Rupiah Loyo Lagi Dekati 18.000 per US$, Imbas Data dari AS
Nilai tukar rupiah melemah 0,35% ke level 17.965 per dolar AS pada perdagangan Senin (28/2). Kurs rupiah tertekan prospek kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang semakin kuat.
Mengutip Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 45 poin di level 17.948 per dolar AS. Kurs rupiah kian melemah hingga ke level 17.965 per dolar AS hingga pukul 09.45 WIB.
Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand melemah 0,46%, ringgit Malaysia 0,21%, yen Jepang 0,28%, won Korea Selatan 0,31%, yuan Cina 0,04%, peso FIlipina 0,02%, dan dolar Singapura 0,08%.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai pelemahan rupiah hari ini kembali terjadi akibat meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia, dan prospek kenaikan suku bunga The Fed.
"Meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed terjadi menyusul data ekonomi AS (penjualan barang tahan lama) yang lebih kuat serta penolakan porposal Iran oleh AS," ujar Lukman kepada Katadata.co.id.
Mengutip Reuters, pesanan barang modal inti, yang menjadi indikator pengeluaran perusahaan untuk peralatan, melonjak 1,6% pada Agustus. Angka ini jauh di atas ekspektasi ekonom sebesar 0,5%. Angka Juli juga direvisi naik menjadi 0,6% dari sebelumnya tidak berubah.
Data tersebut menunjukkan aktivitas investasi perusahaan AS masih kuat, sehingga memperkuat pandangan bahwa perekonomian tetap memiliki momentum. Kombinasi antara permintaan yang kuat dan inflasi yang meningkat memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk kembali menaikkan suku bunga tahun ini.
Pekan lalu, bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan jangka pendek atau overnight sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%—kenaikan pertama dalam tiga tahun. The Fed juga mengisyaratkan adanya kenaikan lebih lanjut pada biaya pinjaman di bulan-bulan mendatang.
Pasar keuangan memperhitungkan adanya peluang sekitar 68,6% untuk kenaikan suku bunga lagi bulan depan, sebagaimana ditunjukkan oleh perangkat FedWatch milik CME.
Lukman pun memperkirakan kurs rupiah hari ini akan melemah di kisaran 17.900 hingga 18.000 per dolar AS.
