Masihkah Kita Kenal Pahlawan dalam Rupiah?

Bela Adelia Puspita Sari
Oleh Bela Adelia Puspita Sari
10 November 2025, 07:05
Bela Adelia Puspita Sari
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saya masih ingat ketika kecil, ibu selalu mengajarkan sesuatu yang terdengar sederhana: “Kalau menerima uang, pakai tangan kanan, jangan diremas ya. Nanti gambar pahlawannya nangis.” Waktu itu saya tidak terlalu memahami maksudnya. Bagi saya, uang hanyalah benda untuk membeli jajanan sekolah atau ditabung dalam celengan ayam.

Namun kini, uang tidak lagi melekat di tangan kita. Kita bertransaksi melalui layar ponsel, kode QR, dan instrumen digital lain yang bahkan tidak memiliki bentuk fisik. Kita membayar, memindahkan nilai, dan mengelola keuangan tanpa menyentuh apa pun. Di titik ini, saya mulai memahami pesan ibu saya dulu: hubungan kita dengan uang bukan hanya soal angka, tetapi soal identitas.

Di setiap lembar rupiah, ada wajah pahlawan, orang-orang yang hidupnya ditujukan untuk membangun sesuatu yang lebih besar dari kepentingan dirinya sendiri. Tetapi ketika uang fisik semakin jarang kita genggam, apakah kedekatan batin kita dengan pahlawan dan dengan gagasan “Indonesia” ikut memudar?

Rupiah Sedang Bertransformasi

Dalam laporan Sistem Pembayaran Bank Indonesia 2023, nilai transaksi pembayaran digital tumbuh sekitar 630% selama 2019-2023. QRIS kini digunakan oleh lebih dari 35,8 juta merchant, dengan 89% di antaranya adalah UMKM. Pertumbuhan ini terjadi bukan hanya di kota besar, tetapi juga di pasar tradisional, pesisir, dan pelabuhan.

Di Pelabuhan Paotere, Makassar, saya berbincang dengan Bu Elly, 47 tahun, pedagang ikan. Ia bercerita: “Sekarang banyak pembeli bayar pakai QR. Tidak perlu mencari kembalian, semuanya cepat. Tapi kalau ditanya siapa orang di uang kertas itu, saya rasa banyak anak-anak sekarang sudah tidak tahu lagi.”

Pernyataan itu sederhana, tetapi membuka ruang refleksi yang dalam: ketika uang beralih bentuk, pengalaman emosional yang menyertai penggunaannya ikut berubah.

Uang Fisik Menghilang, Tetapi Makna Tidak Boleh Hilang

Negara mengeluarkan mata uang bukan hanya untuk memudahkan transaksi. Mata uang adalah pernyataan keberadaan dan kedaulatan. Bahkan dalam ekonomi digital, identitas tetap melekat.

Ketika saya berbincang dengan seorang kolega yang bekerja sebagai analis sistem pembayaran, ia mengatakan sesuatu yang sangat tepat: “Di banyak negara, mata uang adalah ruang tempat identitas nasional hidup. Ketika uang menjadi digital, pertanyaannya bukan lagi ‘apa bentuknya’, tetapi ‘apakah maknanya tetap tersampaikan.”

Di sinilah tantangan kita. Peralihan menuju sistem pembayaran digital adalah langkah penting—efisiensi meningkat, biaya transaksi menurun, ekonomi menjadi lebih inklusif. Tetapi ada risiko yang jarang dibahas: Ketika kita tidak lagi menyentuh uang, kita juga kehilangan kesempatan untuk menyentuh ingatan kolektif.

Kedaulatan Bukan Hanya Regulasi

Kedaulatan sering dibahas dalam bahasa kebijakan: instrumen moneter, suku bunga acuan, operasi pasar, dan sistem pengawasan keuangan. Tetapi kedaulatan pada lapisan terdalam adalah rasa memiliki. Rasa itu muncul bukan dari pidato atau slogan, tetapi dari hal-hal kecil yang terus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya, dulu, adalah uang fisik.

Tanpa kesadaran simbolik itu, mata uang dapat menjadi netral secara emosi. Dan ketika mata uang kehilangan makna, negara kehilangan daya rekatnya. Survei Kemendikbud 2022 mengenai literasi identitas nasional menemukan bahwa hanya 31% responden usia 15-22 tahun yang dapat menyebut dengan benar nama pahlawan yang wajahnya terdapat pada uang kertas rupiah.

Ini bukan masalah hafalan. Ini tanda bahwa hubungan antara generasi baru dengan sejarahnya mulai terputus.

Apa yang Kita Jaga di Era Digital?

Jawabannya bukan kembali ke uang tunai. Transformasi digital adalah langkah maju yang harus diteruskan. Yang perlu kita lakukan justru:

  1. Menghadirkan narasi rupiah di ruang digital. Bentuk boleh berubah, tetapi cerita tidak boleh hilang. Misalnya: e-wallet, mobile banking, dan QRIS dapat menampilkan informasi singkat tentang pahlawan atau sejarah mata uang dalam antarmuka penggunanya.
  2. Membuat pahlawan relevan dengan kehidupan hari ini. Membicarakan pahlawan bukan sebagai tokoh monumental, tetapi sebagai manusia yang mengambil keputusan berani dalam situasi sulit.
  3. Menempatkan pendidikan simbol negara sebagai bagian dari literasi keuangan. Bukan hanya “cara menggunakan uang,” tetapi juga “apa arti uang bagi kita sebagai negara”.

Hari Pahlawan dan Kita Hari Ini

Mungkin kita tidak lagi menggenggam uang dalam keseharian kita. Tetapi kita masih bisa menggenggam maknanya. Bahwa negara ini dibangun oleh orang-orang yang percaya bahwa ada hal yang layak diperjuangkan bersama. Bahwa identitas bukan hanya lambang, tetapi rasa. Bahwa pahlawan bukan hanya tokoh sejarah, tetapi siapa pun yang memilih untuk memelihara jalinan antara negara dan warganya.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah: “Apakah uang fisik akan hilang?” Melainkan: “Ketika bentuknya berubah, apakah kita masih mengingat untuk siapa negara ini berdiri?”

Karena sebuah bangsa berdiri tidak hanya karena dilindungi hukum—tetapi karena diingat, dirawat, dan dirasa. Dan selama rasa itu tetap kita jaga, rupiah—dalam bentuk apa pun—akan selalu punya rumah di tangan dan hati kita.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Bela Adelia Puspita Sari
Bela Adelia Puspita Sari
Public Finance & Taxation Observer

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...