Memacu Produktivitas, Mendorong Pertumbuhan untuk Kelas Menengah
Selama satu dekade terakhir, ekonomi Indonesia relatif stabil di kisaran 5%. Angka itu terlihat sehat. Namun bagi banyak masyarakat kecil, hidup sehari-hari masih sekadar bertahan. Kelas menengah terhimpit, menopang orang tua sekaligus membangun masa depan anak. Bahkan lulusan baru hari ini digaji sekitar lima juta rupiah, angka yang tidak jauh berbeda ketika saya lulus kuliah pada 2007.
Dengan realitas seperti ini, cara kita menilai “stabilitas ekonomi” menjadi berbeda. Stabil memang, tetapi belum cukup untuk mengangkat mayoritas masyarakat hidup lebih sejahtera.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan 8%. Namun angka hanyalah hasil akhir. Pertumbuhan tidak lahir dari target, melainkan hasil dari struktur ekonomi yang produktif. Jika mesinnya tidak berubah, angkanya pun sulit untuk berubah.
Pertumbuhan yang Belum Menyentuh
Pada 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,1%. Sebagai pelaku usaha yang bekerja dekat dengan jutaan UMKM dan masyarakat akar rumput, saya merasakan ada jarak antara angka pertumbuhan dan kenyataan di lapangan. Banyak keluarga bekerja keras, tetapi produktivitasnya belum naik signifikan. Banyak pelaku usaha kecil bergerak, tetapi sulit naik kelas. Di beberapa daerah luar Jawa, ekonomi tumbuh, tetapi sangat bergantung pada komoditas dan proyek besar yang siklusnya naik turun.
Jika pertumbuhan hanya ditopang konsumsi rumah tangga, sementara konsumsi itu didominasi produk impor, maka dampaknya bagi pelaku usaha lokal menjadi terbatas. Peran sektor domestik untuk menciptakan nilai tambah harus lebih dominan, menjadi penopang utama penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar perputaran perdagangan.
Pada saat yang sama, jutaan angkatan kerja baru masuk pasar setiap tahun. Tanpa peningkatan produktivitas dan ekspansi sektor bernilai tambah, pertumbuhan ekonomi kita ke depan berisiko hanya menjadi ambisi, bukan akselerasi kesejahteraan.
Belajar dari Cina: Memacu Produktivitas, Bukan Sekadar Membuat Program
Dari pengalaman saya belajar di Tsinghua University. Saya melihat transformasi di Hulian Village. Dari desa miskin menjadi masyarakat modern dengan industri solar panel dan gedung tinggi dalam satu generasi. Begitu pula Shenzhen, Hangzhou, dan Chengdu, kota-kota yang 25 tahun lalu hanya sebuah distrik kecil.
Pembangunan di sana tidak romantis. Ia pragmatis. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat bekerja dalam satu arah: meningkatkan produktivitas dan nilai tambah. Hasilnya terlihat dalam angka, ratusan juta orang keluar dari kemiskinan dalam empat dekade, tetapi yang lebih penting adalah perubahan struktur ekonominya.
Kita mengenal istilah budaya kerja ‘996’. Bahkan ketika ekonomi sekarang lebih maju, etos kerja mereka menjadi ‘711’ bekerja dari 7 pagi hingga 11 malam sepanjang tahun. Terlihat di sini komitmen kolektif terhadap produktivitas sebagai daya saing nasional.
Saya juga mengunjungi perusahaan seperti Alibaba, Tencent, BYD, dan Unitree. Yang saya lihat bukan sekadar kecanggihan teknologi. Saya melihat bagaimana teknologi digunakan untuk menurunkan biaya transaksi, memperkuat rantai pasok domestik, dan menciptakan lapangan kerja dalam skala besar. Inovasi menjadi strategi ekonomi, bukan sekedar.
Indonesia memiliki konteks berbeda. Tetapi ada satu pelajaran universal: pertumbuhan tinggi lahir dari perubahan struktur ekonomi.
Tantangan Kita Bersifat Struktural
Hari ini, kontribusi manufaktur Indonesia berada di bawah seperlima PDB. Artinya, kita memiliki basis industri, tetapi belum cukup kuat untuk menjadi mesin lompatan produktivitas.
