Singapura, India, dan Batas Material Diplomasi Multi-Poros Indonesia

Aniello Iannone
Oleh Aniello Iannone
8 Juli 2026, 07:05
Aniello Iannone
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kunjungan Lawrence Wong dan Narendra Modi ke Jakarta memberi gambaran ringkas tentang arah politik luar negeri Indonesia di bawah Prabowo Subianto. Indonesia tidak sekadar memperbanyak teman. Ia sedang berusaha meningkatkan relevansi strategisnya bagi beberapa mitra yang berbeda, sementara basis material untuk mempertahankan otonomi itu justru menyempit. 

Di sinilah letak masalahnya. Diplomasi multi-poros dapat memperluas hubungan eksternal, tetapi tidak otomatis menghasilkan kapasitas strategis. Tanpa urutan prioritas yang jelas, ia mudah berubah menjadi akumulasi komitmen dan diversifikasi ketergantungan. 

Hubungan dengan Singapura memperlihatkan sisi paling konkret dari pola itu. Kerja sama energi, infrastruktur digital, dan konektivitas ekonomi tidak bergerak di ranah simbolik semata. Ia menyentuh arus listrik, investasi, data, dan pembiayaan yang membentuk struktur ekonomi kawasan. 

Modal, listrik, kabel, dan pusat data membentuk politik kawasan dengan cara yang sering lebih stabil daripada pernyataan bersama. Dalam arti ini, Singapura bukan hanya tetangga dekat atau mitra dagang mapan, melainkan simpul infrastruktur regional yang menghubungkan Indonesia dengan sirkulasi modal dan teknologi Asia Tenggara.

Dimensi ASEAN dari hubungan ini perlu dibaca dengan hati-hati. Banyak posisi regional memang dinegosiasikan secara bilateral sebelum memperoleh bentuk multilateral. Itu tidak membuat ASEAN atau Sekretariat ASEAN menjadi tidak relevan. 

Sebaliknya, justru di situlah cara kerja ASEAN sering terlihat: konsensus regional dibangun melalui percakapan antar-ibu kota, lalu diberi bentuk kelembagaan dalam forum bersama. Ketika Singapura bersiap menjalankan keketuaan ASEAN pada 2027, konsultasi dengan Jakarta menjadi penting. Bukan karena Indonesia mengendalikan ASEAN, tetapi karena agenda kawasan hampir selalu membutuhkan persetujuan informal dari negara-negara kunci sebelum menjadi bahasa regional.

India masuk melalui fungsi yang berbeda. Dalam kunjungan Modi, pembicaraan resmi dan komersial mencakup pertahanan, perdagangan, investasi, keamanan maritim, pangan, energi, mineral kritis, kesehatan, dan pendidikan. 

Laporan media internasional juga menyebut kesepakatan atau kerja sama terkait BrahMos, rudal udara-ke-udara Astra melalui Bharat Dynamics dan Republikorp, serta Sabang. Bagian pertama adalah fakta diplomatik dan industri pertahanan. 

Bagian kedua adalah interpretasi strategis: India memberi Indonesia jalan untuk mendiversifikasi sumber alutsista, memperluas koneksi ke Samudra Hindia, dan menempatkan Sabang dalam konfigurasi yang lebih luas dengan Andaman dan Nicobar. 

Sabang penting bukan karena ia akan otomatis mengubah keseimbangan kekuatan, tetapi karena ia menunjukkan cara geografi dapat diterjemahkan menjadi posisi tawar. Terletak dekat Selat Malaka dan berhadapan dengan jalur menuju Andaman-Nicobar, Sabang memberi India dan Indonesia titik temu maritim yang berbeda dari agenda Laut Cina Selatan. 

Bagi Jakarta, ini membuka akses ke Samudra Hindia tanpa harus mengubah doktrin bebas aktif menjadi keberpihakan blok. Bagi New Delhi, kerja sama dengan Indonesia membantu menghubungkan Act East Policy dengan kehadiran maritim di tepi Asia Tenggara.

Namun, geografi tidak selalu menjadi kekuatan. Ia juga dapat menjadi godaan fiskal. Perdebatan tentang kemungkinan pungutan terhadap kapal yang melintasi Selat Malaka memperlihatkan dorongan untuk mengubah posisi geografis menjadi rente. 

