Sudah Tersebar di 19 Provinsi, Pemerintah Waspadai Varian Omicron BA.2

Sub varian Omicron BA.2 menjadi penyebab meningkatnya kasus Covid-19 di berbagai negara seperti Hongkong, Korea Selatan, dan Inggris.
Image title
15 Maret 2022, 20:28
varian omicron, omicron ba.2, virus corona, covid-19
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Warga melintas di depan tentang mural COVID-19 di Jakarta, Selasa (2/11/2021).

Pemerintah tengah mewaspadai penyebaran sub-varian Omicron BA.2. Satgas Penanganan Covid-19 mengatakan anak varian Omicron itu sudah tersebar di belasan provinsi di Indonesia.

"Saat ini terdeteksi di 19 provinsi," kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers secara daring, Selasa (15/3).

Berdasarkan data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) pada 13 Maret 2022, jumlah sub-varian Omicron BA.2 sudah mencapai 8.302 sekuens di Tanah Air.

Ia pun memastikan, pencegahan penularan Covid-19 harus dilakukan pada setiap individu. Setiap orang wajib melindungi kesehatan diri sendiri dan orang lain dengan disiplin protokol kesehatan.

Advertisement

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan tidak melihat tanda kenaikan kasus Covid-19 meski sub-varian BA.2 sudah mendominasi di Indonesia. Kasus sudah menurun di berbagai daerah, kecuali di Kalimantan Utara dan Nusa Tenggara Timur. Ia juga berharap, lonjakan kasus Covid-19 tidak terjadi di Indonesia.

Pemerintah pun mengamati peningkatan kasus Covid-19 di Hongkong, Korea Selatan, dan Inggris. Ketiga negara ini juga mengalami lonjakan kasus corona karena sub-varian BA.2. Hongkong bahkan mengalami lonjakan kasus kematian pada pasien Covid-19.

Budi mengatakan, kenaikan jumlah pasien yang meninggal terjadi karena vaksinasi di wilayah tersebut masih rendah, sekitar 26%. "Dan hampir seluruh kematian yang terjadi di Hongkong, yang memenuhi rumah sakit, itu lansia," ujar dia.

Untuk itu, pemerintah tengah mempercepat program vaksinasi Covid-19, khsususnya kepada lansia. Target yang dikejar meliputi vaksinasi dosis primer dan dosis penguat atau booster.

Dilansir dari Reuters, Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Nicksy Gumede-Moeletsi mengkhawatirkan perkembangan Covid-19 varian Omicron BA.2. Pasalnya, sub-varian ini sulit ditemukan sebagai salah satu bentuk varian Omicron.

Gumede-Moeletsi berujar BA.2 sulit dideteksi lantaran sub-varian ini tidak selalu mampu dideteksi oleh kriteria S-Gene Target Failure. Kriteria tersebut digunakan untuk membedakan varian Omicron original atau BA.1 dengan varian lainnya.

Salah satu kriteria BA.1 adalah sub-varian ini kehilangan satu dari tiga gen yang biasanya ditemukan dalam tes PCR. Namun demikian, BA.2 tidak memiliki gen yang hilang seperti BA.1.

Sub-varian BA.2 juga menjadi penyebab utama kasus Covid-19 di beberapa negara, seperti Denmark. Departemen Kesehatan Filipina juga mengumumkan BA.2 telah ditemukan dalam sampel tes Covid-19 yang diterima pada akhir Januari 2022.

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait