Kenaikan yield ini merupakan bagian dari tren yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir, menadakan bahwa dunia semakin meninggalkan era suku bunga sangat rendah yang terjadi setelah krisis keuangan global dan pandemi. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan kerugian bagi investor obligasi, tetapi juga membuat generasi baru pelaku pasar Wall Street harus menghadapi kondisi ketika yield obligasi 5% menjadi sesuatu yang normal.
“Periode sebelumnya justru merupakan kondisi yang tidak normal,” kata Vincent Reinhart, kepala ekonom dan ahli strategi makro di BNY Mellon, yang sebelumnya lama berkarier di Federal Reserve.
Masalah ini tidak hanya terjadi di AS. Sejumlah negara besar lainnya juga menghadapi persoalan serupa, termasuk dampak gangguan energi akibat perang Iran dan tingginya utang pemerintah. Kenaikan utang ikut mendorong yield semakin tinggi sepanjang tahun ini.
Pada Kamis, yield obligasi pemerintah Jepang melonjak ke level tertinggi sejak 1996 setelah pasar kembali dibuka usai libur tiga hari. Pasar obligasi negara-negara besar lainnya juga mengalami tekanan.
Secara keseluruhan, rata-rata yield surat utang pemerintah di seluruh dunia kini mendekati 4%, level tertinggi sejak 2007 berdasarkan Bloomberg Global Aggregate Treasuries Index. Di pasar US Treasury yang nilainya mencapai sekitar US$ 32 triliun, rata-rata yield mencapai 5,05%, mendekati level tertinggi pada 2023.
Kenaikan yield ini menjadi masalah bagi pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang selama ini mendorong suku bunga dan biaya pinjaman yang lebih rendah agar dapat meringankan beban pemilik rumah dan debitur. Pemerintahan Trump juga berulang kali mengkritik kebijakan Th Federal Reserve.
Upaya Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk menekan kenaikan yield obligasi jangka panjang melalui peningkatan pembelian kembali obligasi pemerintah sejauh ini belum banyak memberikan hasil. Sejumlah pihak bahkan menilai kebijakan tersebut justru dapat menambah ketidakstabilan pasar.
Dengan pemilu sela AS yang semakin dekat dan persoalan keterjangkauan biaya hidup yang semakin menjadi perhatian, kenaikan yield mulai berubah menjadi isu politik di AS.
Suku bunga kredit pemilikan rumah atau mortgage rate kini berada di atas 7%. Sementara itu, data Federal Reserve Bank of New York menunjukkan tunggakan pembayaran kartu kredit dan kredit kendaraan cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Kondisi ini menjadi kabar buruk bagi siapa pun yang memiliki utang kartu kredit, kredit kendaraan, atau ingin mengambil KPR,” kata Douglas Holtz-Eakin, presiden American Action Forum dan mantan kepala Congressional Budget Office. Menurut dia, masyarakat berada di posisi yang dirugikan oleh kondisi tersebut.
Namun, para pelaku pasar menilai kenaikan yield terjadi karena alasan yang cukup kuat. Kondisi fundamental ekonomi AS dianggap mendukung tingkat yield tersebut. Ekonomi AS tumbuh lebih dari 6% secara nominal, sedangkan defisit anggaran mencapai sekitar 5,5% dari produk domestik bruto (PDB) berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg.
Sebagian pelaku pasar bahkan memperkirakan yield akan naik lebih tinggi. Lebih dari separuh dari 173 responden dalam survei Markets Pulse pekan ini memperkirakan yield obligasi AS bertenor 30 tahun akan mencapai 6% sebelum akhir tahun. Level tersebut terakhir kali terlihat setelah pecahnya gelembung saham perusahaan teknologi pada awal 2000-an.