Our Power, Our Planet: Mengapa ESG adalah Keniscayaan Strategis

Jalal Opini
Oleh Jalal
22 April 2026, 08:20
Jalal Opini
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

“With great power comes great responsibility.” (Ben Parker dalam Spiderman)

Tema Hari Bumi 2026 yang jatuh 22 April yaitu Our Power, Our Planet bisa dimaknai beragam. Namun bagi dunia bisnis, pesan itu datang dengan tanggung jawab yang tidak ringan. Kekuatan (power) yang dimaksud bukan hanya kekuatan individu warga biasa. Ia juga merupakan kekuatan perusahaan: kekuatan kapital, kekuatan rantai pasok, kekuatan pengaruh terhadap kebijakan, dan kekuatan untuk membentuk norma-norma industri. 

Pertanyaan yang relevan bagi setiap eksekutif dan dewan direksi yang penting diajukan pada Hari Bumi ini bukanlah apakah perusahaan perlu peduli pada keberlanjutan melainkan apakah mereka bakal mampu bertahan jika tidak menegakkannya. 

Dunia bisnis beroperasi di atas fondasi ekosistem yang sehat. Tidak ada rantai pasok pangan tanpa tanah yang subur dan air yang bersih. Tidak ada industri manufaktur tanpa pasokan energi yang stabil. Tidak ada tenaga kerja yang produktif tanpa udara yang layak dihirup dan komunitas yang sejahtera. 

Ketika para ilmuwan dan analis risiko global berbicara tentang polikrisis—yaitu kondisi di mana krisis iklim, geopolitik, ekonomi, dan sosial saling memperkuat satu sama lain secara bersamaan—mereka sedang berbicara tentang ancaman nyata terhadap kelangsungan bisnis itu sendiri.

World Economic Forum dalam Global Risks Report 2026 mencatat bahwa risiko lingkungan menempati posisi paling mengkhawatirkan dalam pandangan para pengambil keputusan di 94 negara. Ketidakstabilan iklim mengganggu rantai pasok global, mempermahal asuransi aset, mendongkrak biaya operasional, dan mempersulit perencanaan jangka panjang. 

Di Indonesia deforestasi yang melonjak 66% pada 2025 telah berkontribusi pada bencana banjir dan longsor yang merenggut lebih dari 1.200 nyawa, merusak puluhan ribu infrastruktur, dan mengancam stabilitas kawasan yang menjadi basis produksi berbagai sektor industri. Risiko fisik seperti ini sesungguhnya sudah terlalu nyata untuk diabaikan dalam laporan keuangan perusahaan, namun agaknya mayoritas perusahaan belum juga memasukkannya.

ESG: Dari Formalitas ke Fungsi Strategis

Environmental, Social, and Governance (ESG) lahir pada 2004 dari kesadaran bahwa kinerja bisnis jangka panjang tidak bisa dilepaskan dari kesehatan lingkungan, keadilan sosial, dan tata kelola yang akuntabel. Sayangnya, hingga sekarang terlalu banyak perusahaan masih memperlakukan ESG sebagai latihan pelaporan belaka. ESG kerap diartikan sebagai serangkaian angka dan indikator yang disiapkan untuk memenuhi persyaratan regulator atau memuaskan ekspektasi investor, tanpa benar-benar mengubah cara bisnis dijalankan.

Di sinilah tema Our Power, Our Planet menjadi cermin yang jujur. Lantaran kekuatan yang besar ada di tangan perusahaan, maka nasib Bumi juga menjadi tanggung jawab sektor ini. Oleh karenanya, beragam bentuk greenwashing, komitmen iklim tanpa rencana aksi yang terverifikasi, dan pelaporan ESG yang cherry-picking jelas bukan hanya tidak etis, melainkan strategi dan praktik bisnis yang berbahaya di era di mana transparansi data adalah keniscayaan di hadapan konsumen dan investor yang semakin kritis.

Tiga dimensi ESG harus dipahami sebagai satu kesatuan yang terintegrasi, bukan tiga kotak terpisah.

Pada dimensi Lingkungan (E), perusahaan perlu bergerak melampaui target pengurangan emisi yang ambisius di atas kertas menuju transformasi operasional yang terukur. Ini berarti melakukan audit jejak karbon secara menyeluruh termasuk emisi Scope 3 yang berasal dari rantai pasok dan menetapkan jalur dekarbonisasi yang selaras dengan skenario 1,5 atau setingginya 2°C. 

Bagi perusahaan di sektor agribisnis, pertambangan, atau kehutanan yang beroperasi di Indonesia, ini juga berarti komitmen zero deforestation yang diverifikasi secara independen, bukan sekadar umbaran janji dalam siaran pers. Penggunaan energi terbarukan, manajemen air yang bertanggung jawab, dan ekonomi sirkular adalah prasyarat untuk mempertahankan akses di pasar-pasar premium yang makin ketat menerapkan regulasi berbasis iklim.

Pada dimensi Sosial (S), kekuatan korporasi harus berpihak pada komunitas yang selama ini paling rentan terhadap dampak bisnis. Di Indonesia, ini berarti menghormati hak-hak masyarakat adat dan lokal melalui mekanisme Free, Prior and Informed Consent (FPIC) dalam setiap pengembangan lahan baru. Ini berarti memastikan rantai pasok bebas dari praktik kerja yang buruk dan diskriminasi. 

