Utopia Menjadikan Jawa Tengah “Kandang Gajah”
“Di 2029, Jawa Tengah kandang gajah. Wis ra usah kandang-kandangan sing liyane (Tidak usah kandang-kandangan yang lain).” – Kaesang Pangarep (Ketua Umum PSI)
Pernyataan Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, tersebut terdengar seperti deklarasi perang terbuka. Dengan percaya diri, putra bungsu Presiden Jokowi ini menargetkan runtuhnya mitos “Kandang Banteng” (PDIP) untuk digantikan oleh simbol baru partainya: Gajah.
Secara teoritis, ambisi Kaesang ini menarik karena menjadi eksperimen nyata dalam studi perilaku pemilih (voting behavior). Ia sedang menantang kemapanan pendekatan sosiologis (pemilih yang terikat kuat pada tradisi, sejarah, dan simbol partai) dengan pendekatan psikologis-rasional yang bertumpu pada pesona figur (Jokowi/Gibran). Pertanyaannya: apakah faktor ketokohan mampu dengan mudah meruntuhkan benteng loyalitas ideologis dan struktural yang sudah mengakar puluhan tahun?
Secara sekilas, ambisi ini terlihat memiliki momentum. Pada Pilpres 2024, mitos kedigdayaan mesin partai di Jawa Tengah seolah retak ketika pasangan Prabowo-Gibran berhasil mengungguli Ganjar-Mahfud. Namun, jika kita membedah anatomi suara pemilih menggunakan data-data elektoral—mulai dari tingkat volatilitas, sebaran suara spasial, hingga perilaku split-ticket voting—ambisi menjadikan Jawa Tengah sebagai “Kandang Gajah” tampaknya masih jauh panggang dari api. Data menunjukkan itu bukan hanya pekerjaan rumah yang berat, namun sebuah utopia statistik.
Pintu Terbuka, Tapi Sempit
Harus diakui, dinding pertahanan PDIP di Jawa Tengah tidak lagi kedap. Pada Pileg DPRD Provinsi, PDIP mengalami kontraksi suara dari 32,57% (2019) menjadi 26,59% (2024). Namun jika berdasarkan perhitungan Indeks Volatilitas (Pedersen)—yang mengukur perubahan perilaku pemilih antar pemilu—secara nasional tren volatilitas sebenarnya sedang menurun drastis ke angka 7,57 pada periode terakhir. Hal ini menandakan bahwa secara agregat, pemilih Indonesia semakin memiliki kecenderungan “ajeg” (setia) dan mapan pada pilihan partai tertentu.
Meski di tengah tren penurunan volatilitas tersebut, Jawa Tengah masih menyisakan kesempatan. Dengan skor volatilitas 11,60 (di atas pileg nasional), provinsi ini masih tergolong dinamis. Dinamika inilah yang menjadi celah masuk. Secara teoritis, pintu gerbang bagi penantang baru seperti PSI memang terbuka. Namun, “terbuka” bukan berarti mudah dimasuki.
Ilusi Kandang Gajah “Kota vs Desa”
Kelemahan terbesar narasi “Kandang Gajah” terungkap ketika kita membedah data spasial per Kabupaten/Kota. PSI terjebak dalam kandang kecil yang semu.
Data Pileg di tingkat lokal (DPRD Kabupaten/Kota) menunjukkan PSI hanya mampu hidup di habitat yang sangat sempit, tepatnya di dua wilayah perkotaan. Pertama di Kota Surakarta, PSI meraup 11,23% suara, dan yang kedua di Kota Semarang mencapai 10,47%. Angka ini memang impresif untuk partai non-parlemen. Namun, Jawa Tengah bukan hanya Semarang dan Solo.
