Ketika Manusia Dijadikan Musuh Bumi

Mohammad Kholid Ridwan
Oleh Mohammad Kholid Ridwan
14 Juli 2026, 06:05
Mohammad Kholid Ridwan
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tidak pernah dalam sejarah manusia memiliki pengetahuan tentang bumi sedemikian lengkap seperti hari ini. Namun, tidak pernah pula manusia begitu sering diposisikan sebagai ancaman terbesar bagi planet yang dihuni sendiri. Setiap Hari Penduduk Dunia, paradoks itu kembali mengemuka.

Setiap 11 Juli, dunia memperingati Hari Penduduk Dunia (World Population Day). Pada momentum ini, berbagai lembaga internasional kembali merilis data dan laporan terbaru mengenai kondisi kependudukan dan keberlanjutan bumi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperbarui proyeksi jumlah penduduk dunia. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) terus mengingatkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca dan dampak perubahan iklim. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan tantangan ketahanan pangan global, sementara Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyoroti degradasi lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya pencemaran dan limbah.

Jika laporan-laporan tersebut dibaca secara terpisah, masing-masing sesungguhnya berbicara mengenai persoalan yang berbeda. Namun ketika hadir bersamaan di ruang publik, semuanya seolah membentuk sebuah alur cerita yang utuh. 

Populasi dunia terus bertambah. Kebutuhan pangan meningkat. Konsumsi energi melonjak. Emisi karbon terus naik. Hutan menyusut. Air bersih semakin langka. Bumi semakin panas. Dari rangkaian fakta tersebut, tanpa disadari, lahirlah sebuah kesimpulan yang terasa begitu intuitif: semakin banyak manusia, semakin besar pula tekanan terhadap bumi.

Logika tersebut sekilas tampak sulit dibantah. Memang benar bahwa setiap tambahan penduduk membawa konsekuensi terhadap meningkatnya kebutuhan pangan, energi, air bersih, perumahan, transportasi, dan berbagai layanan dasar lainnya. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan jumlah penduduk dunia telah mencapai sekitar 8,2 miliar jiwa pada pertengahan 2026. Jumlahnya masih akan terus bertambah hingga diproyeksikan mencapai puncaknya sekitar 10,3 miliar jiwa pada pertengahan dekade 2080-an, sebelum kemudian mengalami penurunan secara perlahan. Angka-angka tersebut tentu menuntut kapasitas bumi yang semakin besar untuk menopang kehidupan manusia.

Tidak mengherankan apabila dalam beberapa dekade terakhir berkembang keyakinan bahwa pertumbuhan penduduk merupakan salah satu ancaman terbesar bagi keberlanjutan planet ini. Gagasan tersebut sesungguhnya bukan barang baru. Sejak Thomas Robert Malthus menerbitkan An Essay on the Principle of Population pada 1798, dunia telah lama diperkenalkan pada pandangan bahwa populasi manusia tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan bumi menyediakan pangan. 

Dua abad kemudian, kekhawatiran serupa kembali menguat melalui berbagai diskursus mengenai ledakan penduduk, krisis lingkungan, dan perubahan iklim. Hari ini, narasi tersebut memperoleh legitimasi baru melalui beragam statistik dan laporan ilmiah yang terus mengingatkan bahwa bumi menghadapi tekanan ekologis yang semakin berat.

Namun, justru di sinilah pertanyaan yang jarang diajukan.

Benarkah jumlah manusialah yang menjadi penyebab utama krisis lingkungan? Ataukah kita sedang menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya jauh lebih kompleks?

Pertanyaan ini penting diajukan, sebab beberapa fakta justru memperlihatkan gambaran yang berbeda. Laporan Oxfam menunjukkan bahwa 10% penduduk terkaya di dunia menghasilkan hampir separuh emisi karbon global, sementara miliaran penduduk lainnya hanya menyumbang sebagian kecil emisi. 

Di sisi lain, dunia masih menyaksikan ratusan juta orang mengalami kelaparan, padahal hampir seperlima pangan yang diproduksi setiap tahun justru berakhir sebagai limbah. Ironisnya lagi, sejumlah negara maju yang selama puluhan tahun mengkhawatirkan ledakan penduduk kini justru menghadapi persoalan yang berlawanan: angka kelahiran yang terus menurun, populasi yang menua, kekurangan tenaga kerja, dan kebutuhan yang semakin besar terhadap migrasi.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan kerusakan lingkungan tidak sesederhana persamaan "lebih banyak manusia berarti lebih banyak kerusakan." Jumlah penduduk memang merupakan salah satu variabel penting. Namun ia bukan satu-satunya variabel, apalagi variabel yang selalu paling menentukan. 

Pola konsumsi, distribusi kekayaan, pilihan teknologi, tata kelola sumber daya, serta ketimpangan ekonomi global sering kali memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap tekanan ekologis yang dialami bumi.

Persoalannya menjadi semakin menarik ketika kita bertanya lebih jauh: apa yang membentuk pola konsumsi, pilihan teknologi, dan distribusi kekayaan tersebut? Sebab manusia tidak pernah hidup di ruang hampa. Cara manusia memproduksi, mengonsumsi, bahkan mendefinisikan kemajuan, selalu dibentuk oleh sistem nilai yang mengitarinya.

Dalam beberapa abad terakhir, dunia hidup di bawah sebuah sistem ekonomi yang menjadikan pertumbuhan sebagai tujuan utama. Keberhasilan diukur dari meningkatnya produksi, konsumsi, laba, dan akumulasi modal. 

Alam dipandang terutama sebagai sumber daya ekonomi. Sedangkan manusia lebih sering ditempatkan sebagai produsen sekaligus konsumen yang harus terus memperbesar permintaan agar roda ekonomi tidak berhenti berputar. Dalam logika semacam itu, keberhasilan bukanlah ketika kebutuhan terpenuhi, melainkan ketika keinginan terus diperluas.

Akibatnya, inovasi teknologi yang seharusnya menjadi sarana untuk menggunakan sumber daya secara lebih bijaksana sering kali justru berubah menjadi instrumen untuk mempercepat eksploitasi. Efisiensi tidak selalu menghasilkan penghematan. 

Sebaliknya, ia sering melahirkan konsumsi baru dalam skala yang lebih besar. Produktivitas yang meningkat justru mendorong produksi yang semakin masif, sementara pertumbuhan ekonomi diperlakukan sebagai tujuan yang tidak boleh berhenti. Planet yang memiliki batas-batas ekologis akhirnya dipaksa melayani hasrat ekonomi yang nyaris tidak mengenal batas.

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Krisis ekologis bukan semata-mata lahir karena terlalu banyak manusia, melainkan karena sistem yang memberi insentif kepada kerakusan. Sistem yang menjadikan konsumsi sebagai identitas, dan menilai keberhasilan dari seberapa besar manusia mampu menguasai serta menghabiskan sumber daya. 

Ketika kerakusan dilembagakan menjadi mekanisme ekonomi, kerusakan lingkungan bukan lagi sebuah penyimpangan, melainkan konsekuensi yang hampir tidak terhindarkan.

Tentu harus diakui bahwa sistem tersebut juga melahirkan banyak pencapaian. Kapitalisme mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan, dan mengangkat jutaan manusia keluar dari kemiskinan. 

Namun keberhasilan itu datang bersama harga yang tidak kecil: ketimpangan yang semakin lebar, budaya konsumsi yang terus dipacu, eksploitasi sumber daya yang semakin intensif, serta tekanan ekologis yang kini dirasakan hampir seluruh penghuni bumi. 

Hingga hari ini, dunia masih belum menemukan sistem alternatif yang secara meyakinkan mampu menghadirkan keseimbangan antara kemakmuran, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan. Peradaban modern seolah mengetahui bahwa sistem yang ada menyimpan banyak persoalan, tetapi juga belum berhasil menyepakati penggantinya.

Barangkali di sinilah letak kekosongan terbesar dalam diskursus keberlanjutan modern. Kita berbicara tentang emisi karbon, ekonomi hijau, energi terbarukan, ekonomi sirkular, konservasi biodiversitas, bahkan kecerdasan buatan dengan sangat rinci. Namun sangat jarang kita bertanya mengenai tujuan akhir kehidupan manusia itu sendiri. Padahal setiap sistem ekonomi pada hakikatnya dibangun di atas sebuah pandangan tentang manusia: siapa manusia, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa ia pada akhirnya bertanggung jawab.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hampir tidak pernah memperoleh tempat dalam bangunan kapitalisme modern. Tuhan tidak pernah benar-benar hadir sebagai pusat orientasi ekonomi. 

Pasar menjadi mekanisme utama pengarah perilaku, keuntungan menjadi ukuran keberhasilan, sementara preferensi individu perlahan menggantikan pertimbangan moral yang bersumber dari nilai-nilai transenden. Ketika dimensi ketuhanan tersingkir dari ruang publik, batas antara kebutuhan dan keserakahan menjadi semakin kabur. Yang legal belum tentu bermoral, dan yang menguntungkan belum tentu membawa kemaslahatan.

Di titik inilah Hari Penduduk Dunia semestinya tidak hanya menjadi momentum untuk menghitung berapa miliar manusia kini menghuni planet ini. Momentum tersebut juga layak menjadi kesempatan untuk meninjau kembali cara kita memahami hubungan antara manusia, bumi, dan sistem nilai yang mengatur keduanya. 

Sebab ketika seluruh persoalan lingkungan direduksi menjadi persoalan jumlah penduduk semata, tanpa disadari kita sedang mengalihkan perhatian dari persoalan yang jauh lebih mendasar.

Bumi tidak sedang kalah oleh banyaknya manusia. Bumi sedang terluka oleh peradaban yang membiarkan keserakahan tumbuh tanpa batas, memuliakan akumulasi tanpa ukuran, dan memisahkan aktivitas ekonomi dari tanggung jawab moral kepada Sang Pencipta. 

Manusia bukan musuh bumi. Yang menjadi ancaman adalah ketika manusia kehilangan orientasi hidupnya—ketika alam tidak lagi dipandang sebagai amanah yang harus dijaga, melainkan sekadar komoditas yang dapat dieksploitasi selama masih menghasilkan keuntungan.

Selama kerakusan tetap menjadi mesin utama peradaban, menambah atau mengurangi jumlah penduduk tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Sebaliknya, ketika manusia kembali menyadari bahwa bumi bukan miliknya, melainkan titipan dari Sang Pencipta yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, maka teknologi, ekonomi, dan pembangunan akan menemukan arah yang berbeda.

Pada akhirnya, persoalan bumi bukanlah persoalan berapa banyak manusia yang hidup di atasnya, melainkan peradaban seperti apa yang mengatur cara manusia hidup. Selama kerakusan tetap dilembagakan menjadi sistem, teknologi secanggih apa pun hanya akan mempercepat kerusakan. Masa depan bumi pada akhirnya ditentukan bukan oleh jumlah manusia, tetapi oleh nilai-nilai yang menjadi dasar peradaban manusia.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Mohammad Kholid Ridwan
Mohammad Kholid Ridwan
Dosen dan Peneliti Senior Universitas Gadjah Mada

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...