Polikrisis, Ketidakpastian, dan Rasionalitas Kebijakan

Gennta Rahmad Putra
Oleh Gennta Rahmad Putra
28 Mei 2026, 08:05
Gennta Rahmad Putra
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Apa kata yang paling tepat menggambarkan kondisi Indonesia saat ini? Polikrisis (Polycrisis) adalah jawabannya. Polikrisis merujuk kepada serangkaian krisis di berbagai sektor seperti ekonomi, politik, lingkungan, fiskal/pasar keuangan, sosial budaya maupun geopolitik yang terjadi secara bersamaan, saling berkaitan, saling memperkuat dan menciptakan efek domino lintas sektor. Polikrisis telah menjadi “new normal” di tengah kompleksitas permasalahan global yang dirasakan seluruh negara di dunia saat ini. 

Riset menarik mengenai polikrisis datang dari Michael Lawrence et al (2024) berjudul Global Polycrisis: The Causal Mechanisms of Crisis Entanglement. Mereka menyoroti perihal berbagai krisis global seperti pandemi, perubahan iklim, perang, hingga krisis ekonomi saling terhubung, memperkuat dan menciptakan efek domino lintas sektor melalui mekanisme keterkaitan krisis (crisis entanglement). 

Barangkali inilah yang menginspirasi Kuskridho Ambardi, dkk (2025) dalam buku terbarunya yang melihat polikrisis dari segi penurunan demokrasi Indonesia kontemporer. Buku yang berjudul “Polikrisis Demokrasi: Neraca Kasus Indonesia” ini melihat persoalan penurunan demokrasi bukanlah aspek yang tunggal. Fenomena ini berlapis-lapis dan saling berkelindan, mulai dari institusional, sosial hingga digital.

Polikrisis ini semakin dirumitkan ketika bertemu dengan ketidakpastian yang tinggi. Oleh sebab itu, wajib bagi para pembuat kebijakan (policymakers) mengeluarkan jurus andal dalam mengelola polikrisis yang disertai tingginya ketidakpastian global saat ini. Diperlukan rasionalitas kebijakan yang tangkas untuk mengelola dinamika kompleksitas tersebut. 

Gambaran Polikrisis Indonesia 

Terdapat beberapa indikator polikrisis yang saling terkait terjadi di Indonesia saat ini. Pertama, dapat kita lihat pada tekanan fiskal APBN. Defisit APBN hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB. Diikuti oleh belanja yang agresif negara Rp815 triliun, naik 31,4% YoY. Penerimaan pajak 2025 pun mengalami shortfall signifikan Rp271,7 triliun (hanya sekitar 87,6% dari target). Berdasarkan hitungan, risiko shortfall 2026 diperkirakan Rp171-Rp484 triliun. Tentunya ini akan menekan ruang fiskal di tengah program ambisius pemerintah saat ini. 

Kedua, dinamika penurunan volatilitas rupiah. Rupiah sempat menyentuh level terlemah di kisaran Rp17.400 - Rp17.630 per dolar AS pada Mei 2026. Depresiasi signifikan yang dipicu oleh current account deficit, impor energi, outflow investasi asing dan juga tingginya ketidakpastian global. 

Ketiga, pada sektor pasar keuangan setelah sempat mencetak rekor all-time high (ATH) di level 9.134,70 poin di 20 Januari 2026, IHSG mengalami koreksi penurunan tajam hingga nyaris 20% secara year-to-date (YTD). Tekanan ini kian memuncak pada pembukaan perdagangan  pada 18 Mei 2026, IHSG anjlok sampai lebih dari 2% meninggalkan level 6.600. Hal ini tentunya disebabkan oleh volatilitas ekstrem dan aksi net selling investor asing. 

Keadaan ini semakin diperumit oleh pengumuman review kuartalan MSCI Indonesia Mei 2026 yang mendepak enam saham dari Global Standard Index (termasuk AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT) dan 13 saham dari Small Cap Index. Langkah eliminasi massal ini tentunya memicu estimasi passive outflow dana asing sekitar Rp20 triliun hingga Rp 31 triliun, sekaligus memangkas bobot investasi Indonesia di dalam MSCI Emerging Markets Indeks. 

Keempat, implementasi program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP). MBG ditargetkan kepada 82,9 juta penerima dengan alokasi APBN 2026 melonjak hingga Rp335 triliun. Saat ini mulai diintegrasikan secara penuh dengan program Koperasi Desa/Kelurahan (KDKMP) Merah Putih. Hingga pertengahan Mei 2026, jangkauan MBG dilaporkan telah meluas ke puluhan juta anak sekolah, meskipun Kementerian Kesehatan mencatatkan akumulasi evaluasi yang mengkhawatirkan dengan total 445 insiden dan 37.673 korban dugaan keracunan massal akibat kendala higienitas logistik di daerah. 

Untuk memitigasi risiko tata kelola dan operasional di tingkat tapak, pemerintah mempercepat aktivasi fisik KMP di mana 1.061 unit gerai ritel modern desa telah resmi beroperasi dari target akhir 81.000 unit. Selain itu, pemerintah mengambil langkah diskresi fiskal dengan membiayai gaji 30.000 manajer koperasi langsung dari APBN selama dua tahun guna menjamin kompetensi SDM dan mencegah risiko tata kelola yang terbengkalai. 

Kelima, kondisi demokrasi dan kepercayaan publik kita. EIU Democracy Index masih menempatkan Indonesia di kategori flawed democracy dengan skor 6,44 pada peringkat 59 di tahun 2024. Bahkan V-Dem Institute dalam Democracy Report 2026 menempatkan Indonesia di zona abu-abu elektoral otokratisasi. Tentunya ini menjadi catatan tren kemunduran demokrasi yang terus berlangsung di era pasca reformasi. 

Sementara itu, kepercayaan terhadap Presiden Prabowo relatif tinggi di awal masa jabatan, sekitar di atas 70%-80% di beberapa survei nasional seperti Poltracking dan Nusantara Riset Indonesia (NRI). Namun, kepercayaan terhadap DPR dan partai politik masih konsisten di peringkat terendah, di tengah kekhawatiran konsolidasi kekuasaan dan checks and balances yang lemah. 

Dari kelima indikator yang kita jabarkan di atas dapat diamati bahwa krisis-krisis tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya. Mulai dari tekanan fiskal, merambat ke volatilitas rupiah dan pasar saham, sehingga menimbulkan erosi kepercayaan dari investor. Belum lagi banyaknya kalangan yang melihat situasi ini kian dirumitkan oleh pendanaan MBG dan KMP yang sangat besar. Di samping banyaknya keluhan publik atas penurunan demokrasi dan kebebasan berpendapat kita saat ini. 

Mendefinisikan Krisis dan Tipe Pengelolaannya

Inilah pentingnya cara mendefinisikan krisis dan identifikasi tipe pengelolaannya. Studi terbaru Giliberto Capano, et al (2026) dalam Policy and Society memberikan kerangka tajam. Krisis bukan fenomena objektif semata, melainkan konstruksi politik melalui proses framing, interpretasi, dan narasi strategis. 

Sebuah peristiwa menjadi krisis ketika didefinisikan mengandung tiga elemen: ancaman (threat), urgensi (urgency), dan ketidakpastian (uncertainty). Cara mendefinisikannya sangat menentukan tipe respons kebijakan. Capano mengajukan tiga tipe ideal politik pengelolaan krisis. 

Pertama, governing during the crisis yaitu krisis dilihat sebagai gangguan sementara. Respons reaktif, pengendalian kerusakan dan berorientasi kembali ke status quo. Kedua, governing the crisis yaitu krisis dipecah menjadi masalah-masalah spesifik yang bisa diatasi melalui intervensi targeted, adaptasi dan perubahan menengah dalam normalisasi serta adaptasi. Ketiga, governing by the crisis yaitu risis dieksploitasi sebagai peluang untuk transformasi besar dan percepatan perubahan (acceleration) termasuk pergeseran kekuasaan dan kebijakan.

Melihat Indonesia saat ini, pendekatan pemerintahan condong kuat ke governing by the crisis. Hal ini dapat dilihat dari ambisi lompatan pertumbuhan, program sosial skala besar (MBG & KMP), hilirisasi, dan pembangunan pertahanan mencerminkan upaya memanfaatkan momentum politik untuk transformasi struktural. Pendekatan ini memiliki kekuatan yakninya mampu memecah kebuntuan lama dan memobilisasi sumber daya secara masif.

Namun, tinjauan Capano beserta kolega di atas juga memperingatkan risiko besar ketika governing by the crisis tidak diimbangi rasionalitas yang kuat. Beberapa tantangan implementasi MBG, tekanan defisit, dan shortfall pajak menandakan bahwa percepatan belum sepenuhnya didukung kapasitas institusi, perencanaan matang, dan mitigasi risiko yang adaptif. Ketika framing “krisis sebagai peluang” terlalu dominan tanpa adaptasi berbasis bukti, tentu yang muncul adalah ketidakpastian baru yang justru menggerus legitimasi tersebut. 

Menariknya, menurut Itzhak Gilboa (2025) dalam risetnya di Annual Review of Economics tentang decision under uncertainty menjadi sangat relevan. Dalam kondisi ketidakpastian ini, para pengambil kebijakan harus menghindari sikap terlalu optimistis (overconfidence). Keputusan mesti tangguh terhadap berbagai skenario buruk, bukan hanya mengandalkan narasi ambisius apalagi berorientasi populis jangka pendek. Rasionalitas bukan berarti kita tidak berani mengambil resiko, melainkan mampu merancang kebijakan yang tetap tangguh meski banyak hal tidak berjalan sesuai rencana dan perhitungan awal. 

Semestinya, rasionalitas kebijakan di Indonesia saat ini harus diuji pada beberapa ukuran seperti misalnya: Sudahkah berbasis bukti dan evaluasi implementasi yang jujur atau transparan? Apakah sudah berkelanjutan secara fiskal dan institusional dalam jangka menengah maupun panjang? Apakah telah melibatkan partisipasi stakeholders secara bermakna sehingga mengurangi resistensi dan meningkatkan legitimasi? Terakhir, masihkah tetap menjaga keseimbangan berdasarkan prinsip checks and balances?. 

Modal Indonesia sebenarnya banyak sekali. Kita memiliki demografi usia produktif yang banyak, kaya akan sumber daya alam, dan posisi yang begitu strategis. Namun, keberhasilan tidak ditentukan oleh besarnya ambisi, melainkan oleh kecerdasan mengelola ketidakpastian. Kita butuh pergeseran yang lebih kuat ke arah governing the crisis yang matang: membedah masalah kompleks menjadi intervensi tepat sasaran, memperkuat koordinasi, transparansi, dan kemampuan adaptasi cepat berdasarkan pembelajaran di lapangan serta berdasarkan evidence based policy.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Gennta Rahmad Putra
Gennta Rahmad Putra
Alumnus Magister Ilmu Politik Universitas Andalas

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...