Begitu melangkah keluar ke wilayah non-urban yang merupakan lumbung suara utama, “Sang Gajah” langsung kehilangan napas. Di Pileg DPRD Kabupaten Boyolali misalnya, suara PDIP mencapai 70,29%, sementara PSI hanya mampu mengais 0,55% suara. Pola serupa terjadi di basis pedesaan lain seperti Wonogiri (0,90%), Grobogan (0,90%), hingga Kebumen (0,29%). Belum lagi menghitung partai lain yang memiliki ambisi sama seperti Golkar, PKB, atau bahkan Gerindra.
Kenyataan ini menampar logika politik Kaesang. Menguasai dua kota yang jumlah pemilihnya hanya sekitar 6% dari DPT Jawa Tengah tidak akan pernah cukup untuk merebut provinsi yang memiliki 29 kabupaten dengan demografi pemilih tradisional yang masih sangat kuat. Infrastruktur PSI terbukti belum mampu menembus “tanah terjal” pedesaan.
Kegagalan Efek Ekor Jas
Argumen pamungkas yang mematahkan ambisi ini adalah data Split-Ticket Voting. Narasi bahwa popularitas Gibran atau Jokowi pada Pemilu 2024 otomatis akan membesarkan PSI ternyata tidak terbukti di bilik suara.
Data kembali menunjukkan gap (jurang) yang menganga lebar. Pasangan Prabowo-Gibran berhasil meraih 53,08% suara pada Pilpres Jateng, namun total suara gabungan partai pengusungnya (Koalisi Indonesia Maju) di DPRD Provinsi hanya 38,06%. Ada sekitar 15% pemilih yang memilih Gibran sebagai Wakil Presiden, namun menolak memilih partai koalisinya untuk wakil rakyat.
Lebih tragis bagi PSI, dari limpahan suara figur tersebut, mereka hanya mendapatkan 2,41% di tingkat provinsi. Rakyat Jawa Tengah terbukti sangat cerdas memilah. Mereka mungkin menyukai figurnya, tapi tidak serta-merta mempercayai institusi partainya.
Sebaliknya, PDIP menunjukkan soliditas ideologis yang mengesankan. Suara Ganjar-Mahfud di Jateng (34,35%) hampir identik presisi dengan total perolehan suara koalisi partai pengusungnya di Pileg DPRD (33,98%). Ini membuktikan bahwa pemilih PDIP adalah pemilih loyal yang tegak lurus antara pilihan presiden dan legislatif.
Kesimpulan
Menargetkan Jawa Tengah menjadi “Kandang Gajah” di 2029 adalah ambisi yang sah, namun data hari ini menunjukkannya sebagai angan-angan yang terlampau jauh. Volatilitas memang ada, namun Banteng terbukti memiliki resilience (daya tahan) yang kuat dengan basis massa pedesaan yang belum tergoyahkan. Sementara itu, PSI masih menjadi fenomena urban yang terisolasi dengan ketergantungan akut pada figur yang gagal dikonversi menjadi suara partai.
Oleh karena itu, alih-alih terus terjebak dalam politik gimik dan “kosmetik” media sosial, PSI sebaiknya mulai serius menjalankan fungsi fundamental partai politik seperti agregasi kepentingan dan kaderisasi struktural.
Kemenangan di “medan lumpur” seperti Jawa Tengah tidak bisa diraih hanya dengan political marketing udara yang mengandalkan figur. Kemenangan membutuhkan kerja pelembagaan partai (party institutionalization) yang nyata. Mulai dari membangun struktur di tingkat paling bawah sehingga mampu menyerap aspirasi petani di Boyolali atau nelayan di Tegal. Bukan sekadar memviralkan konten di Instagram atau TikTok.
Jika PSI gagal bertransformasi dari sekadar “Partai Jokowi” menjadi sebuah institusi modern yang mengakar secara ideologis dan struktural, maka di 2029 nanti, sang Gajah mungkin akan menjadi pemain sirkus figuran yang hanya “nimbrung” menghiasi panggung, sementara Banteng tetap kokoh menjadi pemain utama.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
