Zohran Mamdani dan Seni Menerjemahkan Ideologi ke Persoalan Hidup Sehari-hari
Kemenangan Zohran Mamdani di New York menandai babak baru komunikasi politik sosialis dunia. Ia bukan sekadar membawa jargon ideologis, melainkan arsitek komunikasi yang mampu menerjemahkan nilai abstrak sosialisme demokratis menjadi perjuangan material yang nyata. Di tengah dominasi narasi neoliberal, Mamdani menawarkan oase politik yang berbasis pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia
Masalah klasik yang sering menghinggapi gerakan politik progresif atau kelompok sosialis di seluruh dunia, termasuk di Indonesia adalah jebakan retorika yang terlalu teoritis, abstrak, dan sering kali hanya menjadi konsumsi elite intelektual di menara gading. Namun, Zohran Mamdani memutus mata rantai kegagalan komunikasi tersebut dengan menerapkan strategi “Materialist Communication” secara radikal.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa di tengah banjir informasi digital yang melelahkan, publik tidak membutuhkan kuliah mengenai dialektika sejarah atau perdebatan mengenai definisi sistem ekonomi pasca-kapitalisme. Bagi masyarakat kelas pekerja, politik adalah soal bertahan hidup. Oleh karena itu, Mamdani memindahkan episentrum diskursus politiknya dari “langit ideologi” ke “meja makan” konstituennya.
Strategi ini bukan sekadar penyederhanaan isu, melainkan sebuah taktik yang berbasis pada empati radikal terhadap kesulitan sehari-hari. Fokus komunikasinya tertuju pada variabel-variabel hidup yang paling nyata: biaya sewa rumah, akses kesehatan, harga pangan, dan transportasi publik.
Mamdani memahami bahwa psikologi pemilih modern cenderung skeptis terhadap janji-janji besar yang muluk. Dengan membicarakan hal-hal yang menyentuh “isi piring” dan “biaya hidup”, ia berhasil membangun relevansi instan yang melampaui sekat-sekat identitas etnis maupun agama.
Manifestasi nyata dari strategi ini terlihat dalam kampanye-kampanyenya yang viral namun sarat substansi, seperti “Fix the MTA” (Perbaiki Transportasi Publik) dan “Tax the Rich” (Pajak Orang Kaya).
Mamdani tidak menjual slogan “Tax the Rich” sebagai bentuk perlawanan atau kebencian terhadap kelas atas, melainkan sebagai sebuah bentuk keadilan ekonomi yang logis bagi masyarakat banyak untuk mewujudkan kesetaraan. Ia menarasikan bahwa bahwa pajak progresif dari orang kaya adalah sebuah sumber daya vital untuk memastikan hak-hak dasar kelas pekerja tetap terjaga.
Mamdani telah melakukan reframing radikal terhadap sosialisme demokratis di Amerika. Ia meruntuhkan stigma negatif era Perang Dingin dan menggantinya dengan narasi yang fungsional dan pragmatis. Baginya, radikalisme sejati bukanlah bahasa yang sulit, melainkan kemampuan menuntaskan akar persoalan hidup rakyat.
Strategi ini melahirkan kepercayaan publik yang organik. Dengan menjelaskan bagaimana kebijakan anggaran berdampak langsung pada penurunan tagihan listrik dan penghapusan utang medis, ia tidak lagi dianggap sebagai “ideologi utopis”, melainkan “politisi yang peduli” (Politics of Care).
Mamdani berhasil mengubah persepsi publik: politisi progresif kini dilihat sebagai pejuang politik yang bekerja nyata. Inilah yang membuat gerakannya tidak hanya menang di hati pemilih kelas pekerja yang selama ini terabaikan oleh narasi politik elite.
Narasi Perjuangan Kelas Sosdem Amerika
Gerakan Democratic Socialists of America (DSA) dan Mamdani secara sangat cerdik memanfaatkan estetika visual dan budaya populer untuk menyampaikan pesan perjuangan kelas yang tajam. Komunikasi politik mereka tidak lagi terlihat kaku, membosankan, atau kuno.
Mamdani, yang memiliki latar belakang sebagai rapper sebelum terjun ke dunia politik, memahami betul kekuatan ritme, diksi yang tajam yang mampu didengar dengan baik audiensnya. Ia mampu menyatukan pesan politik yang serius dengan gaya komunikasi yang digemari generasi muda.
