Wamenkeu Ungkap Bisnis Menggiurkan dari Inklusi Keuangan bagi Bank

Wamenkeu menyatakan inklusi keuangan dan pendalaman pasar bisa meredakan volatilitas. Juga bisnis yang menjanjikan.
Agatha Olivia Victoria
Oleh Agatha Olivia Victoria
6 November 2019, 16:14
wakil menteri keuangan, kementerian keuangan, inklusi keuangan, pendalaman pasar keuangan
ANTARA FOTO/PRASETIA FAUZANI
Ilustrasi kegiatan Pekan Inklusi Keuangan di Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (18/10/2019) yang digelar OJK bersama Bank Indonesia. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mendorong agar perbankan meningkatkan inklusi keuangan dan melakukan pendalaman pasar untuk meredakan volatilitas di pasar keuangan.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan rencana untuk memperbaiki sektor keuangan dalam beberapa perspektif. Salah satu perspektif tersebut yakni melalui peningkatan inklusi keuangan. Dia berharap industri perbankan terus mendorong inklusi dan memperdalam pasar keuangan. 

"Inklusi merupakan bisnis yang menjanjikan. Apalagi kalau 190 juta penduduk pendapatannya naik terus, bahkan yang berada di paling bawah sekalipun," kata Suahasil dalam acara Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019 di hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/11).

Melalui inklusi ini,  akases layanan keuangan bagi masyarakat akan makin membaik. Sehingga, penduduk Indonesia bisa meningkatkan pendapatannya secara mandiri.

Maka dari itu, lewat inklusi keuangan, industri perbankan bisa memperbesar perekonomiam bangsa. "Ini pekerjaan rumah bagi beberapa perbankan agar mendapat ide baru untuk melakukan inklusi keuangan yang kuat," ujarnya.

(Baca: OJK Sebut Inklusi Keuangan Tahun Ini Sudah Melampaui Target)

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif, inklusi keuangan adalah sebuah kondisi dimana setiap anggota masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal yang berkualitas, tepat waktu, lancar, dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Di Indonesia, kelompok masyarakat yang diprioritaskan untuk mendapat akses keuangan antara lain masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau keluarga prasejahtera, pelaku UMKM, pekerja migran, wanita, disabilitas, anak terlantar, lansia, penduduk daerah tertinggal, serta pelajar dan pemuda.

Menurut data Global Findex 2017, tingkat inklusi keuangan di Indonesia mencapai 48,9% atau 12% lebih tinggi dibanding hasil Global Findex 2014 yang menunjukkan baru sekitar 36% penduduk dewasa di Indonesia yang memiliki akses terhadap lembaga keuangan formal.

Tak hanya inklusi keuangan, Suahasil juga menilai, pendalaman sektor keuangan menjadi pekerjaan penting Indonesia. Apalagi mengingat di dalam pendalaman sektor keuangan terdapat banyak dimensi seperti mobilisasi dana, instrumen, dan lainnya. "Tanpa pendalaman, (pasar) keuangan kita akan terus volatil," katanya.

(Baca: Darmin Sebut Fintech Ampuh Dorong Inklusi Keuangan Dibandingkan Bank)

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Video Pilihan

Artikel Terkait