Investasi Asing dan Utang: Menambah Modal atau Tagihan di Masa Depan?

Deni Friawan
Oleh Deni Friawan
28 Agustus 2026, 06:05
Deni Friawan
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia baru saja merilis Laporan Neraca Transaksi Berjalan (BOP) triwulan II-2026. Surplus perdagangan barang menyusut dari US$8,2 miliar menjadi hanya US$1,3 miliar. Sedangkan defisit pendapatan primer mencapai hampir US$9,7 miliar. 

Akibatnya, defisit transaksi berjalan (CAD) melebar dari US$3,6 miliar (1,0% dari PDB) pada triwulan I-2026 menjadi US$12,5 miliar (3,3%) pada triwulan II-2026. Angkanya jauh di atas rata-rata defisit. 

Meski sebagian pelebaran defisit itu mungkin bersifat sementara, angka-angka tersebut menyingkap persoalan yang lebih struktural. Terutama, dalam posisi keseimbangan eksternal perekonomian Indonesia. 

Negara ini memang membutuhkan investasi yang lebih besar agar bisa tumbuh lebih cepat. Namun, ketika investasi semakin banyak dibiayai dari luar negeri, cara pembiayaan dan kemampuan investasi dalam menghasilkan devisa akan menentukan seberapa besar tagihan eksternal yang harus ditanggung kemudian.

Persoalan ini penting untuk diperhatikan ketika Indonesia semakin mengandalkan penanaman modal asing (FDI) dan leverage Danantara untuk memperbesar kapasitas investasinya.

Pelebaran defisit transaksi berjalan pada triwulan II tentu tidak dapat dikaitkan langsung dengan pembiayaan Danantara. Namun, hal ini mengingatkan bahwa ketika kewajiban eksternal Indonesia semakin besar setiap keputusan investasi yang menambah foreign liabilities perlu dinilai dari kemampuan menghasilkan pendapatan dan devisa di masa depan.

FDI dan Hilirisasi

Kebijakan hilirisasi memberikan contoh pembelajaran yang menarik. OECD (2024) menunjukkan bahwa hilirisasi nikel mendorong ekspor feronikel dan produk olahan dari US$4,5 miliar pada 2019 menjadi US$19,6 miliar pada 2022. Hal ini seiring masuknya investasi asing, terutama dari Tiongkok.

Namun, lembaga itu juga mengingatkan, biaya dan manfaat strategi hilirisasi ini perlu terus dievaluasi. Termasuk, karena insentif fiskal untuk ekstraksi dan pengolahan selama 2016-2022 rata-rata mencapai sekitar 0,4% dari PDB. 

Peringatan itu penting karena nilai ekspor bruto tidak sama dengan kontribusi bersihnya  terhadap ketahanan eksternal. 

FDI membawa pembiayaan dari luar negeri dan dapat meningkatkan kapasitas produksi. Namun, proyek yang dibiayainya juga dapat membutuhkan impor barang modal dan input. 

Setelah beroperasi, sebagian pendapatan yang dihasilkan dapat mengalir kembali ke investor asing dalam bentuk laba dan pendapatan investasi yang akan tercatat dalam neraca primer BOP. 

Karena itu, hilirisasi seharusnya tidak dinilai dari nilai investasi atau ekspornya saja. Namun dari kontribusi devisa bersihnya, yaitu berapa besar devisa yang dihasilkan setelah memperhitungkan input yang diimpor, pembayaran bunga, imbal hasil investasi, dan kewajiban eksternal lain sepanjang siklus investasi tersebut.  

Hal yang sama juga berlaku untuk FDI pada proyek-proyek lainnya. Studi World Bank (2024) menemukan FDI di Indonesia umumnya masih lebih banyak bersifat domestic market-seeking daripada efficiency-seeking. 

Akibatnya, dalam struktur FDI yang masih banyak berorientasi pada pasar domestik, peningkatan investasi tidak selalu diikuti peningkatan ekspor dalam proporsi yang sama.

Ini bukan berarti pelebaran CAD, termasuk defisit pendapatan primer, disebabkan oleh hilirisasi, apalagi FDI. Tanpa keduanya, posisi eksternal Indonesia mungkin justru akan lebih lemah. Lebih lanjut, FDI yang berorientasi domestik pun tetap dapat meningkatkan produksi, lapangan kerja, produktivitas, dan penerimaan negara.

Meski demikian, hal itu memberikan pelajaran bahwa masuknya investasi asing dan ekspor yang terlihat meningkat sangat besar, tidak otomatis meningkatkan kapasitas pendapatan devisa bersih (net foreign-exchange earning capacity) dan pendapatan nasional (national income) yang akhirnya tertahan di dalam negeri dengan proporsi yang sama. 

Risiko Leverage

Pelajaran tersebut membuat strategi pembiayaan menggunakan utang dari luar negeri yang dilakukan Danantara untuk memperbesar kapasitas investasinya perlu dilihat dengan lebih saksama. 

Tahun lalu, Danantara memperoleh fasilitas kredit sindikasi senilai US$10 miliar dari konsorsium bank-bank regional dan global. Pada Juni 2026, institusi ini juga berhasil menerbitkan obligasi dolar perdana senilai US$1,5 miliar dengan yield sekitar 5,35% untuk tenor 5 tahun dan 5,95% untuk tenor 10 tahun. 

Penggunaan leverage seperti ini tidak dengan sendirinya bermasalah. Utang malah dapat menjadi instrumen yang efisien jika membiayai aset yang produktif dan menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi daripada biaya pendananya.

Namun, dari perspektif neraca pembayaran, utang luar negeri berbeda dari FDI. Di sini, masalahnya bukan sekadar berapa besar utang tersebut, tetapi untuk apa digunakan dan dari mana arus kas untuk membayarnya nanti berasal.

Dalam proyek hilirisasi, investor asing yang menanamkan modal ikut menanggung risiko, dan proyek tersebut umumnya menghasilkan barang yang dapat diekspor. Jika proyek merugi, laba dan pembayaran dividen kepada investor ikut turun.

Sebaliknya, utang menciptakan kewajiban pembayaran yang lebih pasti. Bunga tetap harus dibayar, dan pokok utang harus dilunasi atau dibiayai kembali, terlepas dari seberapa besar pendapatan yang dihasilkan oleh proyek tersebut.

Risiko semakin meningkat ketika utang dolar digunakan untuk membiayai proyek berpendapatan rupiah. IMF (2015) menunjukkan bahwa eksportir memiliki natural hedge karena penerimaan dolar membantu menutup utang valas, sementara non-eksportir lebih rentan terhadap pelemahan mata uang.

Struktur risiko ini perlu diperhatikan Danantara. Jika utang dolar membiayai proyek penghasil devisa, risikonya lebih terkelola. Sebaliknya, proyek berpendapatan rupiah akan bergantung pada devisa dari sektor lain untuk membayar bunga dan pokok utang.

Meski tidak selalu langsung menekan devisa saat ditarik, utang luar negeri menciptakan kewajiban devisa di masa depan yang pada akhirnya harus ditopang oleh devisa dari sektor tradable.

Batas Eksternal

Karena itu, persoalan ini tidak dapat dipandang hanya sebagai masalah corporate finance Danantara. Setiap kewajiban luar negeri (foreign liability) pada akhirnya menciptakan klaim terhadap pendapatan yang dihasilkan perekonomian, dan sebagian klaim tersebut memerlukan pembayaran dalam valuta asing. FDI melalui repatriasi laba, sedangkan utang melalui pembayaran bunga dan pokok. 

Keduanya tetap layak selama kapasitas produktif dan devisa yang dihasilkan mampu menutup kewajiban tersebut. Karena itu, FDI dan leverage Danantara perlu dinilai berdasarkan produktivitas, imbal hasil, serta tambahan kapasitas eksternal yang diciptakannya.

Investasi dan leverage Danantara memerlukan beberapa disiplin: kewajiban valas perlu diseimbangkan dengan pendapatan atau natural hedge yang memadai. Imbal hasil harus mampu menutup biaya modal dan risiko, proyek perlu meningkatkan produktivitas, ekspor, teknologi, atau keterkaitan domestik, dan seluruh struktur kewajibannya harus transparan.

Pada akhirnya, Indonesia memang membutuhkan modal yang besar untuk mengejar pertumbuhan. Tapi, pertanyaan yang penting dari itu bukan berapa banyak modal yang dapat ditarik. Melainkan, apakah modal tersebut meningkatkan kapasitas untuk menghasilkan pendapatan dan devisa yang lebih cepat daripada meningkatnya klaim asing atas pendapatannya di masa depan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Deni Friawan
Deni Friawan
Peneliti Departemen Ekonomi CSIS-Indonesia

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...