Jebakan Politisasi “Semiotika Nuklir”

Ridho Pratama Satria
Oleh Ridho Pratama Satria
6 Oktober 2026, 07:05
Ridho Pratama Satria
Katadata/Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Dalam kontes politik, bukan rahasia lagi jika pesertanya rela melakukan segala cara agar bisa menang. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah penerapan konsep “semiotika nuklir”. 

Konsep ini mungkin terdengar asing. Namun, konsep ini sudah ditemukan selama puluhan tahun yang lalu dan sudah diaplikasikan di ranah politik secara senyap dan penuh perhitungan.

Semiotika Nuklir 

Semiotika nuklir merupakan konsep yang dirancang untuk menandai suatu hal yang sifatnya sangat berbahaya bagi manusia, terutama hal-hal yang berhubungan dengan nuklir. Konsep ini diciptakan karena nuklir merupakan konsep kompleks dan rumit untuk dimengerti orang-orang awam. 

Dengan demikian, banyak orang yang tidak mengerti hal-hal yang berhubungan dengan nuklir yang sifatnya berbahaya, seperti bahaya radiasi nuklir hingga material radioaktif nuklir itu sendiri. 

Salah satu simbol semiotika nuklir yang paling terkenal adalah, simbol trefoil peringatan radiasi. Simbol ini berbentuk lingkaran besar dengan warna latar belakang kuning. Di tengah lingkaran besar ada lingkaran kecil berwarna hitam yang dikelilingi oleh tiga baling-balik berwarna hitam.

 

 Sumber gambar: IAEA.org

Simbol ini dibuat agar orang-orang awam bisa tahu jika simbol ini merupakan peringatan yang menandakan sesuatu yang berbahaya, sehingga mereka menjauhi tempat simbol ini ditemukan. Simbolnya pun dibuat mencolok agar makna simbolnya bisa diingat dan disebarkan terus-menerus untuk kerangka waktu yang panjang (Mazzucchelli & Paglianti, 2022). 

Politisasi Semiotika Nuklir Pasca-Serangan 11 September

Politisasi semiotika nuklir yang paling jelas mungkin adalah pasca-serangan kelompok teroris Al-Qaeda di Amerika Serikat pada 11 September 2001. Pasca 9/11, muncul pandangan di masyarakat Amerika Serikat yang melabeli orang-orang muslim sebagai orang-orang yang berbahaya. 

Akibatnya, orang-orang muslim mulai mendapatkan ancaman. Para perempuan yang mengenakan jilbab mendapat beberapa gangguan hingga diskriminasi saat mereka untuk mengakses fasilitas kesehatan (Lajevardi et al., 2024). Masjid, yang merupakan tempat ibadah umat muslim, juga mendapatkan gangguan dalam bentuk vandalisme. Bahkan, aksi aksi-aksi perusakan terhadap masjid pun juga terjadi (The Atlantic, 18 Agustus 2026). 

Kita Melawan Mereka

Politisasi semiotika nuklir pasca 9/11 juga melahirkan retorika anti-muslim selama bertahun-tahun. Retorika ini secara tidak langsung memperlihatkan adanya konstruksi kelompok “kita melawan mereka” .

Konstruksi kelompok ini dibuat sedemikian rupa demi memunculkan gambaran, mereka adalah kelompok yang berbahaya, dan kita harus menghindari mereka. Konstruksi inilah yang diaplikasikan oknum-oknum politikus ketika mereka berkontestasi. Lawan politik dan kelompoknya akan dilabeli sebagai orang-orang berbahaya lewat narasi-narasi negatif yang tidak bertanggung jawab.   

Lewat aksi labelisasi, masyarakat akan merasa takut dengan label yang ada dan narasi ketakutan yang diedarkan. Pada saat rasa takut sudah muncul, saat itulah masyarakat akan menghindari lawan politik yang telah dicap berbahaya. Perlahan, lawan politik yang ditargetkan akan mengalami penurunan elektabilitas hingga kalah dalam kontestasi politik. 

Efek yang Mengerikan

Mau diakui atau tidak, penggunaan tanda dan simbol semiotika nuklir secara tidak langsung membuat orang-orang takut. Seperti simbol trefoil yang awalnya dibuat agar orang-orang menjauh dari lokasi tersebut. Lama-kelamaan, orang-orang jadi  tahu jika makna simbol trefoil menandakan sesuatu yang berbahaya, sehingga orang-orang menjadi takut apabila mereka melihat simbol tersebut. 

Maka dari itu, di saat konsep semiotika nuklir dipolitisasikan, ada rasa takut yang sengaja untuk dibangun dan disebarkan di masyarakat lewat narasi-narasi negatif yang tidak bertanggung jawab. Narasi-narasi yang dikembangkan sering didasari tanpa data dan fakta yang kredibel. 

Seperti contohnya narasi seorang lawan politik yang berasal dari kelompok berbahaya. Apabila sang lawan politik memenangkan kontestasi politik, maka sang lawan politik akan membawa ideologi-ideologi berbahaya dari kelompoknya ke tengah-tengah masyarakat. 

Penyebaran narasi tanpa data dan fakta bisa menyebabkan tiga hal secara sistematis. Fitnah, perundungan, hingga pengucilan. 

Fitnah sangat merugikan pihak yang ditargetkan karena ia menjadi obyek dari narasi negatif yang diedarkan. Nama hingga reputasi seseorang bisa menjadi buruk di mata masyarakat, hingga terjadilah perundungan. 

Masyarakat yang termakan narasi negatif yang beredar akan memberikan berbagai macam reaksi termasuk perundungan. Aksi perundungan bisa sebatas verbal seperti ejekan dan hinaan. Namun aksi perundungan verbal bisa berkembang menjadi perundungan fisik seperti mendorong, memukul, hingga melukai. Akibatnya, korban perundungan akan dikucilkan dari masyarakat di sekitarnya. 

Dampak paling buruk politisasi semiotika nuklir adalah, munculnya bibit-bibit disintegrasi nasional. Hal ini didasari adanya perpecahan di tengah masyarakat karena anggapan seseorang dan kelompok yang berbahaya. Perpecahan bisa berbentuk gangguan terhadap hubungan antarwarga hingga hambatan kerjasama antara kelompok masyarakat (Petrus & Siagian, 2026). Jika perpecahan ini terjadi di berbagai tempat di Indonesia, maka ancaman disintegrasi bisa benar-benar terjadi.

Oleh karena itu, kita harus waspada apabila ada oknum-oknum tertentu yang berani melabeli berbahaya kepada seseorang atau suatu kelompok tertentu, apalagi kalau label ini muncul dalam rentang waktu kontestasi politik sedang berlangsung. Jangan sampai, kita jatuh dalam jebakan politisasi semiotika nuklir ini demi mencegah konflik-konflik yang merugikan persatuan negara kita.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Ridho Pratama Satria
Ridho Pratama Satria
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...