BI Catat Modal Asing Masuk Rp 212 Triliun ke SBN dan SRBI
Bank Indonesia mencatat, aliran modal asing atau inflow ke dua instrumen keuangan domestik, yakni Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp 212,4 triliun hingga 10 September 2026.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan peningkatan modal asing tidak terlepas dari penyesuaian harga atau repricing yang dilakukan pada Juli 2026. Langkah ini ditempuh ketika tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat.
"Jadi hampir overall di Juli, itu kami naik 100 basis point (suku bunga), tujuannya repricing, karena pada saat itu tekanan terhadap rupiahnya sangat besar sekali," kata Destry saat rapat bersama DPD RI, Senin (14/9).
Menurut dia, repricing terjadi baik pada instrumen Bank Indonesia maupun instrumen pemerintah, yakni SBN. Kebijakan tersebut kemudian mulai mendorong peningkatan aliran modal asing sejak memasuki kuartal III 2026.
Destry mengatakan, posisi inflow ke SBN yang sebelumnya tercatat negatif secara year to date (ytd), kini telah berbalik menjadi positif sebesar Rp 40,8 triliun. Sedangkan inflow ke SRBI telah mencapai Rp 171 triliun.
"Sehingga year to date yang tadi negatif, sekarang sudah mencapai Rp 40,8 triliun, dan untuk yang SRBI, kami ada Rp 171 triliun," ujarnya.
Namun, Destry mencatat terjadi perubahan komposisi aliran dana pada September. Sebagian dana yang sebelumnya masuk ke SRBI mulai beralih ke SBN.
Menurutnya, peralihan tersebut memang dirancang sebagai bagian dari sinergi kebijakan moneter dan fiskal. Ini karena SBN memiliki tenor yang lebih panjang dibandingkan SRBI sehingga dana asing diharapkan dapat bertahan lebih lama di pasar domestik.
"Saat dia masuk SBN, dia akan lebih lama stay di sana karena kalau SRBI itu kan instrumen moneter, dia paling banter adalah besarnya satu tahun," kata Destry.
BI menilai aliran modal yang masuk ke SBN dan SRBI menjadi salah satu modal penting untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus menopang stabilitas nilai tukar rupiah.
"Jadi ini menjadi modal, yang tentunya juga akan menambah di cadangan devisa kami," kata Destry.
Namun, Destry mengingatkan, penguatan sektor ekonomi domestik tetap menjadi fondasi utama bagi stabilitas rupiah. Kondisi perekonomian akan memengaruhi persepsi investor dan pada akhirnya menentukan arah pergerakan nilai tukar.
"Karena penguatan di sektor ekonomi itu menjadi sangat penting, karena ini tentu akan menjadi dasar juga bagi melemah atau menguatnya nilai tukar rupiah kita," ujarnya.