Sementara itu, UMKM kita jumlahnya besar dan menyerap mayoritas tenaga kerja. Namun sebagian besar masih pada level subsisten. Mereka bekerja keras, tetapi nilai tambah per pekerjanya rendah. Tanpa integrasi ke rantai pasok industri, tanpa peningkatan teknologi dan keterampilan, mereka sulit menjadi penggerak pertumbuhan tinggi.
Di luar Jawa, kontras terlihat jelas. Ada wilayah yang tumbuh karena industri pengolahan dan hilirisasi. Ada pula yang melambat karena sangat bergantung pada komoditas mentah. Ketika struktur ekonomi tidak merata, kesejahteraan pun bergerak tidak seimbang.
Jika kita serius ingin pertumbuhan yang dirasakan kelas menengah, maka yang dilakukan bukan sekadar memperbesar belanja atau menambah proyek. Agenda utamanya adalah membangun mesin produktivitas.
Membangun Mesin Pertumbuhan untuk Mayoritas
Pertama, memperdalam industrialisasi dan menarik investasi berkualitas. Investasi didesain sehingga membawa transfer teknologi, menciptakan pekerjaan formal dan terintegrasi dengan pelaku usaha lokal. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada pabrik besar, tetapi juga membentuk ekosistem pelaku usaha lokal, meningkatkan keterampilan tenaga kerja daerah, dan mendorong inovasi. Indonesia juga perlu membuka potensi besar sektor pertanian dan perikanan melalui teknologi, cold chain, agro-processing, dan precision farming. Ketika sektor ini naik nilai tambahnya, kesejahteraan menyentuh jutaan keluarga di luar Jawa.
Kedua, menjadikan kewirausahaan sebagai mesin inovasi. Ekonomi dinamis tumbuh dari keberanian mencoba model bisnis baru dan efisiensi baru. Untuk itu dibutuhkan ekosistem pendanaan tahap awal yang kuat, koneksi riset dan industri, serta adopsi AI. AI dapat meningkatkan produktivitas pertanian, pembiayaan UMKM, dan mengoptimalkan logistik. Ketika inovasi tumbuh, investasi akan mengikuti.
Ketiga, mendorong UMKM naik kelas. Bukan sekadar memperluas akses kredit, tetapi membangun jalur yang jelas agar UMKM masuk ke rantai pasok industri, meningkatkan standar mutu, memanfaatkan teknologi untuk efisiensi, dan tumbuh menjadi pelaku usaha berorientasi ekspor. Produktivitas UMKM adalah kunci agar pertumbuhan dirasakan mayoritas.
Keempat, memperbaiki insentif birokrasi. Keberhasilan pemerintah tidak cukup diukur dari serapan anggaran atau banyaknya program, tetapi dari hasil ekonomi nyata: penciptaan pekerjaan formal, realisasi investasi yang berkelanjutan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan indikator yang transparan dan terukur, evaluasi menjadi objektif serta mendorong budaya meritokrasi dalam pelayanan publik.
Kelima, berinvestasi pada kualitas manusia. Pendidikan dan kesehatan bukan sekadar agenda sosial, melainkan fondasi produktivitas. Program beasiswa harus terhubung dengan industri. Layanan kesehatan yang baik meningkatkan partisipasi kerja dan kualitas hidup. Tenaga kerja yang sehat dan terampil akan menentukan daya saing bangsa dalam jangka panjang.
Bertanggung Jawab untuk Generasi Mendatang
Pertumbuhan akseleratif bukan sesuatu yang mustahil. Banyak negara membuktikannya. Namun ia tidak pernah terjadi secara kebetulan. Ia terjadi ketika sebuah bangsa memutuskan untuk bekerja lebih produktif, lebih disiplin, dan keberanian memperbaiki struktur.
Bagi saya, pertumbuhan untuk mayoritas berarti memastikan setiap kebijakan ekonomi bisa menjawab pertanyaan: Apakah ini menciptakan pekerjaan yang lebih baik? Apakah ini menaikkan produktivitas? Apakah ini membuka jalan bagi usaha kecil untuk naik kelas? Jika jawabannya tidak jelas, maka kebijakan itu perlu ditinjau ulang.
Karena pada akhirnya, yang dicari kelas menengah bukanlah angka pertumbuhan di atas kertas. Yang dicari adalah rasa aman untuk bekerja, kesempatan untuk berkembang, dan keyakinan bahwa masa depan anak-anak mereka akan lebih baik. Pertumbuhan yang dirasakan oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
