PVMBG Pastikan Suara Dentuman di Jabodetabek Bukan dari Anak Krakatau

Suara dentuman yang terdengar di wilayah Jabodetabek berasal dari sumber lain yang tidak diketahui, bukan dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Image title
11 April 2020, 15:36
erupsi gunung anak krakatau, gunung anak krakatau, anak krakatau erupsi, dentuman anak krakatau
ANTARA FOTO/Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada 2019 lalu. PVMBG memastikan suara dentuman yang terdengar di Jabodetabek bukan berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan dentuman yang terdengar oleh sebagian masyarakat di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) bukan berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Bukan (dari Gunung Anak Krakatau), melainkan dari sumber lain. Nah, sumber lainnya kami tidak bisa menentukan," kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Nia Khaerani di Jakarta, Sabtu (11/4).

Dia mengatakan bahwa berdasarkan laporan dari pos pemantauan terdekat di sekitar Gunung Anak Krakatau, petugas tidak menemukan bahwa dentuman itu berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau karena intensitas erupsinya relatif kecil.

Sehingga tidak mungkin menghasilkan suara dentuman yang terdengar sampai 125 kilometer ke wilayah Jabodetabek. "Apalagi di pos pengamatan Gunung Anak Krakatau sendiri yang jaraknya 42 km. Itu tidak terdengar," katanya.

Advertisement

(Baca: Anak Krakatau Erupsi 38 Menit Tadi Malam, Kolom Abu Setinggi 500 Meter)

Meski demikian, petugas di sekitar pos pemantauan Gunung Gede, Bogor, dan Gunung Salak di Sukabumi, menurut laporan memang mendengar juga adanya suara keras.

Tetapi mereka dan juga petugas di sekitar Gunung Anak Krakatau menduga suara itu berasal dari petir saat hujan petir yang terjadi menyusul erupsi.

"Jadi bukan hanya di Gunung Gede dan Gunung Salak yang mendengar petir, di sekitar Gunung Anak Krakatau pada saat bersamaan dengan erupsi itu memang terdapat juga hujan petir, karena saat ini sedang musim hujan disertai petir," katanya.

Terkait dengan suara dentuman, PVMBG sendiri memasang alat bernama infrasound untuk merekam kemungkinan adanya sinyal akustik dari erupsi gunung api.

(Baca: Ahli Vulkanologi Belum Pastikan Dentuman Berasal dari Anak Krakatau)

Namun, infrasound hanya merekam gelombang suara yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia, berbeda dengan dentuman yang terdengar oleh sebagian masyarakat di wilayah Jabodetabek.

"Jadi walaupun dengan alat itu dia terekam, tapi kan frekuensinya berbeda dengan dentuman yang langsung bisa terdengar oleh telinga manusia," katanya.

Oleh karena itu, Nia memastikan suara dentuman menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau bukanlah berasal dari gunung tersebut, melainkan dari sumber lain yang belum diketahui secara pasti.

Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar dalam tulisannya di akun Instagram resmi PVMBG KESDM menyimpulkan, bahwa ancaman primer yang langsung dari erupsi Gunung Anak Krakatau bersifat lokal karena lontaran batu atau lava hanya terlokalisir di tubuh gunung api.

(Baca: Ancaman Erupsi Gunung Api di Indonesia)

"Sangat kecil kemungkinan, bahkan diabaikan ancaman bahaya seperti ini sampai ke Pulau Jawa atau Sumatera," katanya. Suara dentuman, lanjut dia, tidak merefleksikan eksplosivitas erupsi, tidak juga dapat dijadikan indkator akan terjadinya erupsi besar.

Ancaman bahaya sekunder berupa abu vulkanik jangkauannya dapat lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin. "Untuk hal itu PVMBG sudah menerbitkan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dengan kode warna orange," katanya.

VONA tersebut sudah terintegrasi dengan sistem penerbangan sehingga tindak lanjut dari stakeholder dari penerbangan dapat dilakukan.

Untuk itu, PVMBG mengimbau masyarakat di Pulau Jawa dan Sumatera untuk tidak khawatir terhadap kemungkinan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

(Baca: Peneliti Ragu Kesiapan Pemerintah Hadapi Bencana Alam di Tengah Corona)

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait