Tepatkah Jokowi Memulai Safari Politik dari Lampung?
Jokowi secara resmi memulai safari politiknya sebagai endorser PSI dari Lampung, bukan dari Solo ataupun Jakarta, dua daerah yang selama ini membesarkan namanya. Pilihan Lampung sebagai titik awal safari sulit dibaca sebagai kebetulan, mengingat Jokowi adalah politisi yang fasih berbicara lewat simbol sekaligus cermat membaca langkah strategis.
Kedua keahlian itu (simbol dan strategi politik) kerap ia tunjukkan selama menjabat presiden melalui beragam atraksi simbolik. Salah satu contohnya adalah penempatan Gibran sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo: sebuah sinyal bahwa ada dukungan Jokowi di sana, sekaligus bukti bahwa majunya Gibran merupakan langkah cermat Jokowi dalam kancah politik.
Maka, pertanyaannya: mengapa Lampung yang dipilih sebagai titik awal safari Jokowi dengan seragam PSI-nya?
Setidaknya ada dua alasan yang selama ini menjadi dasar asumsi di balik terpilihnya Lampung. Pertama, Lampung adalah habitat asli gajah. Kedua, besarnya populasi suku Jawa di provinsi tersebut.
Mengingat Jokowi identik dengan permainan simbol, bisa dikatakan Lampung dipilih karena keidentikan PSI dengan “gajah”. Dalam rujukan klasik Murray Edelman, The Symbolic Uses of Politics (1964), politik sebagian besar bekerja lewat simbol dan pertunjukan yang membangkitkan emosi kolektif. Melalui kacamata ini, pendekatan “dramaturgi” politik membaca pemilihan lokasi sebagai penataan panggung yang cermat oleh Jokowi.
Lampung adalah habitat asli gajah, sehingga simbol partai dan simbol lokasi saling menguatkan dan memberi resonansi kepada publik secara luas. Provinsi ini menawarkan makna simbolik yang terlalu sayang untuk diabaikan, yaitu salah satu rumah terakhir gajah Sumatera, dengan Way Kambas sebagai penanda yang sudah lama melekat pada identitas daerah.
Di sisi lain, dalam kongres pertamanya di Solo, PSI di bawah Kaesang Pangarep menanggalkan logo mawar dan menggantinya dengan gajah berkepala merah. Kaesang menautkan pilihan itu pada pepatah Jawa, “gajah alon nanging mantep” yang berartikan gajah bergerak pelan, tetapi setiap langkahnya berdampak besar.
Alasan kedua bertumpu pada demografi. Data BPS 2020 menunjukkan Lampung dihuni banyak orang dari suku Jawa. Sekitar 62% penduduknya merupakan suku Jawa, sehingga secara kesukuan tidak jauh berbeda dari latar Jokowi yang sangat dekat dengan Jawa.
Kedekatan kesukuan maupun kultural sebagai sesama Jawa kerap membuat orang cenderung mendukung tokoh yang dipersepsikan “satu kelompok” (in-group), sebuah kecenderungan yang dalam konteks Indonesia sering muncul lewat politik kesukuan.
Akan tetapi, muncul pertanyaan berikutnya: apakah kedua alasan itu sudah cukup untuk menjadikan Lampung sebagai lokasi yang tepat untuk menjadi titik awal safari Jokowi dengan seragam barunya? Dalam artian lain, apakah Lampung memang basis politik Jokowi, ataukah ia hanya sedang memainkan permainan symbol politik?
Hasil exit poll 2024 Politika Research and Consulting (PRC) justru menunjukkan bahwa Lampung bukanlah basis utama loyalis Jokowi. Sebaran loyalis Jokowi yang paling padat berada di Kalimantan Timur, Bali, dan Kalimantan Tengah, bukan di Lampung.
Dalam catatan temuan PRC, Kalimantan Timur dengan temuan 83,9% basis loyalis Jokowi menjadi Provinsi dengan loyalis terpadat yang dimiliki oleh Jokowi, disusul dengan Bali 82,4%, dan Kalimantan Tengah 81%. Sedangkan Lampung berada diurutan ke-8 dengan dukungan loyalis Jokowi yang banyak dengan besaran 64,9%. Begitupun jika melihat basis PSI di Lampung bukanlah hal yang dominan, ada Bali dan Jakarta yang merupakan tempat di mana PSI mendulang suara pada pemilu 2024.
Pada saat yang sama, perolehan suara PSI di Lampung tergolong kecil, sehingga sulit membayangkan provinsi ini sebagai medan yang secara elektoral paling menjanjikan bagi partai berlambang gajah itu. Jika turun di Lampung dibaca sebagai kalkulasi elektoral yaitu dengan memilih lampung karena di sanalah suara paling mudah dipanen, maka pilihan itu tidak tepat. Baik PSI dan Jokowi sama-sama tidak memiliki basis dan fondasi yang besar, meskipun Lampung Identik dengan Gajah seperti logo PSI disusul dengan banyaknya suku jawa disana.
Data di atas pada akhirnya memperkuat bahwa, mulainya safari politik dari lampung ini lebih kepada sebuah Langkah simbolik untuk mendapatkan atensi dari khalayak umum daripada permainan strategi politik. Hal ini bisa terlihat dari agenda-agenda Jokowi di Lampung.
Salah satunya adalah upacara Begawi Cakak Pepadun untuk pemberian gelar Baginda Pemuka Bangsa, serta aksi ikonik Jokowi yang tidak hanya sekadar “potong kepala kerbau” melainkan juga menginjak kepala kerbau.
Penyembelihan kerbau sebenarnya merupakan bagian dari prosesi upacara, hal ini sebagai penanda status sosial tinggi dalam adat Pepadun Lampung. Namun, di pihak yang lain banyak yang mengisyratkan juga kepala kerbau ini dimiripkan dengan banteng, yang artian lainnya PSI siap menumbangkan PDI-P.
Data exit poll PRC pada akhirnya menunjukkan Lampung bukanlah basis terkuat loyalis Jokowi maupun lumbung suara PSI, meskipun Lampung identik dengan gajah dan mayoritas penduduknya suku jawa. Keunggulannya semata terletak pada kecocokan simbolik antara gajah Lampung dan logo baru PSI.
Karena itu, memulai safari politik dari Lampung lebih tepat dibaca sebagai langkah simbolik untuk merebut atensi publik ketimbang kalkulasi elektoral yang matang. Pada akhirnya, kepiawaian Jokowi bermain simbol memang bisa menyalakan panggung, tetapi memenangkan sebuah partai menuntut sesuatu yang tak bisa digantikan oleh pertunjukan saja.
Mengingat dalam sebuah kemenangan partai politik, tidak hanya unsur figur serta permainan simbol dan atensi publik semata yang menjadi penentuan besar atau kecilnya partai. Ada banyak faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan dari sebuah partai untuk lolos, terutama adalah membangun basis.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