Ia menggunakan media sosial bukan untuk mencitrakan diri sebagai kelas elite yang tak tersentuh atau pahlawan kesiangan, melainkan sebagai “penyambung lidah rakyat” yang transparan dan setara. Ia sering melakukan sesi live streaming untuk menjelaskan proses legislasi yang rumit, anggaran negara yang sulit dipahami, hingga lobi-lobi politik, semua dibedah dengan bahasa yang sederhana dan dapat dimengerti di telinga anak muda.
Ini adalah bentuk nyata dari demokratisasi informasi. Hambatan bahasa dan birokrasi yang sengaja dibuat rumit untuk menjauhkan rakyat dari politik, dihancurkan seketika oleh Mamdani melalui narasi yang lebih inklusif. Ia telah membuktikan bahwa politik yang berbasis pada perjuangan kelas bisa tampil tanpa harus kehilangan esensi perjuangannya..
Kekuatan utama DSA dan Mamdani terletak pada strategi “Deep Canvassing” berakar kuat dari depan pintu rumah warga. Mereka melakukan percakapan mendalam dan mendengarkan keluhan warga secara empatik. Kemudian menghubungkan persoalan tersebut langsung dengan kebijakan publik yang sedang diperjuangkan.
Strategi ini mengubah keluhan individu menjadi gerakan politik yang solid dan nyata. Ini Adalah bentuk komunikasi politik dua arah yang simetris. Mamdani tidak menggurui pemilih, melainkan memvalidasi frustrasi warga terhadap sistem yang tidak adil, lalu menawarkan solusi kolektif yang masuk akal.
Kemudian komunikasi politik Mamdani mencapai puncaknya saat ia dengan bangga mengatakan posisi politiknya di hadapan publik. Dalam pidato kemenangan pertamanya, Mamdani secara terbuka mengaku sebagai seorang Demokratik Sosialis sehingga dia akan menjalankan kebijakan dalam pemerintahannya dengan berdasar pada prinsip tersebut
Oposisi Donald Trump
Sebagai Wali Kota, Mamdani bukan sekadar administrator, melainkan simbol perlawanan terhadap kebijakan federal yang menindas. Di bawah bayang-bayang kembalinya “Trumpism”, ia menjadi antitesis ideologis yang nyata. Posisinya sebagai Demokratik Sosialis memberi kerangka moral yang kokoh untuk menghadapi tekanan Washington sekaligus merespons isu internasional.
Keteguhannya terlihat dari keberanian menyuarakan hak warga Palestina, isu yang sering dihindari politisi Amerika karena dianggap tidak menguntungkan secara elektoral. Bagi Mamdani, konsistensi adalah kunci kepercayaan publik. Penolakan kerasnya terhadap Benjamin Netanyahu saat berkunjung ke Amerika menegaskan prinsipnya: nilai kemanusiaan tidak boleh kalah oleh kalkulasi popularitas semata.
Sikap tanpa kompromi ini juga nyata dalam penolakannya terhadap ambisi imperialistik pemerintah federal di Amerika Latin, khususnya terkait kebijakan represif dan upaya penggulingan Nicolás Maduro di Venezuela. Mamdani menegaskan bahwa operasi militer sepihak Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Maduro adalah tindakan perang serta pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Bagi Mamdani, kebijakan luar negeri yang agresif tersebut memiliki dampak domestik yang langsung dirasakan oleh ribuan warga diaspora di New York..
Mamdani menunjukkan keberanian serupa dalam melindungi komunitas imigran yang menjadi sasaran represi federal. Di tengah menguatnya sentimen xenofobia, ia menjadikan New York sebagai pelindung aman bagi kaum imigran dan kelas pekerja. Ia memandang imigran bukan sebagai beban, melainkan bagian integral kedaulatan kota yang harus dilindungi dari ancaman deportasi massal.
Dengan menyatukan perlawanan terhadap kebijakan luar negeri imperialistik dan perlindungan domestik bagi imigran, Mamdani membangun model oposisi yang tidak berkompromi pada ketidakadilan. Ia membuktikan bahwa otoritas di dalam sistem dapat digunakan untuk melawan kebijakan pemerintah federal yang diskriminatif.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
