Inflasi Sebelum Harga Naik
Ibu Sri, seorang pemilik rumah makan, resah mendengar harga minyak goreng, daging ayam, telur, dan bahan makanan akan naik bulan depan. Dia dihadapkan pada dilema hari ini: menambah persediaan, mengurangi margin, atau mulai menyesuaikan harga.
Tidak satu pun keputusan itu tercatat sebagai inflasi sampai harga benar-benar berubah. Namun, proses pembentukan inflasi sebenarnya sudah dimulai di dalam ekspektasi orang-orang yang menentukan harga.
Itulah sisi menarik dari Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia terbaru. Inflasi Indonesia pada September 2026 masih berada dalam sasaran yaitu 3,28% secara tahunan.
Di sisi lain, hasil SPE terkini menunjukkan pedagang mulai memperkirakan tekanan harga beberapa bulan ke depan meningkat. Indeks Ekspektasi Harga Umum untuk November naik dari 146,5 menjadi 149,9, sedangkan indeks Ekspektasi Harga Umum untuk Februari 2027 naik lebih tajam menjadi 177,9 dari sebelumnya 166,0.
Angka tersebut tentu bukan berarti inflasi pasti naik di masa depan. Namun angka tersebut mengingatkan bahwa sebelum menjadi statistik, tekanan harga mulai terlihat dalam perkiraan dan keputusan pelaku ekonomi hari ini.
Harga Hari Ini, Keputusan tentang Besok
Ekspektasi penting karena pelaku usaha menentukan harga dan juga mempertimbangkan biaya yang akan datang. Pedagang yang memperkirakan harga grosir naik bisa membeli stok lebih awal. Distributor dapat memperpendek tempo pembayaran. Produsen mungkin mengamankan bahan baku sebelum menjadi lebih mahal. Pekerja yang memperkirakan biaya hidup meningkat dapat meminta kenaikan upah lebih besar.
Masalah muncul ketika banyak pelaku ekonomi melakukan penyesuaian yang sama secara bersamaan. Perkiraan harga yang lebih tinggi dapat mulai memengaruhi keputusan hari ini, lalu keputusan tersebut ikut mendorong harga yang semula hanya diperkirakan naik. Inilah mengapa bank sentral juga harus memperhatikan ekspektasi inflasi.
Namun, angka tersebut perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Indeks ekspektasi harga dari SPE hanya merekam pandangan pedagang. Kenaikannya juga dapat mencerminkan pola musiman. Misalnya, ekspektasi Februari dapat dipengaruhi persiapan menjelang Ramadan dan Idulfitri. Jadi, peningkatan indeks bukan alarm bahwa inflasi tinggi pasti terjadi.
Di situlah ada pertanyaan yang lebih menarik untuk dibahas: kapan ekspektasi hanya membaca musim, dan kapan ia mulai ikut membentuk harga? Yang perlu dibedakan adalah apakah kenaikannya meluas, bertahan, dan menimbulkan efek putaran kedua.
Ekspektasi yang naik menjelang hari besar mungkin hanya membaca musim. Namun jika kenaikannya bertahan setelah faktor musiman berlalu, dan dapat mempengaruhi penetapan upah, margin usaha, bahkan tekanan harga yang persisten, maka ekspektasi tersebut dapat mendorong terjadinya inflasi.
Ketika Ekspektasi Menjadi Kenyataan
Kembali ke kisah Ibu Sri tadi. Jika hanya satu pemasok memperkirakan harga naik, dampaknya mungkin kecil. Tetapi bila banyak produsen, distributor, pedagang, pekerja, dan konsumen yang sama-sama percaya biaya akan terus meningkat, ekonomi dapat memasuki babak berbeda.
Produsen menaikkan harga untuk mengantisipasi bahan baku. Pekerja meminta kompensasi untuk biaya hidup. Perusahaan kembali menaikkan harga untuk menutup biaya tenaga kerja. Konsumen mempercepat pembelian sebelum barang menjadi lebih mahal.
Ketika perilaku itu terjadi secara luas, ekspektasi dapat berubah menjadi tekanan harga nyata. Pembelian yang dipercepat mendorong kenaikan permintaan, sementara kenaikan upah dan biaya input mendorong produsen menaikkan harga. Ekspektasi tidak lagi mengikuti inflasi, tetapi ikut memperkuatnya.
Bank Indonesia saat ini menargetkan inflasi 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027. BI juga mempertahankan BI Rate pada 5,75% pada September, antara lain untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran di tengah tekanan eksternal.
Namun menjaga ekspektasi tidak identik dengan selalu menaikkan suku bunga. Yang lebih penting adalah apakah kebijakan yang diambil cukup kredibel untuk meyakinkan masyarakat bahwa guncangan harga tidak berkembang menjadi inflasi.
Jika tekanan harga berasal dari cabai yang gagal panen, distribusi yang terganggu, atau cuaca, suku bunga tidak dapat menghasilkan pasokan cabai atau memperbaiki jalan. Oleh karena itu, BI dapat bekerja sama dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID untuk mengendalikan inflasi pangan dan mengantisipasi gangguan cuaca.
Peran kebijakan moneter yang lebih luas: memastikan masyarakat dan pelaku usaha tetap percaya bahwa guncangan harga hanya sementara dan tidak menjadi inflasi yang tinggi.
Komunikasi Juga Kebijakan
Di sinilah aspek yang sering diabaikan. Saat bank sentral mengatakan inflasi diperkirakan berada dalam sasaran, jika pernyataan itu dapat dipercaya maka pesan komunikasi itu dapat memengaruhi perilaku. Namun komunikasi bukan mantra sihir. Pesan bank sentral akan efektif jika publik melihat konsistensi antara pesan, keputusan, dan perkembangan harga yang mereka alami.
Ibu Sri mungkin tidak buru-buru menaikkan harga. Pekerja tidak otomatis memasukkan faktor inflasi tinggi ke tuntutan kenaikan upah. Perusahaan dapat menghindari penyesuaian harga yang terlalu agresif.
Sebaliknya, jika masyarakat meragukan kemampuan kebijakan menjaga stabilitas, biaya pengendalian inflasi dapat menjadi lebih mahal. Bank sentral mungkin harus menggunakan instrumen lebih kuat untuk meyakinkan pasar bahwa harga tetap terkendali.
Keberhasilan menjaga inflasi tidak hanya terlihat ketika angka BPS sudah keluar. Keberhasilan itu juga tercermin pada seberapa jauh masyarakat percaya bahwa kenaikan harga hari ini tidak akan menjadi kebiasaan besok.
Inflasi September sebesar 3,28% masih berada dalam rentang sasaran. Angka itu memberi alasan untuk tetap tenang. Walau demikian, hal ini bukan alasan untuk berhenti memperhatikan sinyal yang datang.
Ketika Ibu Sri menaikkan harga, prosesnya mungkin telah dimulai berminggu-minggu sebelumnya di gudang produsen, pasar grosir, dan pikiran banyak orang yang memutuskan harga besok akan lebih mahal. Artinya, tantangan kebijakan yang harus diselesaikan bukan hanya menurunkan inflasi, tetapi juga menjaga agar kekhawatiran tentang harga esok tidak menciptakan inflasi hari ini.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.
