Rupiah Tembus Lagi 18.000 per US$, Tertekan Proyeksi Kenaikan Bunga The Fed
Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menembus level 18.000 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Kurs rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS imbas kspektasi kenaikan suku bunga the Fed dan imbal hasil obligasi AS.
"Investor juga cenderung berhati-hati dalam pekan yang padat data dengan ekonomi penting, traders menantikan rilis data pekerjaan AS Jolt malam ini," ujar Analis Doo Financial Lukman Leong, Selasa (29/2).
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) rencananya merilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk Agustus 2026 pada Selasa (29/9) pukul 10.00 waktu setempat atau 21.00 WIB. Data ini akan menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan permintaan tenaga kerja AS di tengah tanda-tanda pasar kerja mulai kehilangan momentum.
Pada Juli, jumlah lowongan pekerjaan AS relatif stabil di 7,3 juta dengan tingkat lowongan 4,4%. Namun, angka tersebut masih jauh di bawah rekor 12,3 juta pada Maret 2022, menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja telah melemah dari level pascapandemi.
Data JOLTS Agustus menjadi perhatian karena dapat menunjukkan apakah ketahanan pasar kerja yang tercermin dalam NFP juga terlihat dari sisi permintaan tenaga kerja. Jika lowongan dan perekrutan kembali menguat, hal tersebut akan memberikan gambaran berbeda dibanding tren pelemahan yang terlihat sejak beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, ia memperkirakan aliran dana asing dan permintaan dolar oleh importir masih akan membebani importir. Ia memperkirakan kurs rupiah hari ini akan bergerak dalam rentang 17.900-18.050 per dolar AS.
