Ekspor dan Impor Melesat, Neraca Perdagangan September Surplus US$ 3,36 Miliar
Badan Pusat Statistik mencatat, neraca perdagangan pada September 2026 mengalami surplus sebesar US$ 3,36 miliar. Kinerja ini sedikit menurun dibandingkan surplus pada bulan sebelumnya yang mencapai US$ 3,55 miliar maupun kinerja September 2025 yang mencapai US$ 4,55 miliar.
Adapun surplus neraca perdagangan ini diperoleh berkat kinerja ekspor yang mencapai US$ 27,59 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$ 24,23 miliar.
Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, kinerja ekspor meningkat 11,87% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang naik hingga 12,39% menjadi US$ 26,64 miliar, sedangkan ekspor migas turun 0,99% menjadi US$ 0,95 miliar.
"Kenaikan ekspor nonmigas terutama didorong oleh beberapa komoditas, yaitu lemak dan minyak hewan nabati naik 89,04% secara yoy, tembaga dan barang daripadanya juga naik cukup tinggi 165,97% secara yoy, mesin dan perlengkapan elektrik juga naik 24,37% secara yoy," ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/11).
Di sisi lain, Ateng mencatat, kenaikan impor pada September 2026 lebih tinggi dibandingkan ekspor yakni mencapai 18,41% secara tahunan. Kenaikan impor terutama didorong oleh komoditas migas yang mencapai 23,94% menjadi US$ 3,27 muliar. Sedangkan impor komoditas nonmigas naik 17,59% menjadi US$ 20,96 miliar.
BPS mencatat, neraca perdagangan mencatatkan surplus secara kumulatif sepanjang Januari-September 2026 mencapai US$ 10,61 miliar. Capaian ini anjlok dibandingkan Januari-September 2025 yang mencapai US$ 33,54 miliar.
Neraca perdagangan nonmigas secara kumulatif pada tahun ini mencatatkan surplus US$ 34,21 miliar, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 47,4 miliar. Sedangkan defisit pada neraca perdagangan nonmigas secara kumulatif membengkak dari US$ 13,86 miliar menjadi US$ 23,6 miliar.