Ini juga berarti berinvestasi secara nyata dalam kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan komunitas sekitar operasi perusahaan. Bukan sebagai program sosial kosmetik, melainkan sebagai bagian integral dari model bisnis yang berkelanjutan. 

Perusahaan yang mengabaikan dimensi sosial akan menghadapi risiko yang makin besar: gangguan operasional akibat konflik lahan, reputasi yang terbakar di era media sosial, dan sulitnya merekrut talenta muda yang semakin memilih perusahaan berdasarkan nilai-nilai yang ditegakkan, bukan hanya besaran kompensasi yang dijanjikan.

Pada dimensi Tata Kelola (G), integritas adalah fondasi dari segalanya. Komitmen ESG yang tidak didukung oleh akuntabilitas internal mulai dari dewan komisaris dan direksi hingga lini operasional terdepan hanyalah kosmetika. 

Perusahaan perlu memastikan bahwa target keberlanjutan adalah wujud tujuan dan strategi bisnis. Selain itu, terhubung langsung dengan insentif para pemimpinnya, kemudian whistleblower dilindungi, dan bahwa laporan keberlanjutan diaudit oleh pihak ketiga yang independen. 

Dalam lanskap geopolitik yang makin terfragmentasi, tata kelola yang kuat juga berarti membangun ketahanan terhadap tekanan eksternal dari perubahan regulasi mendadak hingga gangguan rantai pasok akibat konflik atau bencana iklim.

Peluang di Balik Tekanan

Jelas keliru untuk memandang agenda ESG semata-mata sebagai beban biaya dan risiko. Bagi perusahaan yang bergerak lebih awal dan bersungguh-sungguh, transisi menuju keberlanjutan telah dibuktikan membuka beragam peluang kompetitif yang signifikan.  First mover advantages sudah banyak dicatat.

Pertama, akses modal yang lebih murah dan lebih luas. Investor institusional global, mulai dari dana pensiun Eropa hingga sovereign wealth fund Asia, semakin mengintegrasikan kriteria ESG ke dalam keputusan alokasi aset mereka. Perusahaan dengan rekam jejak ESG yang kuat mendapat akses ke green bonds, sustainability-linked loans, dan valuasi pasar yang lebih tinggi.

Kedua, ketahanan operasional jangka panjang. Perusahaan yang telah berinvestasi dalam efisiensi energi, diversifikasi pemasok, dan manajemen risiko iklim akan lebih siap menghadapi volatilitas yang makin sering terjadi. Resiliensi bukanlah kemewahan, melainkan wujud keunggulan kompetitif.

Ketiga, kepercayaan sebagai aset strategis. Di era di mana investor, konsumen, karyawan dan masyarakat semakin kritis, kepercayaan publik adalah mata uang yang sangat berharga. Perusahaan yang secara konsisten dan transparan menegakkan komitmen ESG-nya membangun modal reputasi yang sulit ditiru oleh para kompetitornya.

Ketiga jenis manfaat tersebut hanya mungkin terwujud apabila perusahaan menegakkan ESG dalam jangka panjang, dan dinilai oleh pihak ketiga yang independen dan kredibel. Salah satunya melalui Katadata ESG Score yang tertuang dalam dashboard Katadata ESG Insight (kesgi.katadata.co.id). 

KESGI, seperti halnya organisasi-organisasi lain yang memiliki kesamaan pemahaman di tingkat global, berupaya memastikan tersedianya data terkait kinerja perusahaan dalam time series, dan sedapat mungkin terverifikasi. Di Indonesia yang banyak perusahaan ESG-nya relatif baru, apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di papan atas KESGI bisa menjadi semacam aspirasi serta inspirasi dalam mencapai kinerja ESG yang lebih baik beserta seluruh manfaatnya bagi bisnis perusahaan.

Seruan untuk Bertindak

Hari Bumi 2026 bukan hanya momen untuk perusahaan menanam pohon simbolis di halaman kantor atau menerbitkan infografis bertema hijau di akun media sosialnya. Ia adalah kesempatan sekaligus tantangan untuk mengevaluasi secara jujur: seberapa jauh komitmen ESG perusahaan benar-benar diwujudkan dalam cara berbisnis?  

Apakah target iklim diverifikasi secara independen dan selaras dengan ilmu pengetahuan mutakhir? Apakah rantai pasok benar-benar bebas dari deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia? Apakah tata kelola keberlanjutan cukup kuat untuk bertahan dari beragam tekanan bisnis jangka pendek?

Jawaban yang jujur atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah titik awal dari transformasi bisnis yang sesungguhnya. Karena pada akhirnya, Our Power, Our Planet bukan hanya seruan untuk individu. Ia adalah tantangan bagi setiap organisasi yang memiliki kepentingan di masa depan Bumi, dan karenanya, berkewajiban untuk ikut serta menjaganya.  Kekuatan besar itu ada di tangan perusahaan. Pertanyaannya, seperti yang diajukan di awal tulisan ini, akankah digunakan secara bertanggung jawab?

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Jalal Opini
Jalal
Pendiri A+ CSR Indonesia dan Anggota Panel Ahli Katadata ESG Insight (KESGI)

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...