Jokowi: Intoleransi Sering Terjadi karena Pengaruh Politik

Kepentingan politik yang dijalankan dengan cara tidak beretika ini acapkali membuat masyarakat berbenturan sehingga harus dihindari.
Ameidyo Daud Nasution
Oleh Ameidyo Daud Nasution
12 November 2018, 21:07
Pelantikan Gubernur
Oji/Humas Kepresidenan
Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin kirab pasangan kirab pasangan Gubernur-Wakil Gubernur Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan, dari Istana Merdeka menuju Istana Negara, Jakarta, Senin (1/10).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai intoleransi kerap terjadi karena pengaruh peristiwa politik dari Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) hingga Pemilihan Presiden (Pilpres). Kepentingan politik yang dijalankan dengan cara tidak beretika ini acapkali membuat masyarakat berbenturan sehingga harus dihindari.

Hal tersebut disampaikan Presiden ketika menerima para milenial serta anggota paduan suara gereja di Istana Bogor. Para milenial tersebut merupakan peserta Kongres Indonesia Millennial Movement 2018, sedangkan paduan suara yang hadir merupakan panitia dan pemenang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani).

"Pemilihan bupati, walikota, gubernur, dan presiden. Kejadiannya banyak dimulai dari situ," kata Jokowi kepada para milenial seperti dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Presiden, Jakarta, Senin (12/11). Ia mencontohkan, media sosial kerap berisi muatan intoleransi dan mengaduk-aduk masyarakat. Hal ini berbahaya karena berpotensi menimbulkan perpecahan.

Hal yang sama disampaikan di depan Pepari. Jokowi berharap intoleransi dan ekstremisme tidak merasuk ke masyarakat. Jokowi bahkan memberi contoh paduan suara mengajarkan filosofi kerukunan Indonesia. Dia mengatakan suara sopran, alto, tenor, serta bas dalam paduan tidak saling mendominasi.

Sebaliknya membuat kesatuan suara yang indah. "Harus saling menjaga dan mengurangi ego masing-masing untuk mendapat suara yang padu, harmonis, dan indah," kata Jokowi.

(Baca: Program Ekonomi Prabowo-Sandi Dinilai Mirip dengan Jokowi-Ma'ruf)

Jokowi khawatir apabila masyarakat terus berkutat dalam kondisi ini, masyarakat akan sulit menghadapi tantangan seperti revolusi industri keempat. Apalagi revolusi terbaru ini menyebabkan lanskap kehidupan masyarakat berubah dan perlu segera direspons. "Jangan sampai perubahan membawa ke dalam intoleransi dan ekstremisme berlebihan," kata dia.

Kongres Indonesia Millennial Movement 2018 diselenggarakan oleh Maarif Institute for Culture and Humanity bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November lalu. Melalui kongres tersebut, para generasi milenial Indonesia berkomitmen untuk mempromosikan perdamaian, mencegah ekstremisme, serta kekerasan. Deklarasi yang terdiri atas 6 butir sebagai hasil kongres dibacakan di hadapan Presiden pada Senin, 12 November 2018.

Presiden sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Maarif Institute dengan kongres yang diselenggarakannya. Dengan peran aktif serupa, Presiden merasa yakin akan lebih banyak pihak yang tergerak untuk membawa negara ini kepada kemajuan.

"Tapi dengan cara-cara yang sejuk, yang baik. Selalu saya sampaikan, marilah kita hijrah dari ujaran-ujaran kebencian pada ujaran-ujaran kebenaran, hijrah dari pesimisme ke optimisme, hijrah dari pola-pola yang konsumtif ke produktif, hijrah dari kegaduhan-kegaduhan ke persatuan dan kerukunan. Karena itulah yang dibutuhkan," ujarnya.

(Baca: Prabowo Klaim 99% Rakyat Hidup Pas-pasan, Jokowi: Angkanya dari Mana?)

Video Pilihan

Artikel Terkait