Mengenal Big Data Media Sosial yang Menghebohkan

St Wisnu Wijaya
Oleh St Wisnu Wijaya
25 April 2022, 08:10
St Wisnu Wijaya
Ilustrator: Joshua Siringo Ringo | Katadata
Senior Lecturer S1Digital Business Technology - Direktur Riset dan Inovasi Universitas Prasetiya Mulya

Akhir-akhir ini kita mendengar istilah big data yang disampaikan oleh satu pejabat penting negeri ini. Dia menyatakan bahwa ada 110 juta data percakapan media sosial yang mendukung penundaan pemilu 2024.

Terminologi big data pun menjadi key word yang banyak dicari di Google. Sebenarnya, apakah big data tersebut? Bagaimana kita mendapatkannya? Dan bagaimana kita mengolah agar bisa mendapatkan kesimpulan yang valid dari Big Data?

Advertisement

Istilah big data dipopulerkan oleh John Masey dalam presentasinya pada 1998 yang berjudul “Big Data...and the Next Wave of InfraStress” (https://static.usenix.org/event/usenix99/invited_talks/mashey.pdf). 

Big data menjadi sangat populer ketika Roger Mougalas dari OReally Media menggunakan istilah ini untuk merujuk pada sekumpulan data yang volumenya sangat besar dan tidak dapat diolah dengan metode dan teknologi pengolahan data tradisional. Di tahun yang sama, lahirlah Hadoop, teknologi pengolahan data yang mampu mengolah sejumlah data yang sangat besar.

Selain volume yang sangat besar, big data juga memiliki karakteristik bervariasi sumber dan property data yang populer disebut sebagai variety. Sumber data dapat berasal dari media sosial, data transaksi perusahaan, maupun data dari mesin mesin cerdas. Tentu saja property dari data tersebut bervariasi, contohnya data media sosial dapat berupa data teks percakapan, gambar, dan video.

Selain memiliki variasi yang beragam, big data juga memiliki karakteristik tumbuh dengan cepat atau disebut dengan velocity. Contohnya adalah data percakapan media sosial yang tumbuh luar biasa setiap detik.

Big data yang bersumber dari media sosial merupakan hulu data yang menarik perhatian masyarakat, khususnya setelah kontroversi persoalan big data penundaan pemilu yang sempat menghebohkan belakangan ini.

Berdasarkan data dari We Are Social, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 191,4 juta pengguna atau sekitar 68,9 % dari total populasi. Jumlah ini tersebar di berbagai platform media sosial mulai dari Facebook, Youtube, Instagram, Tik Tok, dan Twitter.

Setiap orang bisa memiliki akun di berbagai platform tersebut. Rincinya, pengguna Facebook mencapai 129,9 juta orang, Instagram 99,15 juta pengguna, Youtube 139 juta pemakai, Tik Tok 92 juta pengguna sedangkan Twitter sebanyak 18 juta pengguna.

Tentu saja jumlah pemakai yang sangat besar ini dapat menciptakan konten dan relasi antar-pengguna yang sangat besar sekali. Volume data yang sangat besar ini perlu diolah dengan pendekatan tertentu yang berbeda dengan pengolahan data secara tradisional, memerlukan teknologi artificial intelligence serta kemampuan komputasi yang super.

Halaman:
St Wisnu Wijaya
St Wisnu Wijaya
Dean School of Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) Universitas Prasetiya Mulya

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke [email protected] disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement