Rupiah Loyo ke 17.669 per US$, Reshuffle Menkeu Belum Berefek
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 58 poin ke level 17.669 per dolar AS pada perdagangan Senin (14/9). Rupiah loyo di tengah kabar pergantian kursi menteri keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara.
Namun, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah hari ini belum dipengaruhi oleh isu reshuffle kabinet yang baru mencuat sore ini.
"Belum ada, mungkin besok baru," kata Ibrahim saat dihubungi, Senin (14/9).
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah hari ini masih lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi fiskal Indonesia dan kenaikan harga minyak mentah.
"Saat ini yang mempengaruhi rupiah, masih seputar defisit anggaran dan naiknya harga minyak mentah," ujarnya.
Ia mengatakan, su pergantian kabinet merah putih sebenarnya telah lama beredar, tetapi realisasinya sempat tertunda. "Sebenarnya sudah lama isu pergantian ini, namun sempat tertunda. Purbaya begitu tenar namanya, akan berpengaruh terhadap perpolitikan Indonesia ke depan," kata Ibrahim.
Tekanan Eksternal
Selain faktor domestik, menurut Ibrahim, kurs rupiah berada di bawah tekanan sentimen global. Harga minyak mentah kembali menjadi perhatian pasar setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran dan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah.
Houthi sebelumnya menyerang sejumlah target di Arab Saudi, termasuk fasilitas kilang dan terminal bahan bakar Aramco, serta fasilitas bahan bakar, bandara, dan kapal di wilayah Bab el-Mandeb.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur pasokan minyak utama Timur Tengah. Sebagian pengiriman minyak Arab Saudi yang sebelumnya melewati Selat Hormuz juga telah dialihkan melalui jalur Bab el-Mandeb.
Sentimen rupiah juga datang dari perkembangan kebijakan moneter AS. Data inflasi Amerika Serikat pada Agustus menunjukkan indeks harga konsumen inti meningkat 0,3% secara bulanan.
Kenaikan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve atau The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga September sekitar 88%.
Kenaikan suku bunga The Fed berpotensi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga pada Minggu (13/9), melanjutkan kritiknya terhadap kebijakan moneter bank sentral AS.
Efisiensi Anggaran
Di tengah tekanan eksternal dan ruang fiskal yang terbatas, Ibrahim juga menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi anggaran guna menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3% terhadap PDB.
Salah satu pos yang dinilai masih dapat diefisienkan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Ibrahim, pagu awal sekitar Rp 330 triliun cukup besar dibandingkan kesiapan tata kelola program di lapangan.
Ibrahim menilai penurunan anggaran MBG dari sekitar Rp 330 triliun menjadi Rp 262,5 triliun, kemudian sekitar Rp 232,5 triliun untuk 72,46 juta penerima, masih dapat diterima. Menurut dia, anggaran MBG dapat ditekan di bawah Rp 200 triliun apabila diperlukan.
Selain MBG, pemerintah dinilai masih dapat melakukan efisiensi pada belanja administratif kementerian dan lembaga, seperti perjalanan dinas, rapat di hotel, sewa tempat, konsumsi kegiatan, pengadaan rutin, konsultansi, honorarium, dan kegiatan seremonial.
Sementara untuk subsidi energi, Ibrahim menyarankan pemerintah lebih mengutamakan perbaikan ketepatan sasaran dibandingkan melakukan pemangkasan secara menyeluruh. Sebab, pemangkasan subsidi secara kasar berpotensi langsung berdampak terhadap harga dan daya beli masyarakat.
