Kominfo akan Manfaatkan Frekuensi dari Migrasi ke TV Digital Untuk 5G

Dari proses migrasi ke TV digital akan menghasilkan digital dividen berupa efisiensi frekuensi sebesar 112 Mhz yang akan dialokasikan untuk 5G.
Image title
Oleh Fahmi Ahmad Burhan
28 Januari 2020, 20:29
migrasi tv analog, tv digital, digital dividen, teknologi 5g
ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY
Teknisi melakukan pengesetan jaringan 5G sebelum berlangsungnya ujicoba jaringan di Jakarta. Migrasi ke TV digital akan menghasilkan efisiensi frekuensi sebesar 112 Mhz yang akan dialokasikan untuk pengembangan teknologi 5G oleh Kominfo.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan mendapatkan digital dividen dari perubahan siaran televisi (TV) analog ke TV digital (analog switch off/ASO) berupa efisiensi frekuensi sebesar 112 megahertz/Mhz. Dividen itu akan dimanfaatkan Kominfo untuk pengembangan teknologi 5G.

Direktur Jenderal Sumber Daya dan perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI) Kemkominfo Ismail mengatakan TV analog saat ini memanfaatkan sumber daya frekuensi yang cukup besar yaitu 700 Mhz. Apabila analog sudah beralih ke digital, akan ada ruang kosong sebesar 112 Mhz yang bisa dimanfaatkan.

"Dividen itu signifikan. Dari yang kosong itu akan dimanfaatkan dan bakal band coverage 5G juga," ujar dia dalam rapat dengan DPR membahas RUU Penyiaran di Jakarta pada Selasa (28/1).

(Baca: Kominfo Targetkan Migrasi TV Analog ke Digital Paling Lambat 2024)

Meski demikian, Kementerian Kominfo harus menunggu undang-undang (UU) yang mengatur peralihan analog ke digital. Adapun RUU Penyiaran yang akan mengakomodasi peralihan analog ke digital saat ini sudah masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas.

"Kami menunggu RUU Penyiaran selesai, salah satunya untuk pemanfaatan itu (deviden)," ujar Ismail. (Baca: Kominfo Targetkan Migrasi TV Analog ke Digital Paling Lambat 2024)

Saat ini pemerintah juga sedang menyusun peta jalan atau roadmap teknologi 5G. Menurutnya, adopsi teknologi 5G bukan hanya urusan infrastruktur saja, Kementerian Kominfo masih harus memikirkan dampaknya pada keamanan data pribadi.

Dia menjelaskan bahwa sejauh ini, ada tiga frekuensi 5G yang memungkinkan untuk digunakan, yakni 26-28 GHz, 3,5 GHz dan 700 Mhz-2,3 GHz. Ketiga frekuensi ini mewakili kapasitas data upper, middle, dan lower. Frekuensi 3,5 GHz dinilai cocok untuk digunakan 5G. Hanya saja, frekuensi tersebut perlu diharmonisasi lagi karena sudah digunakan untuk satelit.

Ismail mengatakan, Kementerian Kominfo membuka seluas-luasnya uji coba 5G pada beberapa operator. "Kalau uji coba yang penting belum komersial dulu," kata dia.

Tahun lalu beberapa operator sudah melakukan uji coba jaringan 5G diantaranya Telkomsel, Indosat, XL dan Smartfren. Berdasarkan jadwal (timeline), uji coba jaringan tersebut masih berlanjut hingga tahun ini.

(Baca: Pemerintah Gunakan Pendekatan Nexus Tax agar Netflix Bisa Bayar Pajak)

Potensi bisnis bagi operator dari penerapan teknologi 5G dianggap besar. Berdasarkan riset AT Kearney 2019, prediksi monetisasi 5G oleh operator di Indonesia mencapai sekitar US$ 1,4 - 1,83 juta pada 2025. Nilai ini lebih tinggi dari Thailand yang hanya berkisar US$ 850 ribu - 1,17 juta dan Malaysia sekitar US$ 660 - 900 ribu.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan

Video Pilihan

Artikel Terkait