Selama gagasan itu dikaitkan dengan layanan, keselamatan, dan koordinasi dengan negara pantai lain, ia masih dapat dibahas dalam kerangka tata kelola maritim. Tetapi jika ia dibaca sebagai cara cepat menambal tekanan fiskal, argumennya melemah. 

Selat Malaka bukan aset domestik biasa. Ia ruang internasional yang nilainya justru muncul karena keterbukaan dan prediktabilitasnya.

Tekanan makroekonomi membuat pertanyaan itu lebih tajam. Data Bank Indonesia menunjukkan inflasi Juni 2026 berada di 3,34%, mendekati batas atas sasaran 2,5±1%. Pada 18 Juni, BI menaikkan BI-Rate 25 basis poin menjadi 5,75%, dengan alasan stabilisasi rupiah dan pengendalian inflasi. 

Dalam rilis yang sama, BI mencatat rupiah berada di Rp17.730 per dolar AS pada 17 Juni, menguat 0,76% dari akhir Mei, tetapi penguatan itu terjadi setelah intervensi dan pengetatan kebijakan. 

Surplus perdagangan juga menyempit tajam, dari US$3,3 miliar pada Maret menjadi hanya US$0,1 miliar pada April 2026. Itu bukan bukti defisit struktural, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa bantalan eksternal tidak setebal sebelumnya. 

Karena itu, setiap kesepakatan luar negeri harus dibaca melalui jenis biaya yang berbeda. Pembelian alutsista dapat menciptakan kewajiban valuta asing dan pembiayaan jangka panjang. 

Proyek energi dapat berjalan melalui perusahaan, joint venture, atau project financing, bukan selalu melalui APBN. Infrastruktur digital membawa biaya regulasi, keamanan data, dan tata kelola. 

Kerja sama mineral kritis dapat menarik investasi, tetapi juga memperdalam ketergantungan pada rantai pasok tertentu. Tidak semua komitmen masuk langsung ke neraca negara. Tetapi hampir semuanya masuk ke neraca strategis. 

Masalah yang lebih dalam adalah perdagangan. Diversifikasi diplomatik bergerak lebih cepat daripada transformasi struktur ekonomi. Data ekspor-impor BPS tetap menunjukkan posisi besar Tiongkok dalam struktur perdagangan Indonesia, terutama pada impor nonmigas. 

Angka persis berubah setiap bulan, tetapi polanya jelas: ketergantungan pada barang antara, mesin, komponen, dan input manufaktur dari Tiongkok tidak dapat dihapus oleh kunjungan diplomatik ke India, Singapura, atau Eropa. 

Indonesia dapat menambah mitra, tetapi pusat gravitasi perdagangannya belum bergeser dengan kecepatan yang sama. Di sinilah istilah hierarki strategis menjadi penting. 

Hierarki bukan berarti memilih satu blok dan meninggalkan yang lain. Ia berarti memberi fungsi yang jelas pada tiap hubungan. Singapura dapat menjadi poros integrasi ekonomi, energi, dan infrastruktur regional. India dapat menjadi jalur diversifikasi pertahanan dan akses ke Samudra Hindia. 

Tiongkok harus diperlakukan sebagai ketergantungan perdagangan yang perlu dikelola, bukan disangkal secara simbolik. Mitra lain, dari Prancis sampai Rusia atau negara-negara Teluk, sebaiknya ditempatkan pada kontribusi sektoral yang spesifik, bukan ditumpuk sebagai bukti bahwa Indonesia memiliki banyak pilihan. 

Tanpa hierarki seperti itu, multi-poros mudah terlihat aktif tetapi sulit diukur manfaatnya. Banyaknya kunjungan, nota kesepahaman, dan proyek bersama dapat memberi kesan ruang gerak yang luas. 

Tetapi otonomi strategis tidak lahir dari banyaknya hubungan. Ia lahir dari kemampuan negara membedakan mana hubungan yang menambah kapasitas, mana yang hanya menambah kewajiban, dan mana yang sebenarnya memperhalus bentuk ketergantungan lama. 

Diplomasi multi-poros dapat mempertahankan otonomi strategis hanya ketika negara mampu membedakan antara hubungan yang memperluas kapasitas dan hubungan yang sekadar menambah kewajiban. Tanpa hierarki itu, Indonesia tidak sedang mendiversifikasi kekuatan, melainkan mendiversifikasi ketergantungan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Aniello Iannone
Aniello Iannone
Dosen di Departemen Ilmu Politik & Pemerintahan Universitas Diponegoro

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...