Google Terancam Denda US$ 5 Miliar karena Lacak Internet Pribadi

Google diduga melacak aktivitas internet penggunanya meskipun telah menggunakan mode 'samar' atau 'private'.
Image title
4 Juni 2020, 10:09
google, denda 5 miliar,
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Google terancam denda hingga US$ 5 miliar atau sekitar Rp 70 triliun karena diduga melacak aktivitas internet penggunanya yang telah menggunakan mode 'samar' atau 'private'.

Google terancam denda US$ 5 miliar atau sekitar Rp 70,7 triliun karena melacak penggunaan internet 'pribadi' pengguna secara ilegal. Pelacakan terjadi meskipun pengguna internet telah menggunakan mode 'incognito' atau samar pada browsernya.

Gugatan diajukan oleh jutaan pengguna Google di Amerika Serikat (AS) yang menjelajah internet dalam mode 'pribadi' atau 'incognito' sejak 1 Juni 2016. Masing-masing mengajukan ganti rugi sebesar US$ 5.000 berdasarkan undang-undang penyadapan federal dan undang-undang privasi California.

Unit Alphabet Inc. ini dituduh secara diam-diam mengumpulkan informasi tentang apa yang pengguna internet lihat secara online, dan di mana mereka menjelajah.

Menurut pengaduan yang diajukan di Pengadilan Federal di San Jose, California, AS, Google mengumpulkan data melalui Google Analytics, Google Ad Manager, dan plug-ins situs web lainnya, termasuk aplikasi smartphone, terlepas dari apakah pengguna mengklik iklan yang didukung Google atau tidak.

Advertisement

(Baca: Facebook, PayPal, Google hingga Tencent Suntik Investasi ke Gojek)

Hal ini membuat Google dapat mempelajari tentang informasi pribadi pengguna internet, seperti jaringan pertemanan, hobi, makanan favorit, kebiasaan berbelanja, dan bahkan hal-hal yang paling intim dan berpotensi memalukan yang mereka cari secara online.

"Google tidak dapat terus terlibat dalam pengumpulan data rahasia dan tidak sah dari hampir setiap orang Amerika dengan komputer atau telepon," ujar keluhan itu dikutip dari China South Morning Post, Kamis (4/6).

Juru bicara Google, Jose Castaneda, mengatakan bahwa pihaknya akan membela diri dari gugatan tersebut dengan sekuat tenaga. "Seperti yang kami nyatakan dengan jelas setiap kali Anda membuka tab penyamaran baru, situs web mungkin dapat mengumpulkan informasi tentang aktivitas penjelajahan Anda," ujarnya.

Sementara pengguna melihat mode penjelajahan pribadi sebagai tempat yang aman dari pengawasan, para peneliti keamanan komputer telah lama mencurigai Google dan para pesaingnya mengumpulkan profil pengguna dengan melacak identitasnya di berbagai mode penjelajahan dan menggabungkan data dari penjelajahan internet pribadi dan internet biasa.

(Baca: Google Uji Coba Fitur Konfirmasi Pembayaran dengan Perintah Suara)

Reporter: Cindy Mutia Annur
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait