi lain, lonjakan AI di Amerika terus berlanjut tanpa hambatan, sehingga membutuhkan impor besar-besaran produk komputasi yang bernilai tinggi.

Pada Juli, lonjakan pengiriman komputer, aksesori komputer, dan semikonduktor mendorong peningkatan impor sebesar 2,8%  dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$399,3 miliar. Sedangkan ekspor AS turun 2,1% dibandingkan Juni menjadi US$310,7 miliar, akibat berkurangnya ekspor emas dan minyak mentah Amerika Serikat.

Angka defisit perdagangan bulan Juli ini lebih besar daripada rata-rata defisit perdagangan bulanan pada tahun sebelum Presiden Trump terpilih. Angka ini juga merupakan defisit terbesar sejak ia mulai menerapkan tarif secara agresif pada bulan April tahun lalu.

Pada bulan-bulan sebelumnya, yakni awal tahun 2025, defisit perdagangan sempat melonjak drastis karena para importir AS berupaya mendatangkan produk sebanyak mungkin sebelum kebijakan tarif mulai berlaku.

Trump memandang defisit perdagangan sebagai tanda kelemahan sektor manufaktur Amerika, dan telah menerapkan tarif tinggi terhadap barang-barang asing sebagai upaya untuk menguranginya. Mahkamah Agung membatalkan banyak kebijakan tarif global Trump pada bulan Februari, namun ia beralih menggunakan aturan hukum lain untuk menggantikannya.

Pada Juli, pemerintah memberlakukan putaran tarif baru terhadap lebih dari 80 negara, dan sedang mempertimbangkan untuk menerapkan putaran tarif lainnya terhadap lebih dari 40 negara dalam beberapa minggu mendatang.

Banyak ekonom mempertanyakan seberapa efektif tarif sebagai alat untuk mengurangi defisit perdagangan. Pihak lain berpendapat bahwa tarif memang membebani jenis impor tertentu, namun dampaknya diimbangi oleh lonjakan pembelian cip dan komputer buatan luar negeri yang mahal untuk pembangunan pusat data baru.

Pada bulan Juli, impor barang modal—kategori yang mencakup komputer—mencapai rekor tertinggi. Defisit perdagangan AS dengan Taiwan, produsen utama cip, juga mencapai rekor sebesar US$20,7 miliar pada bulan Juli.

Pada paruh pertama tahun ini, nilai impor barang AS dari Taiwan mencapai $143 miliar, melampaui total impor AS dari Tiongkok yang sebesar $140 miliar.

Biang Kerok Defisit Perdagangan AS

AS mencatatkan defisit terbesar dengan Meksiko dan Vietnam masing-masing sebesar US$ 27,5 miliar dan US$ 23,3 miliar, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Defisit yang besar juga masih dicatatkan AS dengan Cina mencapai US$ 15,2 miliar, Korea Selatan US$ 10,4 miliar, hingga Malaysia US$ 4,8 miliar. 

Pemerintah AS sebelumnya telah mengecualikan cip, ponsel pintar, dan perangkat elektronik lainnya dari kebijakan tarif selama lebih dari satu tahun. Para pejabat enggan menghambat pembangunan pusat data, yang menjadi pendorong investasi AS dan pertumbuhan pasar saham.

Pejabat pemerintah menyatakan bahwa tarif untuk cip akan segera diberlakukan, namun diperkirakan secara luas akan mencakup pengecualian signifikan bagi perusahaan yang sedang membangun fasilitas cip baru di Amerika Serikat.

Konflik terkait Iran juga menyebabkan volatilitas perdagangan yang tinggi tahun ini, karena penutupan Selat Hormuz mengacaukan rantai pasokan minyak, pupuk, kemasan produk, dan helium. Ekspor minyak bumi AS melonjak pada awal tahun namun turun kembali pada bulan Juli dari tingkat yang lebih tinggi tersebut.

Selain itu, dampak perselisihan perdagangan dengan Kanada terhadap kenaikan pajak impor AS masih harus dilihat. Pemerintah memberlakukan tarif 50 persen atas ekspor Kanada senilai sekitar US$ 20 miliar setelah perundingan perdagangan gagal bulan lalu.

Kanada berjanji untuk menerapkan tarif dengan nilai yang setara terhadap ekspor Amerika mulai 8 September 2026. Merespons itu, Trump mengancam akan menaikkan tarif menjadi 50% untuk semua mobil, truk, suku cadang mobil, dan baja dari Kanada, mulai 1 Januari.

Defisit perdagangan yang lebih besar pada Juli mengindikasikan bahwa angka pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal ketiga bisa jadi lebih rendah. Hal itu bukan disebabkan oleh impor yang secara inheren mengurangi pertumbuhan ekonomi, melainkan karena nilai impor neto dikurangkan dari produk domestik bruto (PDB) guna menghindari penghitungan ganda.

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada Rabu, Menteri Perdagangan Howard Lutnick menyatakan bahwa putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif presiden telah memicu lonjakan impor dan mengakibatkan perlambatan pertumbuhan PDB. Namun, ia mengatakan bahwa pemerintah akan kembali memberlakukan pungutan tersebut dalam beberapa minggu mendatang.

"Dalam beberapa minggu ke depan, kebijakan itu akan kembali berlaku; Anda akan melihat impor mulai menurun dan PDB meningkat," ujar Lutnick.

Meski demikian, sejumlah ekonom berpendapat bahwa defisit perdagangan yang lebih besar tersebut, secara keseluruhan, bukanlah pertanda buruk bagi perekonomian AS.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...