Kuartal III 2018, Pembiayaan Syariah Topang Kinerja Maybank Indonesia

Pembiayaan syariah Maybank Indonesia melejit 39,6% menjadi Rp 23,8 triliun dan berkontribusi 18,1% terhadap total kredit bank.
Image title
Oleh Hari Widowati
29 Oktober 2018, 12:00
uang rupiah
KATADATA
uang rupiah

Penyaluran kredit PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) hingga kuartal III 2018 tumbuh 7,8% menjadi Rp 131,2 triliun. Pembiayaan syariah yang melejit 39,6% menjadi Rp 23,8 triliun menjadi pendorong kinerja perusahaan.

Menurut manajemen Maybank Indonesia, pembiayaan syariah berkontribusi terhadap 18,1% dari total kredit bank. Di segmen kredit lainnya, kredit perbankan global meningkat 10,4% menjadi Rp 31,1 triliun, terutama dari pembiayaan proyek-proyek infrastruktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Di segmen kredit CFS-Non Retail, yang terdiri atas kredit Usaha Mikro, Usaha Kecil & Menengah (UMKM) dan Business Banking tumbuh 8,6% menjadi Rp 55,8 triliun per 30 September 2018. Sementara, kredit CFS Retail meningkat 5% menjadi Rp 44,3 triliun per September 2018.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, meskipun perseroan memulai tahun ini dengan lambat dan di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan, berhasil meraih kembali momentum dan memperbaiki kondisi operasional. “Perbankan global terus menjadi kontributor utama bagi pertumbuhan aset kami dan menunjukkan kapabilitas yang berbeda di pasar melalui produk yang inovatif dengan menyediakan fasilitas hedging syariah pertama kepada nasabah korporasi kami," ujar Taswin dalam siaran pers.

Meski kredit tumbuh cukup tinggi, laba bersih setelah pajak dan kepentingan non-pengendali perseroan hanya naik 3,4% menjadi Rp 1,5 triliun. Pendapatan bunga bersih (net interest income) menjadi penyumbang utama laba bersih perseroan, dengan kenaikan 5,5% menjadi Rp 6 triliun. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan naik 6 bps menjadi 5,2% per 30 September 2018.

Maybank juga melaporkan kualitas aset yang meningkat signifikan dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun 120 bps menjadi 2,7% dan NPL net turun 90 bps menjadi 1,5%. "Kami tetap optimis bahwa kami dapat menutup tahun keuangan 2018 dengan hasil yang baik meskipun di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan terus berlanjut sampai akhir tahun," kata Taswin. Maybank Indonesia memiliki total modal Rp 25,3 triliun dengan rasio capital adequacy ratio (CAR) sebesar 18,8% per 30 September 2018.

(Baca: Likuiditas Bank Ketat, Selisih Kredit & DPK Tersisa Rp 99 T Akhir 2018)

Anak Perusahaan

Anak usaha Maybank Indonesia yang bergerak di bidang pembiayaan sepeda motor, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF), juga menunjukkan peningkatan kinerja pada periode sembilan bulan 2018. Laba sebelum pajak meningkat signifikan sebesar 52,1% menjadi Rp 201,0 miliar per September 2018. Total portofolio pembiayaan WOM meningkat 38% menjadi Rp 8,4 triliun per September 2018.

"WOM tetap fokus pada peningkatan strategi collection dan adopsi praktek manajemen risiko yang prudent untuk memastikan kualitas aset yang baik. Sebagai hasilnya, kualitas aset WOM meningkat dengan NPL net sebesar 0,75%, lebih rendah dibandingkan September 2017 sebesar 1,08%," kata Taswin.

Sementara itu, PT Maybank Indonesia Finance (Maybank Finance), perusahaan pembiayaan kendaraan roda empat, membukukan laba sebelum pajak Rp 298,3 miliar atau naik 12,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja perusahaan disertai perbaikan kualitas aset dengan NPL net terjaga di level 0,3%.

Hingga pukul 11.30 WIB, harga saham BNII naik 0,99% menjadi Rp 204. Adapun saham WOMF turun 1,31% menjadi Rp 302.

(Baca: Ekspansi ke Fintech, Line Financial Beli 20% Saham Bank KEB Hana)

 

 

 

Video Pilihan

Artikel Terkait